Minggu, 21 Desember 2014

Proses Penelitian Kuantitatif

A.    Proses penelitian kuantitatif



Setiap penelitian selalu berangkat dari masalah, atau dari potensi.Dalam penelitian kuantitatif, masalah yang dibawa oleh peneliti harus sudah jelas, dan ditunjukkan dengan data yang valid.
Setelah masalah diidentifikasikan, dan dibatasi, maka selanjutnya masalah tersebut dirumuskan.Rumusan masalah pada umumnya dinyatakan dalam kalimat pertanyaan. Dengan pertanyaan ini maka akan dapat memandu peneliti untuk kegiatan penelitian. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka peneliti menggunakan berbagai teori untuk memperjelas masalah dan menjawabnya.Jawaban terhadap rumusan masalah yang baru menggunakan teori tersebut dinamakan hipotesis.
Hipotesis tersebut selanjutnya akan dibuktikan kebenarannya secara empiris di lapangan. Untuk itu peneliti menetapkanpopulasi sebagai tempat pengujian dan sekaligus menyiapkan Instrumen penelitiannya.Bila populasi terlalu luas dan ada keterbatasan dari peneliti baik dari segi tenaga, biaya dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut.Bila peneliti bermaksud membuat generalisasi, maka sampel yang di ambil harus representative dengan tingkat kesalahan tertentu. Instrumen yang akan digunakan untuk pengumpulan data harus valid dan reliabel. Untuk itu sebelum Instrumen digunakan maka harus diuji validitas dan reliabilitasnya.
Setelah Instrumen teruji validitas dan reliabilitasnya, maka dapat digunakan untuk mengukur variabel yang telah ditetapkan untuk di teliti.Instrumen untuk pengumpulan data dapat berbentuk tes dan non tes.Untuk instrumen yang bebentuk non tes, dapat digunakan kuesioner, pedoman observasi, dan wawancara.Dengan demikian tehnik pengumpulan data selain berupa tes dalam penelitian ini dapat berupa kuesioner, obsevasi, dan wawancara.
Data yang telah terkumpul selanjutnya di analisis.Analisis diarahkan untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan.Dalam penelitian kuantitatif dapat menggunakan statistik.Statistic yang digunakan berupa statistic deskriptif dan inferensial.Statistic inferensial dapat berupa statistic parametris dan non parametris.Peneliti menggunakan statistic inferensial bila penelitian dilakukan pada sampel yang diambil secara random.
Data hasil analisis selanjutnya disajikan dan diberikan pembahasan.Penyajian data dapat menggunakan tabel, tabel distribusi frekuensi, grafik garis, grafik batang, piechart (diagram lingkaran), dan pictogram.Pembahasan terhadap hasil penelitian merupakan penjelasan yang rasional dan mendalam serta interprestasi terhadap data-data yang telah disajikan.
Setelah hasil penelitian diberikan pembahasan, maka selanjutnya dapat disimpulkan.Kesimpulan berisi jawaban singkat terhadap setiap rumusan masalah bedasarkan data yang telah terkumpul. Jadi kalau rumusan masalah ada lima, maka kesimpulannya juga ada lima. Karena peneliti melakukan penelitian bertujuan untuk memecahkan masalah, maka peneliti berkewajiban untuk memberikan saran-saran.Melalui saran-saran tersebut diharapkan masalah dapat dipecahkan.Saran yang diberikan harus berdasarkan kesimpulan hasil penelitian.
Apabila hipotesis penelitian yang diajukan tidak terbukti, maka perlu dicek apakah ada yang salah pada penggunaan teori, Instrumen, pengumpulan, analisis data, atau rumusan masalah yang diajukan.
B.     Masalah Penelitian
Sudah dikemukakan bahwa penelitian itu dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang antara lain dapat di gunakan untuk memecahkan masalah. Untuk itu setiap penelitian yang akan dilakukan harus selalu berawal dari masalah. Sepert dinyatakan oleh Emory (1985) bahwa, baik penelitian murni maupun terapan, semuanya berawal dari masalah, hanya penelitian terapan, hasilnya langsung dapat digunakan untuk membuat keputusan.
Jadi setiap penelitian yang akan dilakukan harus selalu berawal dari masalah, walaupun diakui bahwa dalam memilih masalah adalah hal yang paling sulit dalam proses penelitian (Tuckman, 1988). Oleh karena itu, menemukan masalah merupakan pekerjaan yang tidak mudah, tetapi setelah masalah dapat ditemukan, maka pekerjaan penelitian akan segera dapat dilakuk       an.
1.      Sumber Masalah
Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan dari yang seharusnya terjadi dengan kenyataan, antara teori dengan praktek, antar aturan dengan pelaksanaan. Stonner (1982) mengemukakan bahwa masalah dapat diketahui dan dicari melalui:
a.       Terdapat penyimpangan antar pengalaman dengan kenyataan.
Didunia ini yang tetap hanya perubahan, namun sering perubahan itu tidak diharapkan oleh orang-orang tertentu, karena akan menimbulkan masalah.
b.      Terdapat penyimpangan antara apa yang direncanakan dengan kenyataan.
Suatu rencana yang telah ditetapkan, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan tujuan dari rencana tersebut, maka tentu ada masalah. Jadi untuk menemukan masalah dapat diperoleh dengan cara melihat dari adanya penyimpangan antara yang direncanakan dengan kenyataan.
c.       Ada pengaduan
Dalam suatu ahal yang tadinya tenang tidak ada masalah, ternyata seteah ada pihak yang tertentu yang mengadukan, maka akan timbul suatu masalah. Dengan demikian masalah penelitian dapat digali dengan cara menganalisis isi pengaduan.
d.      Ada kompetisi
Adanya kompetisi dapat menimbulkan maslah besar bila tidak dapat memanfaatkan untuk kerjasama.
C.    Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data. Namun demikian terdapat kaitan erat antara masalah dan rumusan masalah, karena setiap rumusan masalah penelitian harus didasarkan pada masalah.
1.         Bentuk-bentuk Rumusan Masalah Penelitian
Ada beberapa kelompok bentuk masalah sebagai berikut.
a.       Rumusan Masalah Deskriptif
Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri).
b.      Rumusan Masalah Komparatif
Rumusan komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda.
c.       Rumusan Masalah Asosiatif
Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.


Pengertian variabel
         Istilah “variabel “ merupakan istilah yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap jenis penelitian. Kerlinger (1998: 49) mengemukakan bahwa variabel adalah suatu sifat yang memiliki bermacam nilai atau dengan kata lain bahwa variabel adalah sesuatu yang bervariasi.  Lebih rinci lagi dikatakan bahwa yang dimaksud dengan variabel adalah symbol/lambang yang padanya kita lekatkan nilai yang berupa angka. Sutrisno Hadi dalam Suharsimi (1997: 97) mendefinisikan variabel merupakan gejala yang bervariasi seperti jenis kelamin (karena ada wanita dan pria), berat badan (karena ada yang mempunyai berat 40kg, 50kg, 55kg, dsb). Senada dengan pendapat tersebut, Sugiono (2005: 3) mendefinisikan variabel merupakan gejala yang menjadi focus peneliti untuk diamati.Variabel itu sebagai atribut dari sekelompok orang atau obyek yang mempunyai variasi antar satu dengan yang lainnya dalam kelompok itu. Tinggi, berat badan, sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin kerja, warna kulit, dan lain sebagainya merupakan atribut dan obyek.
            Bila tinggi badan, berat badan, kemampuan, gaya kepemimpinan dari sejumlah orang (missal 30 orang) itu sama, maka semua itu bukanlah variabel. Jadi dikatan variabel karena ada variasinya.
            Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat dikemukakan bahwa variabel mempunyai beberapa pengertian. (a) Variabel adalah karakteristik yang memeliki dua atau lebih nilai atau sifat yang berdiri sendiri-sendiri. (b) variabel adalah simbul atau lambang yang padanya diletakkan bilangan atau nilai, (ca) variabel adalah atribut dari seseorang atau obyek yang mempunyai variasi, (d)  variabel adalah atribut atau aspek atau sifat dari orang atau objek yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan.
           
1.      Jenis-Jenis Variabel
Dengan latar belakang gagasan tentang definisi tersebut di atas, mari kembali
membicarakan variabel. Variabel dapat dikelompok-kelompokkan menurut berbagai cara. Kerlinger (1998: 59) mengelompokkan variabel menurut berbagai cara. Menurutnya terdapat tiga kelompok, yaitu : (1) variaabel bebas dan variabel tergantung, (2) variabel aktif dan variabel atribut, (3) variabel kontinu dan variabel katagori. Suharsimi (1997: 97) membedakan jenis variabel menjadi: (1) variabel kuatitatif dan kualitatif. Contoh variabel kuatitatif misalnya luasnya kota, umur, banyaknya jam dalam sehari. Contoh variabel kualitatif kemakmuran, kepandaian, dan lain-lain.Sedangkan variabel kuantitatif diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu variabel diskrit dan variabel kontinum.
            Pada dasarnya, jenis-jenis variabel dapat ditinjau dari berbagai hal, misalnya bila dilihat dari letak hubungan atau posisi  dalam penelitian, variabel dapat dibedakan menjadi: (a) Variabel bebas (independent)., (b) Variabel terikat (dependent), variabel moderator, (c) Variabel intervening, dan (d) Variabel control. Bila dilihat dari jenis datanya, jenis-jenis variabel terdiri dari: (a) variabel diskrit, (b) variabel kontinum. 
a.       Variabel independent/prediktor/stimulus/bebas, adalah variabel yang dipandang sebagai sebab munculnya atau terjadinya perubahan pada variabel lain. Dalam penelitian eksperiman, variabel bebas ini adalah variabel yang dimanipulasikan oleh pembuat eksperimen. Misalnya, manakala peneliti di bidang pendidikan mengkaji akibat berbagai metode pengajaran, dia dapat memanipulasi metode (yakni variabel bebasnya) dengan menggunakan berbagai metode. Dalam penelitian yang tidak bersifat eksperimental, variabel  bebasnya adalah yang “secara logis”   menimbulkan akibat tertentu terhadap variabel terikat.  ( variabel yang keberadaaannya meningkatkan atau memperlemah variabel lainnya)  
b.   Variabel dependen/kriteria/output/konsekuensi, adalah variabel yang diramalkan, misalnya prestasi belajar sebagai variabel tergantung diramalkan oleh motivasi belajar sebagai variabel bebas.
c.   Variabel Intervening, adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi (memperlambat/mempercepat) hbungan antara variabel independen dan variabel dependen, tetapi tidak teratur. Missal, anak yang pandai nilainya akan tinggi, tetapi dalam kasus tertentu ada anak pandai tetapi nilai rendah. Ternyata ia sedang skit saat ujian.
d.   Variabel moderator, adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat /memperlemah) hubungan antara variabel independent dan variabel dependen. Variabel ini dsering disebut sebagai variabel independent ke dua. Misal, Hubungan suami dan istri akan semakin harmonis apabila sudah mempunyai anak. Jadi anak  adalah contoh variabel moderator.
e.   Variabel control, adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan, sehingga tidak akan mempengaruhi variavel utama yang diteliti. Variabel control ini diciptakan oleh peneliti, bila peneliti akan melakukan penelitian. Misal, seorang peneliti ingin meneliti pengaruh pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa.Salah satu variabel controlnya adalah kecerdasan. Maka untuk menjadikan variabel control dengan cara semua siswa yang menjadi subjek sampel harus dicari yang mempunyai kecerdasan inteligensi yang relative sama/homogin.
e.   Variabel diskrit/variabel katagori, pembedaan yang istimewa dalam merencanakan penelitian dan mengalisis data, yakni pengelompokan variabel kontinu dan variabel diskrit/katagori.Variabel katagori/diskrit iniberkaitan dengan suatu jenis pengukuran yang dinamakan pengukuran nominal.Pengukuran nominal termasuk taraf pengukuran yang paling rendah, karena angka-anagka yang diberikan pada objek-objek merupakan angka yang tidak mengandung arti kuantitatif (banyak-sedikitinya “jumlah”), agka-angka itu tidak dapat diurutkan atau ditambahkan / dijumlahkan.Angka-angka itu hanyalah label. Pengukuran nominal diangkakan / dikuantifikasikan manakala yang dilakukan hanyalah dikotomi., misalnya ia-tidak, benar-salah, waanita- pria, hadir-tidak hadir, dll.
f.    Variabel kontinu, variabel kontinudapat memiliki sehimpunan harga yang teratur dalam suatu cakupan (range) tertentu. Hal ini mengnadung arti bahwa harga-harga variabel kontinu mencerminkan suatu urutan peringkat (rank order), misalnya: sangat tinggi, samapai dengan  sangat rendah. Dalam variabel kontinu ini, sangat  dimukngkin mengandung nilai-nilai pecahan, misalnya, umur si A 47,5 tahun. IPK A: 3,6, dan lain sebagainya. Variabel kontinu ini dipisahkan  menjadi 3 variabel kecil, yaitu: viarabel ordinal, variabel interval, variabel ratio.
      (1)     Variabel ordinal, adalah variabel yang menunjukkan tingkatan-tingakatan, misalnya panjang, kurang panjang, pendek. Perlu diketahui bahwa jarak antar jenjang yang satu dengan jejang yang berikutnya tidak selalu sama, misalnya, nilai juara I , juara II, dan juara III tidak sama.
      (2)  Variabel interval, adalah variabel yang mempunyai nilai data berjenjang seperti variabel ordinal, tetapi jarak nilai antar jenjang sama. Perlu diketahui bahwa data variabel interval ini tidak mengandung nilai nol mutlak atau absolute.Suhu 0 derajat Celsius bukan berarti tidak tidak bersuhu. Nilai matematika 0 bukan berarti dia tidak mempunyai kepandaian matematika sama sekali.
      (3)     variabel Ratio, adalah variabel yang mempunyai nilai data berjenang, jarak antar jenjang sama, dan memilki nilai 0 mutlak. Misal: ukuran panjang, berat, pendapatan. Pendapatan hari ini 0 berarti memang tidak mempunyai pendapatan sama sekali, berat 0 berarti memang tidak punyai berat, dll.

Masalah Penelitian

1. Hakekat masalah
            Salah satu langkah yang paling penting dalam membuat penelitian adalah pemilihan masalah.Banyak mahasiswa mengatakan bahwa menemukana masalah merupakan dorongan dan bahkan tantangan dan mungkin sebuah hambatan.Dalam tahap pencarian masalah yang layak untuk diteliti sering merupakan sebuah hambatan bagi mahasiswa untuk menyelesaikan skripsi. Sauatu penelitian akan dilakukan selalu berangkat dari masalah. Memilih masalah penelitian sering merupakan hal yang paling sulit dalam proses penelitian (Tuckman, 1988:25)
            Masalah dapat dikatakan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, atau dengan kata lain adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan. Consuelo dkk mengatakan bahwa keadaan seperti di berikut ini dapat memunculkan suatu masalah, misalnya: a) bila ada informasi yang mengakibatkan munculnya kesenjangan dalam pengetahuan kita. b) bila ada hal-hal yang bertentangan. c) bila ada suatu kenyataan dan kita bermaksud menjelaskan melalui penelitian.
            Tidak semua masalah perlu dilakukan pemecahan melalui sebuah penelitian dengan menuntut metodologi penelitian ilmiah, karena sangat dimungkinkan cukup dipecahkan secara sederhana. Menurut Karlinger (1998: 29) Masalah yang baik harus bercirikan sebagai berikut: (a) masalah harus mengungkapakan hubungan antara dua variabel atau lebih, (b) masalah harus dinyatakan dalam bentuk kalimat yang jelas dan tidak hambigu dan dikemukakan dengan kalimat tanya, (c) masalah harusndirumuskan dengan cara tertentu yang menyiratkan adanya kemungkinan pengujian hipotesis.

2. Sumber Masalah
            Masalah dapat diperoleh dari berbagia sumber, baik dari pengamatan langsung  terhadap fenomena di lingkunagn sekitar, maupun tidak langsung melalui media cetak, elektronik, dari hasil-hasil penelitian terdahulu, membaca buku, mengikuti seminar ilmiah, pertemuan-pertemuan seprofesi, dan mungkin dari pengamatannya selama perkuliahan.
            Sedang menurut Stoner (1982:257) mengemukakan sumber-sumber masalah adalah sebagai berikut: a. adanya penyimpangan antara teori dan kenyataan. b. adanya penyimpangan antara apa yang direncanakan dengan kenyataan.c. adanya pengaduan. d.  adanya kompetisi.
         Terdapat beberapa cara yang dapat membantu mahasiswa menemukan dan mengidentifikasi masalah penelitian, yaitu:
 a.      Membaca sebanyak-banyak literature yang berhubungan dengan bidang kita dan bersikap kritis terhadap apa yang dibaca.
b.      Menghadiri kuliah atau ceramah profesional.
 c.      Mengamati dari dekat situasi atau kejadian - kejadian di sekitar.
d.      Memikirkan kemungkinan penelitian dengan topic-topik atau pelajaran yang didapat waktu kuliah.
 e.      Menghadiri seminar-seminar hasil penelitian.
 f.      Mengadakan penelitian-penelitian kecil dan catat hasil penemuan yang diperolehnya.
g.      Berlangganan jurnal atau majalah yang berhubungan dengan bidang ilmunya.
h.      Mengumpulkan bahan-bahan yang berhubungan dengan bidangnya

3. Karakteristik masalah yang baik:
            Pada dasarnya hampir semua permasalahan memerlukan pemecahanan, baik secara sederhana maupun secara ilmiah. Pemecahan masalah dengan cara sederhana tidak perlu melalui tahapan - tahapan atau prosedur ilmiah. Permasalaha-permasalahan yang memerlukan prosedur dan tahap ilmiah adalah permasalahan-permasalahan yang bercirikan tertentu.
            Di bawah ini terdapat ciri-ciri masalah yang memerlukan pemecahan secara ilmiah:
a.             Masalah harus fisible, artinya bahwa masalah tersebut harus dapat dicari jawabannya melalui sumber yang jelas, tidak menghabiskan dana, tenaga, dan waktu
b.            Masalah harus jelas, yaitu menunjukkan semua orang memberikan persepsi yang sama terhadap masalah tersebut.
c.             Masalah harus signifikan, artinya bahwa jawaban atas masalah tersebut harus memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu dan pemecahan masalah kehidupan manusia.
d.            Masalah harus etis, artinya bahwa tidak bertentangan dengan etika dan nilai-nilai keyakinan dan agama tertentu.
e.             Masalah haruslah merupakan issu baru, artinya issu yang sedang dibicakan dan didiskusikan oleh sebagaian besar masyarakat.
f.             Masalah dapat dipecahkan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan.
g.            Masalah yang dipilih harus benar-benar menarik bagi calon penelitinya.

4.   Bentuk-Bentuk Masalah Penelitian
         Bila dilihat dari karakteristik variabel dan hubungan antar variabel dalam penelitian, maka bentuk- bentuk masalahan penelitian dapat dibedakan menjadi:
b.      Permasalahan deskriptif,  adalahpermasalahan yang berkenaan dengan variable mandiri, yaitu tanpamembuat perbandingan atau menghubungkan.
Contoh:
1)   Seberapa tinggi produktivitas keja karyawan di PT Samudra?
2)   Seberapa baik interaksi kerja karyawan di industri A?
3)   Bagaimana sikap masyarakat terhadap pelaksanaan PIN Polio?
4)   Berapa persen motivasi pegawai negeri, bila didasarkan pada criteria ideal yang diterapkan?
c.       Permasalahan komparatif, adalah suatu permasalahan penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan variabel pada dua sample atau lebih.
Contoh:
1)   Adakah perbedaan produktifitas kerja antar pegawai negeri dan swasata?
2)   Adakah kesamaan interaksi kerja  antara  karyawan perusahaan A dan B?
3)   Adakah perbedaan disiplin kerja antara pegawai swata dan BUMN?
4)   Mana yang lebih tinggi prestasi kerja antar pegeawai negeri, swasta dan BUMN?
c.   Permasalahan asosiatif adalah : suatu pertanyaan penelitian yang menghubungkan dua atau lebih variabel. Terdapat dua hubungan asosiatif ini, yaitu hubungan Simetris dan hubungan Kausal.
Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang bersifat kebersamaan. Contoh:
1)   Adakah hubungan antara kecerdasan dan prestasi
2)   Adakah hubngan antara bakat, minat, dan kreativitas siswa?
3)   Adakah hubungan antara kodok ngorek dan jumlah paying yang terjual?
Hubungan kausal adalah hubngan yang bersifat sebab akibat, jadi akan ada variabel independen dan variabel depeden. Contoh:
1)   Adakah pengaruh gaji terhadap prestasi kerja karyawan ?
2)   Adakah pengaruh tipe kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru?
3)   Seberapa besar pengaruh tata ruang terhadap kedisiplinsn karyawan?
4)   Seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan dan tata ruang kantor terhadap efesiensi kerja karyawan.     
   Hubungan interaktif,adalah hubungan yang saling mempengaruhi, sehingga tidak diketahui mana variabel dependent dan mana variabel independent.Contoh:
1)   Hubungan antara kemiskinan dan kebodohan, Kemiskinan dapat menyebabkan kebodohan, dan  kebodohan juga dapat menyebabkan kemiskinan.
2)   Hubungan antara motivasi dan prestasi. Motivasi dapat mempengaruhi prestasi, dan presatasi dapat mempangaruhi motivasi.




DAFTAR PUSTAKA


Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan sopan