BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Latar Belakang Trait
andf Factor Counseling
Asal-usul teori trait-and-factor dapat ditelusuri ke
masa Frank Parsons. Teori tersebut menegaskan bahwa karakter klienlah yang
harus pertama kali dinilai, dan kemudian dicocokkan secara sistematis dengan
faktor-faktor yang terlibat di dalam berbagai jabatan. Pengaruh teori ini
terbesar sangat luas pada masa Depresi Besar, ketika E. G. Williamson (1993)
mempelopori penggunaannya. Pada tahun 1950-an dan 1960-an teori tersebut mulai
ditinggalkan, tetapi muncul kembali dalam bentuk yang lebih modern, yang dapat
dikarakteristikkan sebagai “struktural” dan tercemin dalam hasil kerja para
peneliti seperti John Holland, (1997). Teori ini selalu menegaskan keunikan
setiap orang. Penganjur teori ini berpendapat bahwa kemampuan dan karakter
seseorang harus diukur secara objektif dan kuantitatif. Motivasi pribadi dianggap
relatif stabil. Jadi, kepuasan dalam jabatan tertentu bergantung pada kecocokan
antara kemampuan seseorang dengan persyaratan suatu pekerjaan.
Trait and factor
counseling dapat
dideskripsikan dengan mengatakan: corak konseling yang menekankan pemahaman
individu melalui testing psikologis dan penerapan pemahaman itu dalam
memecahkan beraneka problem yang dihadapi,terutama yang menyangkut pilihan
program studi/atau bidang pekerjaan.Pelopor pengembangan corak konseling ini
yang paling terkenal ialah E.G.Williamson, corak konseling ini juga dikenal
dengan directive counseling atau Counseling-Centered Counseling , karena
konselor secara sadar mengadakan strukturalisasi dalam proses konseling dan
berusaha mempengaruhi arah perkembangan konseli demi kebaikan konseling
sendiri.Corak konseling ini menilai tinggi kemampuan manusia untuk berpikir
rasional dan memandang masalah konseli sebagaiproblem yang harus dipecahkan
dengan menggunakan kemampuan itu (problem-solving
approach).Dalam segi teoritis dan dalam segi pendekatannya,corak konseling
ini bersumber pada gerakan bimbingan jabatan, sebagaimana dikembangkan di
Amerika Serikat sejak awal abad yang
ke-20.
Dalam
bukunya yang berjudul Vocation Counseling
(1965) Williamson menguraikan sejarah perkembangan bimbingan jabatan dan proses
lahirnya konseling jabatan yang berpegang pada teori Trait-Factor.Pada akhir abad yang ke-19 Frank Parsons mulai mencari
suatu cara untuk membantu orang-orang muda dalam memlih suatu bidang pekerjaan
yang sesuai dengan potensi mereka, sehingga dapat cukup berhasil di bidang
pekerjaan itu.Dalam bukunya Choosing a
Vocation (1909),Frank Parsons menunjukkan tiga langkah yang harus diikuti
dalam memiliih suatu pekerjaan yang sesuai,yaitu:pertama,pemahaman diri yang
jelas mengenai kemampuan otak,bakat,minat,berbagai kelebihan dan
kelemahan,serta ciri-ciri yang lain.Kedua,pengetahuan tentang keseluruhan
persyaratan yang harus dipenuhi supaya dapat mencapai sukses dalam berbagai
bidang pekerjaan,serta tentang balas jasa dan kesempatan untuk maju dalam semua
bidang pekerjaan itu.Ketiga, berpikir secara rasional mengenai hubungan antara
kedua kelompok diatas.Jadi,langkah pertama menggunakan analisis diri;langkah
yang kedua memanfaatkan informasi jabatan (vocational
information);langkah yang ketiga menerapkan kemampuan untuk berpikir
rasional guna menemukan kecocokan antara ciri-ciri kepribadian, yang mempunyai
relevansi terhadap kesuksesan atau kegagalan suatu pekerjaan / jabatan,dengan
tuntutan klasifikasi dan kesempatan yang terkandung dalam suatu pekerjaan atau
jabatan.Dengan demikian, orang muda bukannya mencari pekerjaan demi asal punya
pekerjaan (the hunt of a vocation).Namun
prosedur yang digunakan oleh Frank Parsons untuk menemukan fakta dalam rangka
langkah kerja yang pertama dan yang kedua ternyata tidak seluruhnya dapat
dipertanggungjawabkan dari segi analisis psikologi dan sosial secar
ilmiah.Tekanan pada studi psikologi terhadap masing-masing orang dalam suatu
klinik psikologis,dengan menggunakan alat-alat yang dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah,menjadi ciri khas dari aliran konseling yang kemudian disebut Konseling Klinikal .Corak konseling yang
berpegang pada teori Trait-Factor berkembang dalam rangka konsepsi aliran
Konseling Klinikal.Oleh karena itu,pendekatan konseling Trait-Factor dalam beberapa buku dinamakan Konseling Klinikal.
Alat yang
digunakan untuk mempelajari keadaan seseorang sehingga menghasilkan suatu
analisis bagi masing-masing pribadi,adalah tes-tes psikologis yang mula-mula
digunakan pelh para ahli psikologi industri dalam rangka seleksi aplikam umtuk
bidang-bidang pekerjaan tertentu.Berdasarkan identifikasi berbagai kemmapuan
yang dimiliki atau tidak dimiliki seseorang setelah dites,dan bedasarkan
penelitian terhadap tuntutan pekerjaan di lapangan untuk mengetahui kemampuan
mana yang harus dimilki seseorang supaya berhasil dalam suatu jenis pekerjaan
tertentu, ahli-ahli psikologi industri itu menyusun tabel-tabel prakiraan
sukses atau gagalnya seorang aplikan dalam jenis pekerjaan tertentu.Cara
berfikir yang demikian mulai diikuti juga oleh konselor jabatan,dengan
menekankan penggunaan tes-tes psikologis sebagai alat untuk mengidentifikasi
ciri-ciri kepribadian seseorang yang mempunyai relevansi terhadap suatu jabatan
atau pekerjaan.Dalam hal ini aliran konseling jabatan berpegang pada teori
kepribadian ynag dikenal dengan nama teori Trait-factor.Yang
dimaksud dengan Trait adalah suatu
ciri yang khas bagi seseorang dalam berfikir,berperasaan,dan
berperilaku,seperti intelegensi(berpikir),iba hati(berperasaan),dan
agresif(berperilaku).Ciri-ciri itu dianggap sebagai suatu dimensi kepribadian,
yang masing-masing membentuk suatu kontinium atau skala yang terentang dari
sangat tinggi sampai sangat rendah.
Ciri-ciri
dasar yang ditemukan oleh ahli disebut
factors,misalnya Cattell berpendapat telah menemukan 16 faktor,yang
merupakan ciri-ciri dasar yang dapat mendeskripsikan kepribadian seseorang
secara memadai.Teori Trait –Factor adalah pandangan yang mengatakan bahwa
kepribadian seseorang dapat dilukiskan dengan mengidentifikasikan sejumlah
ciri,sejauh tampak dari hasil testing psikologis yang mengukur masing-masing
dimensi kepribadian itu.Konseling Trait-Factor
berpegang pada pandangan yang sama dan menggunakan tes-tes psikologis untuk
menganalisis atau mendiagmatis seseorang mengenai ciri-ciri atau dmensi/aspek
kepribadian tertentu,yang diketahui mempunyai relevansi terhadap keberhasilan
atau kegagalan seseorang dalam memangku jabatan dan mengikuti suatu program
studi.Dalam hal ini program studi di instutusi pendidikan juga dipandang
sebagai “jabatan”,sehingga akan diikuti prosedur yang sama terhadap pilihan
bidang pekerjaan dan bidang studi.Dengan demikian,aliran konseling jabatan
telah memperluas diri menjadi Konseling
Jabatan-Akademik,yang dewasa ini sering disebut Konseling Karier.
2.2 Pengembang Utama Trait and Factor
2.3 Konsep Dasar Pendekatan
Williamson merumuskan pula sejumlah asumsi yang
mendasari Trait-Factor Counseling dalam suatu karangan yang dimuat dalam
Theories of Counseling (Stefflre, 1965, Bab V), sebagai berikut:
a. Setiap
individu mempunyai sejumlah kemampuan dan potensi, seperti taraf intelegensi
umum, bakat khusus, taraf kreativitas, wujud minat serta keterampilan, yang
bersama-sama membentuk suatu pola yang khas untuk individu ini. Kemampuan dan
variasi potensi itu merupakan ciri-ciri kepribadian (traits), yang telah agak
stabil sesudah masa remaja lewat dan dapat diidentifikasikan melalui tes-tes
psikologis. Data hasil testing memberikan gambaran deskriptif tentang
individualitas seseorang yang lebih dapat diandalkan daripada hasil instropeksi
atau refleksi terhadap diri sendiri.
b. Pola
kemampuan dan potensi yang tampak pada seseorang menunjukkan hubungan yang
berlain-lainan dengan kemampuan dan keterampilan yang dituntut pada seorang
pekerja di berbagai bidang pekerjaan. Juga wujud minat yang dimiliki seseorang
menunjukkan hubungan yang berlain-lainan dengan pola minat yang ditemukan pada
orang berkarier di berbagai bidang pekerjaan. Dengan demikian, dibutuhkan
informasi jabatan (vocational information), yang tidak hanya endeskripsikan
tugas-tugas yang dilakukan, tetapi menggambarkan pula pola kualifikasi dalam
kepribadian pekerja, yang harus dipenuhi supaya mencapai sukses dalam suatu
bidang pekerjaan. Informasi jabatan yang terandalkan hanya dapat diperoleh
melalui aneka usaha penelitian ilmiah, bukan berdasarkan kesan pribadi dari
calon pekerja atau dari pekerja yang sudah bertugas. Justru analisis jabatan
(job analysis) dalam bentuk identifikasi kualifikasi yang dituntut (human
capacities) memungkinkan penemuan hubungan yang berarti dengan kemampuan,
minat, dan ketrampilan yang diidentifikasikan pada seorang calon pekerja
melalui testing psikologis. Sejumlah kualifikasi yang diketahui berdasarkan
penelitian ilmiah itu justru menjadi norma objektif yang dapat digunakan
sebagai patokan untuk meramalkan, apakah seorang calon pekerja dapat berhasil
baik atau tidak. Ini semua memberikan dasar pada langkah ketiga menurut model
Parsons dan tidak hanya tinggal kesan subjektif tentang kecocokan seseorang bagi
bidang pekerjaan tertentu.
c. Sesuai
dengan pola berpikir pada butir (b), kurikulum suatu program studi menuntut
sejumlah kualifikasi tertentu. Calon (maha) siswa akan belajar dengan lebih
mudah dan dengan hasil yang lebih memuaskan, kalau pola kemampuan dan minatnya
sesuai dengan pola kualifikasi tertentu yang dituntut dari seorang (maha) siswa
yang mengikuti program studi tertentu. Dengan demikian informasi pendidikan
(educational information) yang dibutuhkan bukan hanya mendeskripsikan isi dari
suatu program studi, tetapi juga menggambarkan pola kualifikasi (human
capacities) yang dituntut. Informasi ini harus bersifat objektif berdasarkan
hasil penelitian, dan tidak boleh tinggal informasi yang berupa kesan sebjektif
dari orang-perorang atau beberapa orang saja. Diagnosis terhadap pola kemampuan
dan minat yang dimiliki seseorang harus mendahului penerimaan dan penempatan
dalam program studi tertentu. Diagnosis atau analisis psikologis ini dapat
dilaksanakan dengan menggunakan aneka alat tes yang terandalakan. Penentuan
kecocokan atau ketidakcocokan antara data tentang tuntutan program studi dan
data tentang individu, lebih dapat diandalkan daripada hanya prakiraan
kecocokan atas dasar pandangan pribadi tentang diri sendiri dan sekadar kesan
tentang tuntutan program studi. Setiap individu mampu, berkeinginan, dan
berkecenderungan untuk mengenal diri sendiri serta memanfaatkan pemahaman diri
itu dengan berpikir baik-baik, sehingga dia akan menggunakan keseluruhan
kemampuannya semaksimal mungkin dan demikian mengatur kehidupannya sendiri
secara memuaskan.
2.4 Asumsi Tingkah Laku Sehat dan Bermasalah
a. Asumsi
perilaku sehat
Apabila klein dapat mengembangkan berbagai aspek
kehidupannya seperti pemahaman dan pengelolaan diri dengan mengenali kelebihan
dan kelemahan dirinya serta mampu memperbaiki kelemahannya sehingga integritas
kepribadian tercapai.
Pribadi sehat menurut (Fauzan, Lutfi dan Suliono 1991 / 1992 Konseling
Individu Trait and Factor DEPDIKBUD Malang) :
- Mampu berfikir rasional untuk memecahkan masalah secara bijaksana
- Memahami kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri
- Mampu mengembangkan segala potensi secara penuh
- Memiliki motivasi untuk meningkatkan/ menyempurnakan diri
- Dapat menyesuaikan diri di masyarakat
b. Asumsi
perilaku bermasalah
Apabila klien tidak mampu mampu memahami dan mengelola
diri tentang berbagai kelebihan dan kekurangannya.
Asumsi perilaku bermasalah / malasuai adalah individu yang tidak mampu
memahami kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya sehingga individu
tersebut tidak dapat mengaktualisasikan dirinya secara optimal. (Gudnanto.
2012. FKIP UMK). Pribadi malasuai menurut kategori Bordin (Fauzan, Lutfi.2004.
83):
- Depcelence (ketergantungan)
- Lach of information (kurang informasi)
- Self conflict (konflik diri)
- Chose anxicty (cemas memilih)
- No Problem (bukan permasalah selain diatas)
Kategori
Pepinsky
- Lack of assurance (kurang percaya diri)
- Lack of skill (kurang keterampilan)
- Depcelence (ketergantungan)
- Lach of information (kurang informasi)
- Self conflict (konflik diri)
- Chose anxicty (cemas memilih)
2.5 Hakikat dan Tujuan Konseling
2.5.1 Hakikat Konseling
a.
Konseling merupakan suatu proses belajar yang
menekankan hubungan rasional antara klien dan konselor
b.
Konseling
merupakan hubungan yang bersifat pribadi antara konselor dan klien yang ditujukan
untuk membantu klien memahami diri, menerima diri, mengarahkan diri, dan
mengaktualisasikan diri
c.
Konseling
diupayakan sebagai mana pendidkan membantu klien mengembangkandirinya sesuai
dengan nilai – nilai pribadi dan nilai- nilai masyarakat.
d.
Konsep konseling lebih luas dari pada
konsep psikoterapi.
2.5.2 Tujuan Konseling
Tujuan Konseling Trait and Factor adalah :
a.
Membantu klien agar merasa lebih
baik dengan menerima pandangan dirinya sendiri dan membantu klien berpikir
lebih jernih dalam menghadapi masalah dan mengontrol perkembangannya secara
rasional.
b.
Memperkuat keseimbangan antara
pengaktifan dan pemahaman sifat-sifat sehingga dapat bereaksi dengan stabil dan
wajar.
c.
Membantu individu mencapai perkembangan
kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia.
d.
Membantu individu dalam memperoleh kemajuan
memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelemahan
diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujuan-tujuan hidup dan karir.
e.
Membantu individu untuk memperbaiki kekurangan,
ketidakmampuan, dan keterbatasan diri serta membantu pertumbuhan dan integrasi kepribadian
Tujuan lainnya yaitu membantu individu tumbuh kearah perkembangan yang
optimal dalam segala aspek kepribadian.
a.
Self
clrafication (kejelasandiri)
b.
Self
anderstanding ( pemahamandiri )
c.
Self
direction ( pengarahandiri )
d.
Self
actualization ( perwujudandiri )
Dari sumber lain
menyebutkan, konseling trait and factor bertujuan: (1) membantu individu
mencapai perkembangan kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia; (2) membantu
individu dalam memperoleh kemajuan memahami dan mengelola diri dengan cara
membantunya menilai kekuatan dan kelemahan diri dalam kegiatan dengan perubahan
kemajuan tujuan-tujuan hidup dan karir; (3) membantu individu untuk memperbaiki
kekurangan, tidakmampuan, dan keterbatasan diri serta membantu pertumbuhan dan
integrasi kepribadian; dan (4) mengubah sifat-sifat subyektif dan kesalahan
dalam penilaian diri dengan mengggunakan metode ilmiah.
2.6 Peran dan Fungsi Konselor
Peran
konselor adalah memberitahukan, memberikan informasi, mengarahkan, oleh karena
itu, pendekatan ini di sebut directive education conseling
a. Sebagai guru
b. Sebagai
motivator
c. Sebagai
model
d. Sebagai
evaluator
Peranan yang dapat dan seharusnya
dilakukan oleh seorang konselor Trait and Factor (Surya, Mohamad. 2003 : 5)
adalah sebagai berikut :
1. Konselor memberitahu kepada klien
tentang berbagai kemampuan yang diperoleh melalui penyelenggaraan testing
psikologis, angket dan alat ukur lainnya.
2. Konselor memberitahukan tentang
bidang-bidang yang cocok sesuai dengan kemampuan serta karakteristiknya.
3. Konselor secara aktif mempengaruhi
perkembangan klien.
4. Konselor membantu klien mencari atau
menemukan sebab-sebab kesulitan atau gangguannya dengan diagnosis eksternal.
5. Secara esensial peranan konselor
adalah seperti guru, dimana “memberi informasi” dan “mengarahkan secara
efektif”.
2.7 Tahap-Tahap Konseling
Adapun tahap-tahap konseling trait and factor :
1. Analisis
Merupakan tahapan kegiatan: pengumpulan informasi
dan data mengenai klien. Konselor dan klien memiliki informasi yang dapat
dipercaya, tepat, dan relevan untuk mendiagnosis pembawaan, minat,
motif, keseimbangan emosional dan sifat-sifat lain yang memudahkan
penyesuaian diri. Analisis dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat, seperti:
cacatan kumulatif, wawancara, catatan anekdot, tes psikologis, dan studi
kasus. Selain mengumpulkan data obyektif, konselor harus memperhatikan
pula cita-cita dan sikap klien dan cara memandang permasalahannya.
Data yang dibutuhkan pada tahapan analisis ini, dapat dibuatkan
klarifikasi-klarifikasi sebagai berikut:
a.
Data vertikal (menyangkut diri
klien), terdiri atas:
1)
Data fisik: kesehatan ciri-ciri
fisik, penampakan fisik.
2)
Data psikis: bakat, minat, sikap,
cita-cita, hobi, kebiasaan dlsb.
b.
Data horisontal
Data
horisontal (berkaitan dengan latar belakang atau lingkungan) klien : data
keluarga, kehidupan di sekolah, tempat tinggal dlsb.
2. Sintesis
Merangkum
dan mengatur data hasil analisis yang sedemikian rupa sehingga menunjukkan
bakat klien, kelamahan dan kekuatan, serta kemampuan penyesuaian diri. Ada tiga
cara yang biasanya dilakukan dalam merangkum data pada tahap sintesis, yaitu,
dibuat oleh konselor, dibuat oleh klien dan dibuat oleh keduanya (kolaborasi).
Yang terbaik dari ketiganya adalah cara kolaborasi.
3. Diagnosis
Merupakan
tahapan untuk menemukan ketetapan dan pola yang dapat mengarahkan kepada
permasalahan, sebab-sebabnya, serta sifat-sifat klien yang relevan dan
berpengaruh terhadap proses penyesuaian diri. Langkah diagnosis mencakup:
a.
Identifikasi masalah
Pada langkah
tersebut ditentukan atau ditunjukkan masalah apa yang dialami klien. Penentuan
macam masalah tentu meruju pada pengkategorian masalh menurut Bordin atau
Pepinsky dan Pepinsky. Identifikasi masalah ini merupakan langkah penentuan hakikat
masalah yang sebenarmya, bukan gejala-gejalanya. Masalah yang diidentifikasikan
mungkin satu atau bisa jadi lebih. Jika masalahnya lebih dari satu, maka
konselor harus mampu membatasi tema pembicaraan (dapat menggunakan tehnik strukturing,
topic limit)
b.
Menentukan sebab-sebab
Langkah ini
merupakan langkah mencari sumber bagi timbulnya suatu masalah yang mencakup
pencarian hubungan antara masa lalu, sekarang dan yang akan datang, yang dapat
menuntun konselor untuk memahami sebab-sebab dari gejala. Dalam mencari sebab
masalah dapat dihubungkan (menggunakan) data yang terungkap pada tahap
analisis, tetapi, konselor harus dapat membedakan antara sebab dengan sekedar
hubungan sederhana.
4. Prognosis
Menurut Williamson prognosis merupakan bagian dari diagnosis. Prognosis ini
berkaitan dengan upaya memprediksikan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi
berdasarkan data yang ada sekarang. Misalnya, jika klien malas maka kemungkinan
nilainya akan rendah. Pada tahap ini klien diajak untuk menyadari kemungkinan yang
akan terjadi. Klien diajak untuk berpikir merencanakan perubahan, Pada tahap
ini baru menguji kemungkinan-kemungkinan dan konselor tidak boleh tergesa-gesa
menyatakan kesimpulan.
5. Konseling
Merupakan
hubungan membantu klien untuk menemukan sumber diri sendiri maupun sumber
di luar dirinya dalam upaya mencapai perkembangan dan penyesuaian optimal
sesuai dengan kemampuannya. Dalam kaitan ini ada lima sifat konseling, yaitu :
(a) belajar terpimpin menuju pengertian diri; (b) mendidik/mengajar kembali untuk
mencapai tujuan kepribadiannya dan penyesuaian hidupnya; (c) bantuan pribadi
agar klien mengerti dan terampil dalam menerapkan prinsip dan teknik yang
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari; (d) Konseling yang mencakup hubungan
dan teknik yang bersifat menyembuhkan; dan (e) mendidik kembali yang
sifatnya sebagai katarsis atau penyaluran.
6. Tindak
Lanjut
Memberikan
bantuan kepada klien dalam menghadapi masalah baru dengan
mengingatkannya kepada masalah sumbernya sehingga menjamin keberhasilan
konseling. Teknik yang digunakan konselor harus disesuaikan dengan
individualitas klien, mengingat bahwa individu itu sifatnya unik, sehingga
tidak ada teknik yang baku yang berlaku untuk semua klien.
2.8 Teknik Spesifik
Adapun
teknik spesifik dalam konseling trait and factor adalah sebagai berikut :
1.
Atending
Adalah ketrampilan/teknik yang digunakan konselor
untuk memusatkan perhatian kepada klien agar klien merasa dihargai dan terbina
suasana yang kondusif sehingga klien bebas mengekspresikan/ mengungkapkan tentang
apa saja yang ada dalam pikiran, perasaan ataupun tingkah lakunya. Penciptaan
dan pengembangan Atending dimulai dari upaya konselor menunjukkan sikap empati,
menghargai, wajar, dan mampu mengetahui atau paling tidak mengantisipasi
kebutuhan yang dirasakan oleh klien. Dalam tataran yang lebih operasional,
melakukan refleksi melalui pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
·
Bagaimana saudara mengenal dan mengantisipasi bila seseorang sangat
tertarik pada Anda?
·
Bagaimana saudara mengenal bila seseorang memberikan perhatian terhadap
Anda?
·
Bagaimana saudara mengenal atau mengetahui bila seseorang mendengarkan,
memperhatikan dan menghayati Anda ?
Melalui
jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, konselor dapat memulai
melakukan pembinaan untuk mengajak klien mamasuki proses konseling.
Aspek-aspek
atending meliputi :
·
Posisi badan (termasuk gerak isyarat dan ekspresi muka). Duduk dengan badan
menghadap kepada klien. Tangan di atas pangkuan atau berpegangan bebas atau
kadang-kadang digunakan untuk menunjukkan gerak isyarat yang sedang
dikomunikasikan secara verbal.
Responsif dengan menggunakan
bagian wajah, umpamanya senyum spontan atau anggukan kepala sebagai
persetujuan atau pemahaman dan krutan dahi tanda tidak mengerti. Badan
tegak lurus tetapi tidak kaku, manakala diperlukan bisa
condong ke arah klien untuk menunjukan kebersamaan.
·
Kontak Mata. Melihat klien terutama pada waktu bicara. Menggunakan
pandangan spontan yang menunjukkan ekspresi minat dan keinginan untuk
mendengarkan dan merespon
·
Mendengarkan. Memelihara pehatian penuh, terpusat pada klien. Mendengarkan
apapun yang dikatakan klien, mendengarkan keseluruhan pribadi
klien (kata-katanya, perasaannya, dan perilakunya). Memahami
keseluruhan pesannya
2. Mengundang Pembicaraan Terbuka
Ajakan terbuka untuk berbicara memberi kesempatan klien agar mengeksplorasi
dirinya sendiri dengan dukungan pewawancara. Pertanyaan terbuka memberi peluang
klien untuk mengemukakan ide perasaan dan arahnya dalam wawancara. Responnya
terhadap pertanyaan terbuka ialah untuk menunjukkan kesadarannya bahwa dia
diminta untuk menceritakan sejarahnya atau lebih menjabarkan apa yang telah
dikatakan.
Contoh pertanyaan terbuka :
1.
Untuk membantu memulai wawancara :
“Apa yang akan Anda bicarakan hari ini?”
“Bagaimana keadaan Anda sejak pertemuan terakhir kita?”
2.
Membantu klien menguraikan masalahnya :
“Cobalah Anda menceritakan lebih banyak lagi tentang hal itu!“
“Bagaimana perasaan Anda pada saat kejadian itu?”
3.
Membantu memunculkan contoh-contoh perilaku khusus :
“Apa yang Anda sedang rasakan pada saat Anda menceritakan
hal ini kepada saya?”
“Bagaimana perasaan Anda selanjutnya pada waktu itu?”
Pertanyaan yang tidak disarankan antara lain:
·
Pemakaian pertanyaan tertutup yang terlalu sering.
·
Pengajuan pertanyaan lebih dari satu pada waktu yang sama.
”Dapatkah anda menceritakan lebih banyak lagi tentang hal itu?”
”Dapatkah anda menceritakan lebih banyak lagi tentang hal itu?”
·
Pengajuan pertanyaan “Mengapa”, umpamanya : “Mengapa anda
tidak bergaul dengan baik?”
·
Memasukkan jawaban dalam pertanyaan, umpamanya : “Anda sebenarnya
belum mengerti hal itu pada saat anda mengatakan tentang ayahnya, bukan?”
3. Paraprase
Esensinya adalah mengulangi kata-kata atau pemikiran-pemikiran kunci dari
klien dalam rumusan-rumusan yang menggunakan kata-kata konselor sendiri.
Memberi tahu klien bahwa ia sedang mendengarkan apan yang dikatakan dan konselor
ingin mendengarkan lebih banyak lagi. Klien akan merasa dimengerti
dan dipersiapkan untuk mengolah lebih dalam lagi masalah-masalah yang
diajukannya.
Maksud
dari kegiatan paraprase adalah :
·
menyampaikan kepada klien bahwa konselor bersama klien, dan
konselor berupaya memahami apa yang dinayatkan klien
·
mengkritalisasi komentar klien dengan lebih memendekannya
sehingga membantu mengarahkan wawancara
·
memberi peluang untuk memeriksa kecermatan persepsi konselor.
Cara Memparaprase :
- Dengarkan pesan utama klien
- Nyatakan kembali kepada klien ringkasan pesan utamanya secara
sederhana dan singkat
- Amati pertanda atau minta respons dari klien akan bantuan
paraprase.
Hindari:
- analisis, interpretasi, atau pertimbangan nilai tentang pesan klien
- respon konselor hanya tertuju kepada bagian kecil dari pesan klien
klien, bukan kepada tema utamanya
- pemakaian kata-kata teknis yang tidak dimengerti klien
4. Refeksi perasaan
Refleksi perasaan merupakan keterampilan konselor untuk merespons keadaan
perasaan klien terhadap situasi yang sedang dihadapi. Tindakan tersebut akan
mendorong dan merangsang klien untuk mengemukakan segala sesuatu yang
berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapinya. Jadi, esensi keterampilan
ini adalah untuk mendorong dan merangsang klien agar dapat mengekspresikan
bagaimana perasaan tentang situasi yang sedang dialami.
Aspek-aspek refleksi perasaan :
- Mengamati perilaku klien
- Mendengarkan dengan baik
- Menghayati pesan yang dikomunikasikan klien.
- Mengenali perasaan-perasaan yang dikomunikasikan klien.
- Menyimpulkan perasaan yang sedang dialami.
- Menyeleksi kata-kata yang tepat untuk melukiskan perasaan klien.
5. Meringkas / summary
Meringkas adalah suatu proses untuk memadu berbagai ide dan perasaan dalam
satu pernyataan pada akhir suatu unit wawancara konseling. Meringkas : upaya
merekapituasi, memadatkan, dan mengkristalisasi esensi apa yang telah dikatakan
klien. Dengan menggunakan ringkasan secarea periodik, konselor dapat memeriksa
kecermatannya dalam mendengarkan. Ringkasan juga membantu untuk mengakiri
wawancara dengan suatu cartatan yang wajar, dan dapat menjadi panduan
wawancara.
Panduan
umum meringkas:
(1) Adakan refleksi atau atending terhadap berbagai
variasi tema dan nada emosional pada saat klien berbicara;
(2) Gabungkan perasaan dan ide kunci ke dalam
pernyataan-pernyataan yang pengertian dasarnya luas;
(3)
Jangan tambahkan ide-ide baru dalam ringkasan;
(4) Pertimbangkan kalau sekiranya dapat membantu kalau
menyatakan ringkasan atau mengajak klien untuk membuat ringkasan.
2.9 Kelemahan dan Kelebihan
Adapun kelemahan konseling trait
and factor adalah sebagai berikut :
a.
Kurang memerhatikan
adanya pengaruh dari perasaan, keinginan, dambaan aneka nilai budaya (cultural
values), nilai-nalai kehudupan (personal values), dan cita-cita hidup, terhadap
perkembangan jabatan anak dan remaja (vocational development) serta pilihan
program/bidang studi dan bidang pekerjaan (vocational choice).
b.
Kurang diperhatikan
peran keluarga dekat, yang ikut mempengaruhi rangkaian pilihan anak dengan cara
mengungkapkan harapan, dambaan dan memberikan pertimbangan untung-rugi sambil
menunjuk pada tradisi keluarga; tuntutan mengingat ekonomi keluarga; serta keterbatasan
yang konkrit dalam kemampuan finansial, dan sebagainya.
c.
Kurang
diperhitungkannya perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat, yang ikut
memperluas atau membatasi jumlah pilihan yang tersedia bagi seseorang.
d.
Kurang disadari
bahwa konstelasi kualifikasi yang dituntut untuk mencapai sukses di suatu
bidang pekerjaan atau program studi dapat berubah selama tahun-tahun yang akan
datang.
e.
Pola ciri-ciri
kepribadian tertentu pasti sangat membatasi jumlah kesempatan yang terbuka bagi
seseorang, karena orang dari berbagai pola ciri kepribadian dapat mencapai
sukses di bidang pekerjaan yang sama.
f.
Kurang diindahkan
adanya pengaruh dari perasaan, keinginan, dambaan aneka nilai budaya (cultural
values), nilai-nalai kehudupan (personal values), dan cita-cita hidup, terhadap
perkembangan jabatan anak dan remaja (vocational development) serta pilihan
program/bidang studi dan bidang pekerjaan (vocational choice).
g.
Kurang diperhatikan
peran keluarga dekat, yang ikut mempengaruhi rangkaian pilihan anak dengan cara
mengungkapkan harapan, dambaan dan memberikan pertimbangan untung-rugi sambil
menunjuk pada tradisi keluarga; tuntutan mengingat ekonomi keluarga; serta
keterbatasan yang konkrit dalam kemampuan finansial, dan sebagainya.
h.
Kurang
diperhitungkannya perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat, yang ikut
memperluas atau membatasi jumlah pilihan yang tersedia bagi seseorang.
i.
Kurang disadari
bahwa konstelasi kualifikasi yang dituntut untuk mencapai sukses di suatu
bidang pekerjaan atau program studi dapat berubah selama tahun-tahun yang akan
datang.
j.
Pola ciri-ciri
kepribadian tertentu pasti sangat membatasi jumlah kesempatan yang terbuka bagi
seseorang, karena orang dari berbagai pola ciri kepribadian dapat mencapai
sukses di bidang pekerjaan yang sama.
k.
Banyak ahli yang
menanyakan bagaimana “bagi setiap orang hanya terdapat satu jabatan yang cocok
baginya” sehingga akan timbul kesulitan pada individu tersebut seandainya
pekerjaan tersebut tidak diperoleh.
l.
Kemudian “ pilihan
jabatan didasarkan pada identifikasi kemampuan pertemuan individu dengan
testing” kedua asumsi ini jelas sangat membatasi sesorang dalam perkembangan
karirnya.
m.
Klien hanya
bersifat pasif
n.
Sulit diterapkan di
sekolah bila tidak memiliki instrumen pengumpul datanya.
Kemudian kelebihan dari pendekatan trait and factor adalah sebagai
berikut :
a.
Pemusatan pada klien dan bukan pada konselor (pemusatan pada konselor, disini konselor
mengarahkan bakat minat /program studi konseli sesuai dengan potensi yang
dimilikinya, bisa menggunakan tes psikologi)
b.
Identifikasi dan hubungan konseli sebagai wahana utama dalam mengubah
kepribadian, mengidetifikasi masalah terkait dengan bakat minat konseli.
c.
Lebih menekankan pada sikap konselor daripada teknik (sikap bagaimana konselor
mengarahkan konseli)
d.
Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuanitatif
e.
Penekanan emosi, perasaan dan afektif dalam konseling yaitu konseli
f.
Teori ciri dan sifat menerapkan pendekatan ilmiah pada konseling
g.
Penekanan pada penggunaan data tes objektif, membawa kepada upaya perbaikan
dalam pengembangan tes dan penggunanya, serta perbaikan dalam pengumpulan data
lingkungan
h.
Penekanan yang diberikan pada diagnose mengandung makna sebagai suatu
perhatian terhadap masalah dan sumbernya mengarahkan kepada upaya pengkreasian
teknik-teknik untuk mengatasinya.
i.
Penekanan pada aspek kognitif merupakan upaya menyeimbangkan pandangan lain
yang lebih menekankan afektif atau emosional.
BAB 3
PENUTUP
1.1 Simpulan
Konseling Trait-Factor berpegang pada pandangan
yang sama dan menggunakan tes-tes psikologis untuk menganalisis atau
mendiagmatis seseorang mengenai ciri-ciri atau dimensi/aspek kepribadian
tertentu,yang diketahui mempunyai relevansi terhadap keberhasilan atau
kegagalan seseorang dalam memangku jabatan dan mengikuti suatu program studi.
Konselor yang berpegang pada pendekatan ini
mengikuti rangkaian kerja yang agak mirip dengan pelaksanaan studi kasus
dan pelayanan dokter terhadap pasien. Pendekatan ini dapat digunakan terhadap
semua kasus yang mengandung unsure seperti jabatan atau akademik, di mana
konseli menghadapi keharusan untuk memilih diantara beberapa alternative yang
ada. Konselor dapat bertindak sebagai pengarah dalam keputusan yang diambil
konseli.
1.2 Saran
Setiap pendeketan
konseling yang ada tentu terdapat kelebihan dan kelemahan. Konselor perlu
cerdas dalam memilih pendekatan disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan
klien. Dalam pendekatan ini konselor benar-benar harus mendampingi klien mengumpulkan data
ekstrinsik tentang dirinya untuk melengkapi persepsi klien terhadap dirinya.
Sehingga nantinya diharapkan klien tidak mengambil keputusna karier yang salah.






0 komentar:
Posting Komentar
silahkan berkomentar dengan sopan