BAB II
PEMBHASAN
A.
Menulis
untuk Belajar
1.
Konsep
dasar Menulis
Menulis adalah
menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu
bahasa yang di pahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca langsung
lambang- lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran
grafik itu ( Lado,1964).
Menulis merupakan kemampuan menggunakan
pola-pola bahasa secara tertulis untuk mengungkapkan suatu gagasan atau
pesan,Rusyana ( 1998:191).
Menulis adalah proses menggambarkan suatu bahasa
sehingga pesan yang disampaikan penulis dapat di pahami pembaca
(tarigan,1986:21). Menulis adalah suatu
proses menyusun, mencatat, dan megkomunikasikan makna dalam tataran ganda
bersifat interaktif dan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu dengan
menggunakan suatu sistem tanda konvesional yang dapat dilihat/dibaca
(Tatkala,1982).
2.
Tujuan
menulis
Beberapa tujuan menulis
adalah:
a. Untuk memeberikan suatu informasi.
b. Untuk meyakinkan atau mendesak
c. Untuk menghibur atau menyenangkan
d. Untuk mengekspresikan perasaan dan emosi yang kuat
Hugo Hartig dalam tarigan (1986: 24-25) merumuskan tujuan
menulis:
a. Tujuan penugasan, sebenarnya tidak memilki tujuan karena
orang yang menulis melakukan nya karena tugas yang diberikan kepadanya
b. Tujuan altruistik, penulis bertujuan untuk menyenangkan
pembaca, menghindarkan kedudukan pembaca, ingin menolong pembaca
memahami,menghargai perasaan dan penalaranya, ingin membuat hidup para pembaca
lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu
c. Tujuan persuasif bertujuan meyakinkan para pembaca akan
kebenaran gagasan yang diutarakan
d. Tujuan informasional penulis bertujuan memberi informasi atau
keterangan kepada para pembaca.
e. Tujuan pernyataan diri penulis bertujuan memperkenalkan atau
menyatakan dirinya kepada pembaca
f.
Tujuan
kreatif penulis bertujuan melibatkan dirinya dengan keinginan mencapai norma
artistik,nilai-nilai kesenian
g. Tujuan pemecahan masalah penulis bertujuan untuk memecahkan
masalah yang dihadapi
3.
Fungsi
menulis
Fungsi utama dari
tulisan adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung. Dengan menulis
memudahkan kita mersakan dan menikmati hubungan–hubungan,memperdalam daya
tanggap atau persepsi kita ,memecahkam masalah-masalah yang kita
hadapi,menyusun urutan bagi pengalaman, dapat menyumbangkan kecerdasan.
Bernard Percy
secara rinci fungsi menulis adalah:
a. Sarana untuk mengungkapkan diri yaitu untuk mengungkapkan
perasaan hati seperti kegelisahan,keinginan amarah
b. Menulis sebagai sarana pemahaman artinya dengan menulis
seseorang bisa mengikat kuat suatu ilmu pengetahuan ( menancapkan pemahaman )
kedalam otaknya
c. Menulis dapat membantu mengembangkan kepuasan
pribadi,kebanggaan,perasaan harga diri artinya dengan menulis bisa melejitkan
perasaan harga diri yang semula rendah degan menulis dapat meningkatkan
kesadaran dan penyerapan terhadap lingkungan artinya orang yang menulis selalu
dituntut untuk terus menerus belajar sehinnga pengetahuannya menjadi luas
d. Menulis dapat meningkatkan keterlibatan secara bersemangat
bukannya penerimaan yang pasrah,artinya dengan menulis seseorang akan menjadi poeka
terhadap apa yang tidak benar disekitarnya sehinnga ia menjadi seoarang yang
kreatif
e. Menulis mampu mengembangkan suatu pemahaman dan kemampuan
menggunakan bahasa artinya dengan menulis seseorang akan selalu berusaha
memilih bentuk bahasa yang tepat dan menggunakannya dengan tepat pula
4.
Teori
menulis
Teori menulis yang berkembang saat ini adalah menulis model
proses. Dengan model ini menulis dilakukan dengan pentahapan – pentahapan:
a.
Pra
menulis (prewriting) : siswa memilih topik,siswa mengumpulkan dan menyesuaikan
ide-ide,siswa mengidentifikasi pembacanya,siswa mengidentifikasi tujuan menulis
siswa memilih bentuk yang sesuai berdasarkan pembaca dan tujuan menulis,dengan
aktifitas pengarang persiapan menulis cerita,menggambar,membaca,memikirkan
tulisan, menyusun gagasan dan mengembangkan rencana
b.
Pengedrafan
( drafting ):siswa menulis draf kasar, siswa siswa menulis pokok-pokok yang
menarik pembaca,siswa lebih menekankan isi dari pada mekanik,dengan aktifitas
pengarang merangkaikan gagasan dalam sebuah tulisan tanpa memperhatikan
kerapian atau mekanik
c. Merevisi (revising ):siswa membagi tulisanya kepada
kelompok,siswa mendiskusikan tulisanya kepada temannya,siswa membuat perbaikan
sesuai komentar teman dan gurunya,siswa membuat perubahan subtantif dan bukan sekedar
perubahan minor antara draf pertama dan kedua .setelah mendapat saran –saran
dari orang lain pengarang dapat membuat beberapa perubahan dan perubahan itu
dapat melibatkan orang lain
d. Mengedit (editing ): siswa mebaca ulang tulisanya,siswa
membantu baca ulang tulisan temannnya,siswa mengidentifikasi kesalahan
mekanisme dan membetulkannya.
e.
Mempublikasikan
(publishing):siswamempublikasikantulisnanya dalam bentuk yang sesuai,siswa
membagi tulisanya yang sudah selesai kepada teman sekelasnya
5.
Jenis
dan Tingkatan menulis
a. Jenis tulisan
Ragam tulisan
dapat didasarkan pada isi tulisan, isi tulisan mempengaruhi jenis informasi,
pengorganisasian dan tata sajian tulisan. Berdasarkan ragam tersebut tata
tulisan dibedakan menjadi empat : deskripsi, eksposisi, argumentasi, narasi
(Syafi’ie,1990: 151).sedangkan menurut Keraf(1989: 6) ragam tulisan didasarkan
pada tujuan umum, berdasarkan hal tersebut menulis dapat dibedakan menjadi
lima:
1)
Deskripsi
(perian)
Kata deskripsi
berasal dari bahasa latin describere yang berarti menggambarkan atau memerikan
sesuatuhal. Dari segi istilah,deskrpsi adalah suatu bentuk karangan yanng
melukiskan sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya sehingga pembaca dapat
mencitrai (melihat,mendengar,mencim dan merasakan)apa yang dilikiskan itu
sesuai dengan citra penulisannya.
2)
Eksposisi
(paparan)
Eksposisi berasal
dari kata exposition yang berarti membuka.dapat pula diartikan sebagai tulisan
yang bertujuan untuk memberitahu ,mengupas,menguraikan, atau menerangkan sesuatu.
3)
Argumentasi(bahasan)
Yang dimaksud dengan tulisan argumentasi adalah karangan yang
terdiri atas paparan alasan dan penyintesisan pendapat untuk membangun suatu
kesimpulan.Karangan ini ditulis dengan maksud untuk memberikan alasan,
memperkuat atau menolak sesuatu pendapat, pendirian , gagasan.
4)
Narasi
(kisahan)
Narasi atau
naratif adalah tulisan berbentuk karangan yang menyajikan serangkaian peristiwa
atau kejadian menurut urutan terjadinya (kronologis) dengan maksud memberi
makna kepada sebuah atau rentetan kejadian sehingga pembaca dapat memetik
hikmah dari cerita itu.
5)
Persuasi
Tulisan yang
bermaksud mempengaruhi orang lain dalam persuasi selain logika perasaan juga
memegang peranan penting.
b. Tingkatan menulis
Ada lima tingkatan
menulis yaitu:
1)
Timbulnya
pemahaman baca tulis(emergent literacy),anak mulai menyadari adanya kegiatan
baca tulis,anak mulai menyenangi jika ada orang melakukan baca tulis.semula
anak hanya memandangi tapi lama kelamaan ia akan mencoba menirukan .Anak mulai
memegang pensil,kemudian mencoret –coret pada kertas atau media lain.Tulisan
yang dihasilkan pada tahap ini memang belum bermakna,tetapi pada diri anak
sudah timbul rasa menyenangi kegiatan tersebut>Supaya tahap ini dapat timbul
pada diri anak maka diharapkan sebelum memulai melatih menulis anak dikenalkan
pada berbagai bahan bacaan ataupun tulisan yang dapat memberikan gambaran awal
pada proses penulisan
2)
Menulis
permulaan (beginning writing).Kegiatan ini biasa disebut dengan hand writing,
yaitu cara merealisasikan simbol- simbol bunyi dan cara menulisnya dengan
baik.Tingkatan ini terkait dengan strategi atau cara mewujudkan simbol-simbol
bunyi bahasa menjadi huruf- huruf yang dapat dikenali secara konkret.
3)
Pembinaan
kelancaran menulis (building fluency).pada tahap ini symbol-simbol bunyi bahasa
misalnya huruf-huruf yang telah dikenali secara konkret mulai
dihubung-hubungkan lebih lanjut menjadi kesatuan yang lebih besar dan memiliki
makna
4)
Menulis
untuk kesenangan dan belajar (writing for pleasure /reading to learn),sudah
timbul kesenangan pada diri anak akan perlunya menulis,pada tahap ini anak
melakukan kegiatan menulis dengan tujuan –tujuan tertentu yang disengaja
misalnya mencatat pelajaran,mencatat kegiatan dibuku harian,menulis surat untuk
teman dan sebagainya.Pada tingkatan ini anak sudah dapat menikmati kegiatan
menulisnya
5)
Menulis
matang ( mature writing) pada tahap ini anak sudah mampu menuangkan dan
mengekspresikan pikiran dan perasaannya melalui tulisan dengan baik ia telah
mampu memilih kata dengan tepat,menyusun kalimat dengan runtut,dan
mengembangkan paragraf dengan baik,tahap inilah yang memberikan kebebasan
berekspresi pada anak untuk menghasilkan tulisan – tulisan kreatif yang sangat
mencengangkan hasilnya
Dari kelima
tingkatan menulis tersebut secara sederhana biasanya dikelompokan menjadi
tingkatan yaitu menulis permulaan dan menulis lanjut.
1)
Tujuan
menulis permulaan adalah agar siswa dapat menulis kata-kata dan kalimat
sederhana dengan tepat. Pada menulis permulaan siswa diharapkan untuk dapat
memproduksi tulisan dapat dimulai dengan tulisan eja. Contoh tulisan e,d,f,k,j,dan dapat berupa suku
kata seperti su-ka,ma-ta,ha-rus, lu-kaserta dalam bentuk kalimat
sederhana.Seperti halnya membaca permulaan, menulis permulaan juga dapat
menggunakan metode-metode seperti metode abjad, metode suku kata, metode global
dan metode SAS. Menulis permulaan (dengan huruf kecil) di kelas 1SD tujuannya
siswa memahami cara menulis permulaan dengan ejaan yang benar dan
mengkomunikasikan ide/pesan secara tertulis,materi pelajaran menulis permulaan
dikelas 1SD disajikan secara bertahap dengan menggunakan pendekatan huruf,suku
kata,kata-kata atau kalimat. Menulis permulaan (dengan huruf besar pada awal
kalimat) di kelas II tujuannya siswa memahami cara menulis permulaan dengan
ejaan yang benar dan mengkomunikasikan ide /pesan secara tertulis,untuk
memperkenalkan cara menulis huruf besar di kelas II SD mempergunakan pendekatan
spiral maksudnya huruf demi huruf diperkenalkan secara berangsur-angsur sampai
pada akhirnya semua huruf dikuasai oleh para siswa.
2)
Tujuan
menulis lanjut adalah agar siswa mampu menuangkan pikiran dan perasaannya
dengan bahasa tulis secara teratur dan teliti.Yang membedakan menulis permulaan
dengan menulis lanjut adalah adanya kemampuan untuk mengembangkan skema yang
ada yang telah diperoleh sebelumnya untuk lebih mengembangkan hal-hal yang akan
ditulis.
6.
Pemetaan
Materi Menulis
Berdasarkan
jenjang kelas di SD pembelajaran menulis dibedakan menjadi 2 ( dua ) yaitu :
a.
Pembelajaran menulis permulaan
Kegiatan ini biasa disebut dengan hand writing, yaitu
cara merealisasikan simbol- simbol bunyi dan cara menulisnya dengan baik dan
benar. Tingkatan ini terkait dengan strategi atau cara mewujudkan simbol-simbol
bunyi bahasa menjadi huruf- huruf yang dapat dikenali secara konkret.
Tujuan menulis permulaan adalah agar siswa dapat menulis kata-kata dan
kalimat sederhana dengan tepat. Pada menulis permulaan siswa diharapkan untuk
dapat memproduksi tulisan dapat dimulai dengan tulisan eja. Contoh tulisan
e,d,f,k,j dan dapat berupa suku kata seperti su-ka, ma-ta, ha-rus, lu-ka serta
dalam bentuk kalimat sederhana. Seperti halnya membaca permulaan, menulis
permulaan juga dapat menggunakan metode-metode seperti metode abjad, metode
suku kata, metode global dan metode SAS. Pembelajaran permulaan ini terjadi
pada kelas rendah yaitu kelas I dan kelas II.
Ruang lingkup pembelajaran menulis di kelas rendah
antara lain sebagai berikut :
1) Kelas I ( satu )
Menulis
permulaan di kelas I ini menggunakan huruf-huruf kecil, tujuannya siswa dapat
memahami cara menulis permulaan dengan ejaan yang benar dan mengkomunikasikan
ide/pesan secara tertulis, materi pelajaran menulis permulaan dikelas I SD
disajikan secara bertahap dengan menggunakan pendekatan huruf, suku kata,
kata-kata atau kalimat.
2) Kelas II ( dua )
Menulis
permulaan di kelas II ini menggunakan huruf – huruf besar pada pada awal
kalimat dan penggunaan tanda baca, tujuannya siswa memahami cara menulis
permulaan dengan ejaan yang benar dan mengkomunikasikan ide/pesan secara
tertulis, untuk memperkenalkan cara menulis huruf besar di kelas II SD
mempergunakan pendekatan spiral maksudnya huruf demi huruf diperkenalkan secara
berangsur-angsur sampai pada akhirnya semua huruf dikuasai oleh para siswa.
b.
Pembelajaran menulis lanjutan ( pemahaman )
Pembelajaran
menulis ini terdapat dikelas III, IV, V, VI. Tujuan menulis lanjut adalah agar
siswa mampu menuangkan pikiran dan perasaannya dengan bahasa tulis secara
teratur dan teliti. Yang membedakan menulis permulaan dengan menulis lanjut
adalah adanya kemampuan untuk mengembangkan skema yang ada yang telah diperoleh
sebelumnya untuk lebih mengembangkan hal-hal yang akan ditulis.
Teknik dan
Model Pembelajaran Menulis Cerita berdasarkan butir-butir pembelajaran menulis
di kelas tinggi (kelas 3-6) SD terdapat ragam teknik pembelajaran
menulis. Teknik pembelajaran menulis dikelompokkan menjadi dua, yakni
menulis cerita dan menulis untuk keperluan sehari-hari :
a)
Menulis cerita
Menulis
cerita Teknik ini terdiri atas 6 macam, yaitu:
1)
Menyusun kalimat.
Teknik menyusun cerita dapat dilakukan dengan:
menjawab pertanyaan, melengkapi kalimat memperbaiki susunan kalimat, memperluas
kalimat, subtitusi, transfomtasi dan membuat kalimat.
2)
Teknik memperkenalkan cerita Meliputi : baca dan tulis, simak dan tulis
3)
Meniru model
4)
Menyusun paragaf
5)
Menceritakan kembali
6)
Membuat.
b)
Menulis untuk keperluan sehari-hari
Menulis
untuk keperluan sehari-hari meliputi ragam menulis: menulis surat, menulis
pengumuman, mengisi formulir, menulis surat undangan, membuat iklan, dan
menyusun daftar riwayat hidup. Model pembelajaran menulis cerita/cerpen di SD
meliputi: menceritakan gambar, melanjutkan cerita lain, menceritakan mimpi,
menceritakan pengalaman, dan menceritakan cita-cita
B.
Membuat
Garis besar dan Memetakan
Penggunaan pengorganisasi awal
merupakan suatu alat pengajaran yang direkomendasikan oleh Ausubel, untuk
mengkaitkan bahan-bahan pelajaran baru dengan pengetahuan awal. Pepengetahuan
awal menurut ausubel adalah menggarisbawahi ide-ide utama dalam suatu situasi
pembelajaran yang baru dan mengkaitkan ide-ide baru tersebut dengan pengetahuan
yang telah ada pada pembelajar.
Pemetaan konsep menurut martin,
merupakan inovasi baru yang penting untuk membantu anak menghasilkan
pembelajaran yang bermakna dalam kelas. Peta konsep menyediakan bantuan visual
konkret untuk membantu mengorganisasikan informasi sebelum informasi tersebut
di pelajari.
1.
Pengertian
Konsep dan Peta Konselor
Konsep merupakan kondisi utama yang
diperlukan untuk menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif
fundamental sebelumnya berdasarkan kesamaan ciri-ciiri dari sekumpulan stimulus
dan obyek-obyeknya. Carrol mendefinisikan konsep sebagai suatu abstraksi dari
serangkaian pengalaman yang didefinisikan sebagai suatu kelompok objek atau
kejadian.
Adapun yang dimaksud peta konsep
adalah ilustrasi grafis konkret yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep
tunggal dihubungkan ke konsep-konsep lain pada kategori yang sama. Agar
pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas maka Dahar mengemukakan ciri-ciri
peta konsep sebagai berikut:
a)
Peta konsep atau
pemetaan konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan
proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu fisika, kimia, bioligi, atau
matematika.
b)
Suatu peta konsep
merupakan gambar dua dimensi dari suatu bidang studi, atau suatu bagian dari
bidang studi. Ciri inilah yang dapat memperlihatkan hubungan-hubungan
proporsional antara konsep-konsep.
c)
Tidak semua konsep
memiliki bobot yang sama. Ini berarti ada konsep yang lebih inklusif daripada
konsep-konsep yang lain.
d)
Bila dua atau lebih
konsep digambarkan dibawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu
hirarki pada peta konsep tersebut.
Berdasarkan ciri tersebut diatas maka sebaiknya peta konsep disusun secara hirarki, artinya konsep yang lebih inklusif diletakkan pada puncak peta, makin kebawah konsep-konsep diurutkan menjadi konsep yang kurang inklusif.
Berdasarkan ciri tersebut diatas maka sebaiknya peta konsep disusun secara hirarki, artinya konsep yang lebih inklusif diletakkan pada puncak peta, makin kebawah konsep-konsep diurutkan menjadi konsep yang kurang inklusif.
2.
Cara
Membuat Peta Konsep
Pembuatan peta konsep menurut
Arends memberikan langkah-langkah sebagai berikut:
a)
Mengidentifikasi ide
pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep. Contoh ekosistem.
b)
Mengidentifikasi
ide-ide atau konsep sekunder yang menunjang ide utama.
c)
Tempatkan ide utama di
tengah atau puncak peta tersebut
d)
Kelompokkan ide-ide
sekunder di sekeliling ide utama yang secara visual menunjukkan ide-ide tersebut
dengan ide utama.
Berdasarkan
pendapat di atas dapatlah dikemukakan langkah-langkah dalam pembuatan peta
konsep sebagai berikut :
a) Memilih
suatu bahan bacaan
b) Menentukan
konsep yang relevan
c) Mengurutkan
konsep-konsep dari yang inklusif ke yang kurang inklusif
d) Menyusun
konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan
3. Macam-macam Peta Konsep
a) Pohon
jaringan (network tree )
Ide-ide
pokok dibuat dalam persegi empat sedangkan beberapa kata yang lain dituliskan
pada garis – garis penghubung. Garis – garis itu pada peta konsep menunjukkan
hubungan antaara ide – ide itu. Kata – kata yang ditulis pada garis memberikan
hubungan antara konsep-konsep.
b) Rantai
kejadian (events chain )
Nur
mengemukakan bahwa peta konsep rantai kejadian dapat digunakan untuk memberikan
suatu urutan kejadian,langkah – langkah dalam suatu prosedur atau tahap-tahap
dalam suatu proses.
c) Peta
konsep siklus (cycle concept map )
Dalam
peta konsep siklus rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil final.
Kejadian terakhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal.
Karena tidak ada hasil dan kejadian terakhir itu menghubungkan kembali ke
kejadian awal. Siklus itu berulang dengan sendirinya.
d) Peta
konsep laba-laba (spider concept map )
Dapat
digunakan untuk curah pendapat. Melakukan curah pendapat ide-ide berangkat dari
suatu ide sentral sehingga dapat memperoleh ide yang bercampur aduk.
4.
Peta
Konsep Sebagai Alat Evaluasi
Peta
konsep sebagai alat evaluasi didasarkan atas tiga prinsip yaitu:
a)
Struktur kognitif
diatur secara hirarkis dengan konsep-konsep dan proposisi yang lebih
inklusif,lebih umum,superordinat terhadap konsep-konsep dan proposisi yang
kurang inklusif dan lebih khusus
b)
Konsep-konsep dalam
struktur kognitif mengalami diferensiasi progesif
c)
Prinsip penyesuaian
integratif menyatakan bahwa belajar bermakna akan meningkat bila siswa
menyadari akan perlunya kaitan-kaitan baru antara segmen-segmen konsep atau
proposisi.
Karena peta konsep bertujuan untuk
memperjelas pemahaman suatu bacaan ,sehingga dapat dipakai sebagai alat
evaluasi dengan cara meminta siswa untuk membaca peta konsep dan menjelaskan
hubungan antara konsep satu dengan konsep lain dalam satu peta konsep.
C.
Metode
PQ4R
1.
Pengertian
Pada dasarnya strategi pembelajaran
PQ4R berasal dari Strategi elaborasi, dimana strategi elaborasi adalah proses
penambahan perincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna, oleh
karena itu membuat pengkodean lebih mudah dan lebih memberikan kepastian.
Strategi ini membantu pemindahan informasi baru dari memori jangka pendek ke
memori jangka panjang, melalui penciptaan gabungan dan hubungan antara
informasi baru dan apa yang telah diketahui.
Strategi PQ4R merupakan salah satu
bagian dari strategi elaborasi. Strategi ini digunakan untuk membantu siswa
mengingat apa yang mereka belajar, dan dapat membantu proses belajar rnengajar
di kelas yang dilaksanakan dengan kegiatan membaca buku. Kegiatan membaca buku
bertujuan untuk mempelajari sampai tuntas bab demi bab suatu buku pelajaran.
Oleh karena itu keterampilan pokok pertama yang harus dikembangkan dan dikuasai
oleh para siswa adalah membaca buku pelajaran dan bacaan tambahan lainnya.
Adapun PQ4R adalah merupakan
singkatan dari kata Preview, maksudnya membaca selintas dengan cepat, Question,
maksudnya menyusun daftar pertanyaan yang relevan dengan teks, Read, maksudnya
membaca teks secara aktif untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang
telah tersusun, Reflect, maksudnya memahami informasi yang dipresentasikan,
Recite, maksudnya menghafal atau mengingat kembali setiap jawaban yang telah
ditemukan, Review , maksudnya meninjau ulang seluruh jawaban atas pertanyaan
yang tersusun pada langkah kedua dan ketiga.
2.
Langkah-Langkah
Strategi PQ4R
Langkah-langkah yang dilakukan dalam
pembelajaran dengan menggunakan strategi PQ4R adalah sebagai berikut :
a) Preview
Langkah
ini dimaksudkan agar siswa, membaca selintas bahan bacaan untuk menemukan ide
pokok yang menjadi inti pembahasan dalam bahan bacaan siswa. Dengan ide pokok
ini akan memudahkan mereka memberi keseluruhan ide yang ada. Selain itu
menandai bagian-bagian tertentu yang akan dijadikan sebagai bahan pertanyaan
untuk mempermudah proses penyusunan daftar pertanyaan pada langkah selanjutnya.
b) Question
Langkah
kedua adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri yang ada pada
bahan bacaan siswa. Pertanyaan tersebut disusun secara jelas, singkat dan
relecan dengan bagian-bagian teks yang telah ditandai pada langkah pertama.
Pengalaman ini telah menunjukkan bahwa apabila seseoran gmembaca untuk menjawab
sejumlah pertanyaan, maka akan membuat dia membaca lebih hati-hati serta
seksama serta akan dapat membantu mengingat apa yang di baca dengan baik.
c) Read
Membaca
secara aktif dalam rangka mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah
tersusun. Dalam hal ini membaca secara aktif juga berarti membaca yang
difokuskan kepada paragraf-paragraf yang diperkirakan mengandung
jawaban-jawaban yang diperkirakan relevan dengan pertanyaan tadi.
d) Reflect
Selama
membaca, siswa tidak hanya cukup mengingat atau menghafal, tetapi juga memahami
informasi yang dibaca, yaitu dengan cara menghubungkan informasi itu dengan
hal-hal yang telah diketahui, mengaitkan subtopik-subtopik di dalam teks dengan
konsep atau pikiran utama, memecahkan kontradiksi di dalam informasi yang
disajikan dan menggunakan materi itu untuk memecahkan masalah-masalah yang
disimulasikan dan dianjurkan dari materi pelajaran tersebut.
e) Recite
Siswa
diminta untuk merenungkan (mengingat) kembali informasi yang telah dipelajari
dengan menyebutkan lagi jawaban-jawaban atas pertanyaan yang telah tersusun.
f) Review
Langkah
terakhir ini siswa diminta untuk membaca kembali catatan yang telah dibuatnya,
mengulang kembali seluruh isi bacaan bila perlu dan sekali lagi meninjau ulang
seluruh pertanyaan dan jawaban secara singkat.
3.
Penerapan Strategi PQ4R
|
Langkah-langkah
|
Tingkah Laku Guru
|
Aktifivitas Siswa
|
|
Langkah 1
Preview
|
a. Memberikasn bahan
bacaab kepada siswa untuk di baca
b. Menginformasikan
kepada siswa bagaimana ide pokok/tujuan pembelajaran yang hendak dicapai
|
Membaca selintas
dengan tepat untuk menemukan ide pokok / tujuan pembelajaran yang hendak
dicapai
|
|
Lamgkah 2
Question
|
a. Menginformasikan
kepada siswa agar memnperhatikan makna dari bacaan
b. Memberikan tugas
kepada siswa untuk membuat pertanyaan dari ide pokok yang ditemukan
dengan menggunakan kata-kata apa, mengapa, siapa, dan bagaimana
|
a. Memperhatikan
penjelasan guru
b. Menjawab pertanyaan
yang telah dibuatnya
|
|
Langkah 3
Read
|
Memberikan tugas kepada siswa untuk membaca dan menanggapi /
menjawab pertanyaan yang telah di susun sebelumnya
|
Membaca
secara Aktif memberikan tanggapan terhadap apa yang telah di baca
dan menjawab pertanyaan yang di buatnya
|
|
Langkah 4
Reflect
|
Mensimulasikan/menginformasikan materi yang ada pada bahan
bacaan
|
Bukan hanya sekedar menghafal dan mngingat materi pelajaran tapi
mencoba memecahkan masalah dari informasi yang diberikan oleh guru dengan
pengetahuan yang telah di ketahui melalui bahan bacaan
|
|
Langkah 5
Recite
|
Meminta siswa membuat intisari dari seluruh pembahasan pelajaran
yang dipelajari hari ini
|
a. Menanyakan
dan menjawab pertanyaan-pertanyaan
b. Melihat
catatan-catatan/intisari yang telah dibuat sebelumnya
c. Membuat
intisari dari seluruh pembahasan
|
|
Langkah 6
Review
|
a. Menugaskan siswa
membaca inti sari yang dibuatnya dari rincian ide pokok yang ada dalam
benaknya
b. Meminta siswa membaca
kembali bahan bacaan, jika masih belum yakin dengan jawabannya
|
a. Membaca intisari yang
telah dibuatnya
b. Membaca kembali bahan
bacaan siswa jika masih belum yakin akan jawaban yang telah dibuatnya.
|
4.
Kelebihan
dan Kekurangan Strategi PQ4R
Sampai sejauh ini tidak ada satu pun
strategi yang dianggap paling baik, karena baik tidaknya model atau strategi
yang digunakan tergantung kepada tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
Berikut ini
adalah keunggulan-keunggulan strategi PQ4R yaitu:
a) Cocok
untuk kelas besar dan kecil.
b) Dapat
digunakan untuk materi-materi yang mengandung fakta-fakta, sila-sila,
rukun-rukun atau prinsip-prinsip dan definisi-definisi.
c) Strategi
ini mudah digunakan ketika peserta didik harus mempelajari materi yang bersifat
menguji pengetahuan kognitif.
d) Strategi
ini cocok untuk memulai pembelajaran sehingga peserta didik akan terfokus
perhatiannya pada istilah dan konsep yang akan dikembangkan dan yang
berhubungan dengan mata pelajaran untuk kemudian dikembangkan menjadi konsep
atau bagan pemikiran yang lebih ringkas.
e) Strategi
ini memungkinkan siswa belajar lebih aktif, karena memberikan kesempatan
mengembangkan diri, diharapkan mampu memecahkan masalah sendiri dengan
menemukan dan bekerja sendiri.
Di samping memiliki kelebihan, strategi
PQ4R juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu:
a) Jika
PQ4R digunakan sebagai strategi pembelajaran pada setiap materi pelajaran, maka
guru akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b) Dalam
mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga guru sulit
menyesuaikannya dengan waktu yang ditentukan.
c) Menuntut
para guru untuk lebih menguasai materi lebih luas lagi dari standar yang telah
ditetapkan.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Dari penjelasan diatas tentang keterampilan belajar yaitu ;
menulis untuk belajar, peta konsep, dan metode PQ4R, maka dapat disimpulkan
sesuai dengan tujuan di buatnya makalah ini, yaitu bahwa :
1. Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang
grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang di pahami oleh seseorang sehingga
orang lain dapat membaca langsung lambang- lambang grafik tersebut kalau mereka
memahami bahasa dan gambaran grafik itu.
2. Adapun
yang dimaksud peta konsep adalah ilustrasi grafis konkret yang mengindikasikan
bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan ke konsep-konsep lain pada kategori
yang sama.
3. Berdasarkan
pendapat di atas dapatlah dikemukakan langkah-langkah dalam pembuatan peta
konsep sebagai berikut :
a. Memilih
suatu bahan bacaan
b. Menentukan
konsep yang relevan
c. Mengurutkan
konsep-konsep dari yang inklusif ke yang kurang inklusif
d. Menyusun
konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan
4. Cara
menerapan metode PQ4R adalah seperti yang sudah dijelaskan diatas
5. Kelemahan
dan keunggulan dari metode PQ4R sakah satunya adalah
a) keunggulan-keunggulan
strategi PQ4R yaitu:
b) Cocok
untuk kelas besar dan kecil.
c) Dapat
digunakan untuk materi-materi yang mengandung fakta-fakta, sila-sila,
rukun-rukun atau prinsip-prinsip dan definisi-definisi.
Di samping memiliki kelebihan,
strategi PQ4R juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu:
a) Jika
PQ4R digunakan sebagai strategi pembelajaran pada setiap materi pelajaran, maka
guru akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b) Dalam
mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga guru sulit
menyesuaikannya dengan waktu yang ditentukan.
DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, Henry Guntur, 1986. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:
Penerbit Angkasa.
Suparno. 2002. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta:
Depdiknas-UT
Tarigan, H.G.
1987. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:
Angkasa.






0 komentar:
Posting Komentar
silahkan berkomentar dengan sopan