UNNES

Universitas Negeri Semarang(Unnes) adalah universitas konservasi. Konservasi memang telah menjadi visi kami. Lengkapnya, universitas konservasi bertaraf internasional yang sehat, unggul, dan sejahtera

TIK

hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dan proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain sehingga lebih cepat, lebih luas sebarannya, dan lebih lama penyimpanannya.

BIMBINGAN DAN KONSELING

Proses interaksi antara konselor dengan klien/konselee baik secara langsung (tatap muka) atau tidak langsung (melalui media : internet, atau telepon) dalam rangka mem-bantu klien agar dapat mengembangkan potensi dirinya atau memecahkan masalah yang dialaminya

PENDIDIKAN

pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.

KONSERVASI

suatu usaha pengelolaan yang dilakukan oleh manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam sehingga dapat menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya secara berkelanjutan untuk generasi manusia saat ini, serta tetap memelihara potensinya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi generasi generasi yang akan datang.

Kamis, 03 Desember 2015

TRAIT AND FACTOR COUNSELING

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Latar Belakang Trait andf Factor Counseling
Asal-usul teori trait-and-factor dapat ditelusuri ke masa Frank Parsons. Teori tersebut menegaskan bahwa karakter klienlah yang harus pertama kali dinilai, dan kemudian dicocokkan secara sistematis dengan faktor-faktor yang terlibat di dalam berbagai jabatan. Pengaruh teori ini terbesar sangat luas pada masa Depresi Besar, ketika E. G. Williamson (1993) mempelopori penggunaannya. Pada tahun 1950-an dan 1960-an teori tersebut mulai ditinggalkan, tetapi muncul kembali dalam bentuk yang lebih modern, yang dapat dikarakteristikkan sebagai “struktural” dan tercemin dalam hasil kerja para peneliti seperti John Holland, (1997). Teori ini selalu menegaskan keunikan setiap orang. Penganjur teori ini berpendapat bahwa kemampuan dan karakter seseorang harus diukur secara objektif dan kuantitatif. Motivasi pribadi dianggap relatif stabil. Jadi, kepuasan dalam jabatan tertentu bergantung pada kecocokan antara kemampuan seseorang dengan persyaratan suatu pekerjaan.
 Trait and factor counseling dapat dideskripsikan dengan mengatakan: corak konseling yang menekankan pemahaman individu melalui testing psikologis dan penerapan pemahaman itu dalam memecahkan beraneka problem yang dihadapi,terutama yang menyangkut pilihan program studi/atau bidang pekerjaan.Pelopor pengembangan corak konseling ini yang paling terkenal ialah E.G.Williamson, corak konseling ini juga dikenal dengan directive counseling atau Counseling-Centered Counseling , karena konselor secara sadar mengadakan strukturalisasi dalam proses konseling dan berusaha mempengaruhi arah perkembangan konseli demi kebaikan konseling sendiri.Corak konseling ini menilai tinggi kemampuan manusia untuk berpikir rasional dan memandang masalah konseli sebagaiproblem yang harus dipecahkan dengan menggunakan kemampuan itu (problem-solving approach).Dalam segi teoritis dan dalam segi pendekatannya,corak konseling ini bersumber pada gerakan bimbingan jabatan, sebagaimana dikembangkan di Amerika Serikat  sejak awal abad yang ke-20.
Dalam bukunya yang berjudul Vocation Counseling (1965) Williamson menguraikan sejarah perkembangan bimbingan jabatan dan proses lahirnya konseling jabatan yang berpegang pada teori Trait-Factor.Pada akhir abad yang ke-19 Frank Parsons mulai mencari suatu cara untuk membantu orang-orang muda dalam memlih suatu bidang pekerjaan yang sesuai dengan potensi mereka, sehingga dapat cukup berhasil di bidang pekerjaan itu.Dalam bukunya Choosing a Vocation (1909),Frank Parsons menunjukkan tiga langkah yang harus diikuti dalam memiliih suatu pekerjaan yang sesuai,yaitu:pertama,pemahaman diri yang jelas mengenai kemampuan otak,bakat,minat,berbagai kelebihan dan kelemahan,serta ciri-ciri yang lain.Kedua,pengetahuan tentang keseluruhan persyaratan yang harus dipenuhi supaya dapat mencapai sukses dalam berbagai bidang pekerjaan,serta tentang balas jasa dan kesempatan untuk maju dalam semua bidang pekerjaan itu.Ketiga, berpikir secara rasional mengenai hubungan antara kedua kelompok diatas.Jadi,langkah pertama menggunakan analisis diri;langkah yang kedua memanfaatkan informasi jabatan (vocational information);langkah yang ketiga menerapkan kemampuan untuk berpikir rasional guna menemukan kecocokan antara ciri-ciri kepribadian, yang mempunyai relevansi terhadap kesuksesan atau kegagalan suatu pekerjaan / jabatan,dengan tuntutan klasifikasi dan kesempatan yang terkandung dalam suatu pekerjaan atau jabatan.Dengan demikian, orang muda bukannya mencari pekerjaan demi asal punya pekerjaan (the hunt of a vocation).Namun prosedur yang digunakan oleh Frank Parsons untuk menemukan fakta dalam rangka langkah kerja yang pertama dan yang kedua ternyata tidak seluruhnya dapat dipertanggungjawabkan dari segi analisis psikologi dan sosial secar ilmiah.Tekanan pada studi psikologi terhadap masing-masing orang dalam suatu klinik psikologis,dengan menggunakan alat-alat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,menjadi ciri khas dari aliran konseling yang kemudian disebut Konseling Klinikal .Corak konseling yang berpegang pada teori Trait-Factor  berkembang dalam rangka konsepsi aliran Konseling Klinikal.Oleh karena itu,pendekatan konseling Trait-Factor dalam beberapa buku dinamakan Konseling Klinikal.
Alat yang digunakan untuk mempelajari keadaan seseorang sehingga menghasilkan suatu analisis bagi masing-masing pribadi,adalah tes-tes psikologis yang mula-mula digunakan pelh para ahli psikologi industri dalam rangka seleksi aplikam umtuk bidang-bidang pekerjaan tertentu.Berdasarkan identifikasi berbagai kemmapuan yang dimiliki atau tidak dimiliki seseorang setelah dites,dan bedasarkan penelitian terhadap tuntutan pekerjaan di lapangan untuk mengetahui kemampuan mana yang harus dimilki seseorang supaya berhasil dalam suatu jenis pekerjaan tertentu, ahli-ahli psikologi industri itu menyusun tabel-tabel prakiraan sukses atau gagalnya seorang aplikan dalam jenis pekerjaan tertentu.Cara berfikir yang demikian mulai diikuti juga oleh konselor jabatan,dengan menekankan penggunaan tes-tes psikologis sebagai alat untuk mengidentifikasi ciri-ciri kepribadian seseorang yang mempunyai relevansi terhadap suatu jabatan atau pekerjaan.Dalam hal ini aliran konseling jabatan berpegang pada teori kepribadian ynag dikenal dengan nama teori Trait-factor.Yang dimaksud dengan Trait adalah suatu ciri yang khas bagi seseorang dalam berfikir,berperasaan,dan berperilaku,seperti intelegensi(berpikir),iba hati(berperasaan),dan agresif(berperilaku).Ciri-ciri itu dianggap sebagai suatu dimensi kepribadian, yang masing-masing membentuk suatu kontinium atau skala yang terentang dari sangat tinggi sampai sangat rendah.
Ciri-ciri dasar yang ditemukan oleh ahli disebut factors,misalnya Cattell berpendapat telah menemukan 16 faktor,yang merupakan ciri-ciri dasar yang dapat mendeskripsikan kepribadian seseorang secara memadai.Teori Trait –Factor  adalah pandangan yang mengatakan bahwa kepribadian seseorang dapat dilukiskan dengan mengidentifikasikan sejumlah ciri,sejauh tampak dari hasil testing psikologis yang mengukur masing-masing dimensi kepribadian itu.Konseling Trait-Factor berpegang pada pandangan yang sama dan menggunakan tes-tes psikologis untuk menganalisis atau mendiagmatis seseorang mengenai ciri-ciri atau dmensi/aspek kepribadian tertentu,yang diketahui mempunyai relevansi terhadap keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam memangku jabatan dan mengikuti suatu program studi.Dalam hal ini program studi di instutusi pendidikan juga dipandang sebagai “jabatan”,sehingga akan diikuti prosedur yang sama terhadap pilihan bidang pekerjaan dan bidang studi.Dengan demikian,aliran konseling jabatan telah memperluas diri menjadi Konseling Jabatan-Akademik,yang dewasa ini sering disebut Konseling Karier.

2.2 Pengembang Utama Trait and Factor

2.3 Konsep Dasar Pendekatan
Williamson merumuskan pula sejumlah asumsi yang mendasari Trait-Factor Counseling dalam suatu karangan yang dimuat dalam Theories of Counseling (Stefflre, 1965, Bab V), sebagai berikut:
a.    Setiap individu mempunyai sejumlah kemampuan dan potensi, seperti taraf intelegensi umum, bakat khusus, taraf kreativitas, wujud minat serta keterampilan, yang bersama-sama membentuk suatu pola yang khas untuk individu ini. Kemampuan dan variasi potensi itu merupakan ciri-ciri kepribadian (traits), yang telah agak stabil sesudah masa remaja lewat dan dapat diidentifikasikan melalui tes-tes psikologis. Data hasil testing memberikan gambaran deskriptif tentang individualitas seseorang yang lebih dapat diandalkan daripada hasil instropeksi atau refleksi terhadap diri sendiri.
b.    Pola kemampuan dan potensi yang tampak pada seseorang menunjukkan hubungan yang berlain-lainan dengan kemampuan dan keterampilan yang dituntut pada seorang pekerja di berbagai bidang pekerjaan. Juga wujud minat yang dimiliki seseorang menunjukkan hubungan yang berlain-lainan dengan pola minat yang ditemukan pada orang berkarier di berbagai bidang pekerjaan. Dengan demikian, dibutuhkan informasi jabatan (vocational information), yang tidak hanya endeskripsikan tugas-tugas yang dilakukan, tetapi menggambarkan pula pola kualifikasi dalam kepribadian pekerja, yang harus dipenuhi supaya mencapai sukses dalam suatu bidang pekerjaan. Informasi jabatan yang terandalkan hanya dapat diperoleh melalui aneka usaha penelitian ilmiah, bukan berdasarkan kesan pribadi dari calon pekerja atau dari pekerja yang sudah bertugas. Justru analisis jabatan (job analysis) dalam bentuk identifikasi kualifikasi yang dituntut (human capacities) memungkinkan penemuan hubungan yang berarti dengan kemampuan, minat, dan ketrampilan yang diidentifikasikan pada seorang calon pekerja melalui testing psikologis. Sejumlah kualifikasi yang diketahui berdasarkan penelitian ilmiah itu justru menjadi norma objektif yang dapat digunakan sebagai patokan untuk meramalkan, apakah seorang calon pekerja dapat berhasil baik atau tidak. Ini semua memberikan dasar pada langkah ketiga menurut model Parsons dan tidak hanya tinggal kesan subjektif tentang kecocokan seseorang bagi bidang pekerjaan tertentu.
c.    Sesuai dengan pola berpikir pada butir (b), kurikulum suatu program studi menuntut sejumlah kualifikasi tertentu. Calon (maha) siswa akan belajar dengan lebih mudah dan dengan hasil yang lebih memuaskan, kalau pola kemampuan dan minatnya sesuai dengan pola kualifikasi tertentu yang dituntut dari seorang (maha) siswa yang mengikuti program studi tertentu. Dengan demikian informasi pendidikan (educational information) yang dibutuhkan bukan hanya mendeskripsikan isi dari suatu program studi, tetapi juga menggambarkan pola kualifikasi (human capacities) yang dituntut. Informasi ini harus bersifat objektif berdasarkan hasil penelitian, dan tidak boleh tinggal informasi yang berupa kesan sebjektif dari orang-perorang atau beberapa orang saja. Diagnosis terhadap pola kemampuan dan minat yang dimiliki seseorang harus mendahului penerimaan dan penempatan dalam program studi tertentu. Diagnosis atau analisis psikologis ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan aneka alat tes yang terandalakan. Penentuan kecocokan atau ketidakcocokan antara data tentang tuntutan program studi dan data tentang individu, lebih dapat diandalkan daripada hanya prakiraan kecocokan atas dasar pandangan pribadi tentang diri sendiri dan sekadar kesan tentang tuntutan program studi. Setiap individu mampu, berkeinginan, dan berkecenderungan untuk mengenal diri sendiri serta memanfaatkan pemahaman diri itu dengan berpikir baik-baik, sehingga dia akan menggunakan keseluruhan kemampuannya semaksimal mungkin dan demikian mengatur kehidupannya sendiri secara memuaskan.

2.4 Asumsi Tingkah Laku Sehat dan Bermasalah
a.       Asumsi perilaku sehat
Apabila klein dapat mengembangkan berbagai aspek kehidupannya seperti pemahaman dan pengelolaan diri dengan mengenali kelebihan dan kelemahan dirinya serta mampu memperbaiki kelemahannya sehingga integritas kepribadian tercapai.
Pribadi sehat menurut (Fauzan, Lutfi dan Suliono 1991 / 1992 Konseling Individu Trait and Factor DEPDIKBUD Malang) :
  • Mampu berfikir rasional untuk memecahkan masalah secara bijaksana
  • Memahami kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri
  • Mampu mengembangkan segala potensi secara penuh
  • Memiliki motivasi untuk meningkatkan/ menyempurnakan diri
  • Dapat menyesuaikan diri di masyarakat

b.      Asumsi perilaku bermasalah
Apabila klien tidak mampu mampu memahami dan mengelola diri tentang berbagai kelebihan dan kekurangannya.
Asumsi perilaku bermasalah / malasuai adalah individu yang tidak mampu memahami kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya sehingga individu tersebut tidak dapat mengaktualisasikan dirinya secara optimal. (Gudnanto. 2012. FKIP UMK). Pribadi malasuai menurut kategori Bordin (Fauzan, Lutfi.2004. 83):
  • Depcelence (ketergantungan)
  • Lach of information (kurang informasi)
  • Self conflict (konflik diri)
  • Chose anxicty (cemas memilih)
  • No Problem (bukan permasalah selain diatas)
Kategori Pepinsky
  • Lack of assurance (kurang percaya diri)
  • Lack of skill (kurang keterampilan)
  • Depcelence (ketergantungan)
  • Lach of information (kurang informasi)
  • Self conflict (konflik diri)
  • Chose anxicty (cemas memilih)

2.5 Hakikat dan Tujuan Konseling
2.5.1 Hakikat Konseling
a.    Konseling  merupakan suatu proses belajar yang menekankan hubungan rasional antara klien dan konselor
b.    Konseling merupakan hubungan yang bersifat pribadi antara konselor dan klien yang ditujukan untuk membantu klien memahami diri, menerima diri, mengarahkan diri, dan mengaktualisasikan diri
c.    Konseling diupayakan sebagai mana pendidkan membantu klien mengembangkandirinya sesuai dengan nilai – nilai pribadi dan nilai- nilai masyarakat.
d.   Konsep konseling lebih luas dari pada konsep psikoterapi.



2.5.2 Tujuan Konseling
Tujuan Konseling Trait and Factor adalah :
a.         Membantu klien agar merasa lebih baik dengan menerima pandangan dirinya sendiri dan membantu klien berpikir lebih jernih dalam menghadapi masalah dan mengontrol perkembangannya secara rasional.
b.        Memperkuat keseimbangan antara pengaktifan dan pemahaman sifat-sifat sehingga dapat bereaksi dengan stabil dan wajar.
c.         Membantu individu mencapai perkembangan kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia.
d.        Membantu individu dalam memperoleh kemajuan memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelemahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujuan-tujuan hidup dan karir.
e.         Membantu individu untuk memperbaiki kekurangan, ketidakmampuan, dan keterbatasan diri serta membantu pertumbuhan dan integrasi kepribadian
Tujuan lainnya yaitu membantu individu tumbuh kearah perkembangan yang optimal dalam segala aspek kepribadian.
a.    Self clrafication (kejelasandiri)
b.    Self anderstanding ( pemahamandiri )
c.    Self direction ( pengarahandiri )
d.   Self actualization ( perwujudandiri )
Dari sumber lain menyebutkan, konseling trait and factor bertujuan: (1) membantu individu mencapai perkembangan kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia; (2) membantu individu dalam memperoleh kemajuan memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelemahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujuan-tujuan hidup dan karir; (3) membantu individu untuk memperbaiki kekurangan, tidakmampuan, dan keterbatasan diri serta membantu pertumbuhan dan integrasi kepribadian; dan (4) mengubah sifat-sifat subyektif dan kesalahan dalam penilaian diri dengan mengggunakan metode ilmiah.

2.6 Peran dan Fungsi Konselor

Peran konselor adalah memberitahukan, memberikan informasi, mengarahkan, oleh karena itu, pendekatan ini di sebut directive education conseling
a.       Sebagai guru
b.      Sebagai motivator
c.       Sebagai model
d.      Sebagai evaluator
Peranan yang dapat dan seharusnya dilakukan oleh seorang konselor Trait and Factor (Surya, Mohamad. 2003 : 5) adalah sebagai berikut :
1.      Konselor memberitahu kepada klien tentang berbagai kemampuan yang diperoleh melalui penyelenggaraan testing psikologis, angket dan alat ukur lainnya.
2.      Konselor memberitahukan tentang bidang-bidang yang cocok sesuai dengan kemampuan serta karakteristiknya.
3.      Konselor secara aktif mempengaruhi perkembangan klien.
4.      Konselor membantu klien mencari atau menemukan sebab-sebab kesulitan atau gangguannya dengan diagnosis eksternal.
5.      Secara esensial peranan konselor adalah seperti guru, dimana “memberi informasi” dan “mengarahkan secara efektif”.
2.7 Tahap-Tahap Konseling
            Adapun tahap-tahap konseling trait and factor :
1.      Analisis
Merupakan tahapan kegiatan: pengumpulan informasi dan data  mengenai klien. Konselor dan klien memiliki informasi yang dapat dipercaya, tepat, dan relevan untuk mendiagnosis pembawaan, minat,  motif,  keseimbangan emosional dan sifat-sifat lain yang memudahkan penyesuaian diri. Analisis dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat, seperti:  cacatan kumulatif, wawancara, catatan anekdot, tes psikologis, dan studi kasus.  Selain mengumpulkan data obyektif, konselor harus memperhatikan pula cita-cita dan sikap klien dan cara  memandang permasalahannya.
Data yang dibutuhkan pada tahapan analisis ini, dapat dibuatkan klarifikasi-klarifikasi sebagai berikut:
a.       Data vertikal (menyangkut diri klien), terdiri atas:
1)      Data fisik: kesehatan ciri-ciri fisik, penampakan fisik.
2)      Data psikis: bakat, minat, sikap, cita-cita, hobi, kebiasaan dlsb.

b.      Data horisontal
Data horisontal (berkaitan dengan latar belakang atau lingkungan) klien : data keluarga, kehidupan di sekolah, tempat tinggal dlsb.
2.      Sintesis
 Merangkum dan mengatur data hasil analisis yang sedemikian rupa sehingga menunjukkan bakat klien, kelamahan dan kekuatan, serta kemampuan penyesuaian diri. Ada tiga cara yang biasanya dilakukan dalam merangkum data pada tahap sintesis, yaitu, dibuat oleh konselor, dibuat oleh klien dan dibuat oleh keduanya (kolaborasi). Yang terbaik dari ketiganya adalah cara kolaborasi.

3.      Diagnosis
 Merupakan tahapan untuk menemukan ketetapan dan pola yang dapat mengarahkan kepada permasalahan, sebab-sebabnya, serta sifat-sifat klien yang relevan dan berpengaruh terhadap proses penyesuaian diri. Langkah diagnosis mencakup:
a.       Identifikasi masalah
Pada langkah tersebut ditentukan atau ditunjukkan masalah apa yang dialami klien. Penentuan macam masalah tentu meruju pada pengkategorian masalh menurut Bordin atau Pepinsky dan Pepinsky. Identifikasi masalah ini merupakan langkah penentuan hakikat masalah yang sebenarmya, bukan gejala-gejalanya. Masalah yang diidentifikasikan mungkin satu atau bisa jadi lebih. Jika masalahnya lebih dari satu, maka konselor harus mampu membatasi tema pembicaraan (dapat menggunakan tehnik strukturing, topic limit)
b.      Menentukan sebab-sebab
Langkah ini merupakan langkah mencari sumber bagi timbulnya suatu masalah yang mencakup pencarian hubungan antara masa lalu, sekarang dan yang akan datang, yang dapat menuntun konselor untuk memahami sebab-sebab dari gejala. Dalam mencari sebab masalah dapat dihubungkan (menggunakan) data yang terungkap pada tahap analisis, tetapi, konselor harus dapat membedakan antara sebab dengan sekedar hubungan sederhana.
4.      Prognosis
Menurut Williamson prognosis merupakan bagian dari diagnosis. Prognosis ini berkaitan dengan upaya memprediksikan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan data yang ada sekarang. Misalnya, jika klien malas maka kemungkinan nilainya akan rendah. Pada tahap ini klien diajak untuk menyadari kemungkinan yang akan terjadi. Klien diajak untuk berpikir merencanakan perubahan, Pada tahap ini baru menguji kemungkinan-kemungkinan dan konselor tidak boleh tergesa-gesa menyatakan kesimpulan.

5.      Konseling
 Merupakan hubungan membantu klien untuk  menemukan sumber diri sendiri maupun sumber di luar dirinya dalam upaya mencapai perkembangan dan penyesuaian optimal sesuai dengan kemampuannya. Dalam kaitan ini ada lima sifat konseling, yaitu : (a) belajar terpimpin menuju pengertian diri; (b) mendidik/mengajar kembali untuk mencapai tujuan kepribadiannya dan penyesuaian hidupnya; (c) bantuan pribadi agar klien mengerti dan terampil dalam menerapkan prinsip dan teknik yang  diperlukan dalam kehidupan sehari-hari; (d) Konseling yang mencakup hubungan dan teknik  yang bersifat menyembuhkan; dan (e) mendidik kembali yang sifatnya sebagai katarsis atau penyaluran.
6.      Tindak Lanjut
 Memberikan bantuan kepada klien  dalam menghadapi masalah baru  dengan mengingatkannya kepada masalah sumbernya sehingga menjamin keberhasilan konseling. Teknik yang digunakan konselor harus  disesuaikan dengan individualitas klien, mengingat bahwa individu itu sifatnya unik, sehingga tidak ada teknik yang baku yang  berlaku untuk semua klien.
2.8 Teknik Spesifik
            Adapun teknik spesifik dalam konseling trait and factor adalah sebagai berikut :
1.      Atending
Adalah ketrampilan/teknik yang digunakan konselor untuk memusatkan perhatian kepada klien agar klien merasa dihargai dan terbina suasana yang kondusif sehingga klien bebas mengekspresikan/ mengungkapkan tentang apa saja yang ada dalam pikiran, perasaan ataupun tingkah lakunya. Penciptaan dan pengembangan Atending dimulai dari upaya konselor menunjukkan sikap empati, menghargai, wajar, dan mampu mengetahui atau paling tidak mengantisipasi kebutuhan yang dirasakan oleh klien. Dalam tataran yang lebih operasional, melakukan refleksi melalui pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
·     Bagaimana  saudara mengenal dan mengantisipasi bila seseorang sangat tertarik pada Anda?
·     Bagaimana saudara mengenal bila seseorang memberikan perhatian terhadap Anda?
·     Bagaimana saudara mengenal atau mengetahui bila seseorang mendengarkan, memperhatikan dan  menghayati Anda ?
Melalui jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, konselor dapat memulai melakukan pembinaan untuk mengajak klien mamasuki proses konseling.
Aspek-aspek atending meliputi :
·         Posisi badan (termasuk gerak isyarat dan ekspresi muka). Duduk dengan badan menghadap kepada klien. Tangan di atas pangkuan atau berpegangan bebas atau kadang-kadang digunakan untuk menunjukkan gerak isyarat yang sedang dikomunikasikan secara verbal.
Responsif   dengan  menggunakan  bagian  wajah,  umpamanya senyum spontan atau anggukan kepala sebagai persetujuan atau pemahaman dan krutan dahi tanda tidak mengerti. Badan  tegak  lurus  tetapi  tidak kaku, manakala diperlukan bisa condong ke arah klien untuk menunjukan kebersamaan.
·         Kontak Mata. Melihat klien terutama pada waktu bicara. Menggunakan pandangan spontan yang  menunjukkan ekspresi minat dan keinginan untuk mendengarkan dan merespon
·         Mendengarkan. Memelihara pehatian penuh, terpusat pada klien. Mendengarkan apapun yang dikatakan klien, mendengarkan  keseluruhan   pribadi klien  (kata-katanya,  perasaannya, dan perilakunya). Memahami keseluruhan pesannya
2. Mengundang Pembicaraan Terbuka
Ajakan terbuka untuk berbicara memberi kesempatan klien agar mengeksplorasi dirinya sendiri dengan dukungan pewawancara. Pertanyaan terbuka memberi peluang klien untuk mengemukakan ide perasaan dan arahnya dalam wawancara. Responnya terhadap pertanyaan terbuka ialah untuk menunjukkan kesadarannya bahwa dia diminta untuk menceritakan sejarahnya atau lebih menjabarkan apa yang telah dikatakan.
Contoh pertanyaan terbuka :
1. Untuk membantu memulai wawancara :
     “Apa yang akan Anda bicarakan hari ini?”
     “Bagaimana keadaan Anda sejak pertemuan terakhir kita?”
 2. Membantu klien menguraikan masalahnya :
    “Cobalah Anda menceritakan lebih banyak lagi  tentang hal itu!“
    “Bagaimana perasaan Anda pada saat kejadian itu?”
3. Membantu memunculkan contoh-contoh perilaku   khusus :
     “Apa yang Anda sedang rasakan pada saat Anda  menceritakan hal ini kepada saya?”
     “Bagaimana perasaan Anda selanjutnya pada waktu  itu?”
Pertanyaan yang tidak disarankan antara lain:
·         Pemakaian pertanyaan tertutup yang terlalu sering.
·         Pengajuan pertanyaan lebih dari satu pada waktu yang sama.
Dapatkah anda menceritakan lebih banyak lagi tentang hal itu?”
·         Pengajuan pertanyaan “Mengapa”, umpamanya :   “Mengapa anda tidak bergaul dengan baik?”
·         Memasukkan jawaban dalam pertanyaan, umpamanya :  “Anda sebenarnya belum mengerti hal itu pada saat anda mengatakan tentang ayahnya, bukan?”
 3. Paraprase
Esensinya adalah mengulangi kata-kata atau pemikiran-pemikiran kunci dari klien dalam rumusan-rumusan yang menggunakan kata-kata konselor sendiri. Memberi tahu klien bahwa ia sedang mendengarkan apan yang dikatakan dan konselor ingin mendengarkan lebih banyak lagi.   Klien akan merasa dimengerti dan dipersiapkan untuk mengolah lebih dalam lagi masalah-masalah yang diajukannya.
Maksud dari kegiatan paraprase adalah :
·         menyampaikan kepada klien bahwa konselor bersama klien,   dan konselor berupaya memahami apa yang dinayatkan klien
·         mengkritalisasi komentar klien dengan lebih   memendekannya sehingga membantu mengarahkan   wawancara
·         memberi peluang untuk memeriksa kecermatan persepsi konselor.



Cara Memparaprase :
  • Dengarkan pesan utama klien
  • Nyatakan kembali kepada klien ringkasan pesan utamanya secara sederhana dan singkat
  • Amati pertanda atau minta respons dari klien  akan bantuan paraprase.
 Hindari:
  • analisis, interpretasi, atau pertimbangan nilai tentang pesan klien
  • respon konselor hanya tertuju kepada bagian kecil dari pesan klien klien, bukan  kepada tema utamanya
  • pemakaian kata-kata teknis yang tidak dimengerti klien
4. Refeksi perasaan
Refleksi perasaan merupakan keterampilan konselor untuk merespons keadaan perasaan klien terhadap situasi yang sedang dihadapi. Tindakan tersebut akan mendorong dan merangsang klien untuk mengemukakan segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapinya. Jadi, esensi keterampilan ini adalah untuk mendorong dan merangsang klien agar dapat mengekspresikan bagaimana perasaan tentang situasi yang sedang dialami.
Aspek-aspek refleksi perasaan :
  • Mengamati perilaku klien
  • Mendengarkan dengan baik
  • Menghayati pesan yang dikomunikasikan  klien.
  • Mengenali perasaan-perasaan yang dikomunikasikan klien.
  • Menyimpulkan perasaan yang sedang dialami.
  • Menyeleksi kata-kata yang tepat untuk  melukiskan perasaan klien.
5. Meringkas / summary
Meringkas adalah suatu proses untuk memadu berbagai ide dan perasaan dalam satu pernyataan pada akhir suatu unit wawancara konseling. Meringkas : upaya merekapituasi, memadatkan, dan mengkristalisasi esensi apa yang telah dikatakan klien. Dengan menggunakan ringkasan secarea periodik, konselor dapat memeriksa kecermatannya dalam  mendengarkan. Ringkasan juga membantu untuk mengakiri wawancara dengan suatu cartatan yang wajar, dan dapat menjadi panduan wawancara.
Panduan umum meringkas:
 (1) Adakan refleksi atau atending terhadap berbagai variasi tema dan nada  emosional pada saat klien berbicara;
(2) Gabungkan perasaan dan ide kunci ke dalam  pernyataan-pernyataan yang pengertian  dasarnya luas;
(3) Jangan tambahkan ide-ide baru dalam ringkasan;
(4) Pertimbangkan kalau sekiranya dapat membantu kalau menyatakan ringkasan atau mengajak klien untuk membuat ringkasan.

2.9 Kelemahan dan Kelebihan
            Adapun kelemahan konseling trait and factor adalah sebagai berikut :
a.       Kurang memerhatikan adanya pengaruh dari perasaan, keinginan, dambaan aneka nilai budaya (cultural values), nilai-nalai kehudupan (personal values), dan cita-cita hidup, terhadap perkembangan jabatan anak dan remaja (vocational development) serta pilihan program/bidang studi dan bidang pekerjaan (vocational choice).
b.      Kurang diperhatikan peran keluarga dekat, yang ikut mempengaruhi rangkaian pilihan anak dengan cara mengungkapkan harapan, dambaan dan memberikan pertimbangan untung-rugi sambil menunjuk pada tradisi keluarga; tuntutan mengingat ekonomi keluarga; serta keterbatasan yang konkrit dalam kemampuan finansial, dan sebagainya.
c.       Kurang diperhitungkannya perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat, yang ikut memperluas atau membatasi jumlah pilihan yang tersedia bagi seseorang.
d.      Kurang disadari bahwa konstelasi kualifikasi yang dituntut untuk mencapai sukses di suatu bidang pekerjaan atau program studi dapat berubah selama tahun-tahun yang akan datang.
e.       Pola ciri-ciri kepribadian tertentu pasti sangat membatasi jumlah kesempatan yang terbuka bagi seseorang, karena orang dari berbagai pola ciri kepribadian dapat mencapai sukses di bidang pekerjaan yang sama.
f.       Kurang diindahkan adanya pengaruh dari perasaan, keinginan, dambaan aneka nilai budaya (cultural values), nilai-nalai kehudupan (personal values), dan cita-cita hidup, terhadap perkembangan jabatan anak dan remaja (vocational development) serta pilihan program/bidang studi dan bidang pekerjaan (vocational choice).
g.      Kurang diperhatikan peran keluarga dekat, yang ikut mempengaruhi rangkaian pilihan anak dengan cara mengungkapkan harapan, dambaan dan memberikan pertimbangan untung-rugi sambil menunjuk pada tradisi keluarga; tuntutan mengingat ekonomi keluarga; serta keterbatasan yang konkrit dalam kemampuan finansial, dan sebagainya.
h.      Kurang diperhitungkannya perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat, yang ikut memperluas atau membatasi jumlah pilihan yang tersedia bagi seseorang.
i.        Kurang disadari bahwa konstelasi kualifikasi yang dituntut untuk mencapai sukses di suatu bidang pekerjaan atau program studi dapat berubah selama tahun-tahun yang akan datang.
j.        Pola ciri-ciri kepribadian tertentu pasti sangat membatasi jumlah kesempatan yang terbuka bagi seseorang, karena orang dari berbagai pola ciri kepribadian dapat mencapai sukses di bidang pekerjaan yang sama. 
k.      Banyak ahli yang menanyakan bagaimana “bagi setiap orang hanya terdapat satu jabatan yang cocok baginya” sehingga akan timbul kesulitan pada individu tersebut seandainya pekerjaan tersebut tidak diperoleh.
l.        Kemudian “ pilihan jabatan didasarkan pada identifikasi kemampuan pertemuan individu dengan testing” kedua asumsi ini jelas sangat membatasi sesorang dalam perkembangan karirnya.
m.    Klien hanya bersifat pasif
n.      Sulit diterapkan di sekolah bila tidak memiliki instrumen pengumpul datanya.
Kemudian kelebihan dari pendekatan trait and factor adalah sebagai berikut :
a.         Pemusatan pada klien dan bukan pada konselor (pemusatan pada konselor, disini konselor mengarahkan bakat minat /program studi konseli sesuai dengan potensi yang dimilikinya, bisa menggunakan tes psikologi)
b.        Identifikasi dan hubungan konseli sebagai wahana utama dalam mengubah kepribadian, mengidetifikasi masalah terkait dengan bakat minat konseli.
c.                   Lebih menekankan pada sikap konselor daripada teknik (sikap bagaimana konselor mengarahkan konseli)
d.                  Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuanitatif
e.                   Penekanan emosi, perasaan dan afektif dalam konseling yaitu konseli
f.                   Teori ciri dan sifat menerapkan pendekatan ilmiah pada konseling
g.        Penekanan pada penggunaan data tes objektif, membawa kepada upaya perbaikan dalam pengembangan tes dan penggunanya, serta perbaikan dalam pengumpulan data lingkungan
h.        Penekanan yang diberikan pada diagnose mengandung makna sebagai suatu perhatian terhadap masalah dan sumbernya mengarahkan kepada upaya pengkreasian teknik-teknik untuk mengatasinya.
i.          Penekanan pada aspek kognitif merupakan upaya menyeimbangkan pandangan lain yang lebih menekankan afektif atau emosional.





BAB 3
PENUTUP

1.1  Simpulan
Konseling Trait-Factor berpegang pada pandangan yang sama dan menggunakan tes-tes psikologis untuk menganalisis atau mendiagmatis seseorang mengenai ciri-ciri atau dimensi/aspek kepribadian tertentu,yang diketahui mempunyai relevansi terhadap keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam memangku jabatan dan mengikuti suatu program studi. Konselor yang berpegang pada pendekatan ini  mengikuti rangkaian kerja yang agak mirip dengan pelaksanaan studi kasus dan pelayanan dokter terhadap pasien. Pendekatan ini dapat digunakan terhadap semua kasus yang mengandung unsure seperti jabatan atau akademik, di mana konseli menghadapi keharusan untuk memilih diantara beberapa alternative yang ada. Konselor dapat bertindak sebagai pengarah dalam keputusan yang diambil konseli.

1.2  Saran

Setiap pendeketan konseling yang ada tentu terdapat kelebihan dan kelemahan. Konselor perlu cerdas dalam memilih pendekatan disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan klien. Dalam pendekatan ini konselor benar-benar harus  mendampingi klien mengumpulkan data ekstrinsik tentang dirinya untuk melengkapi persepsi klien terhadap dirinya. Sehingga nantinya diharapkan klien tidak mengambil keputusna karier yang salah.