BAB
II
PEMBAHASAN
2.1Pengertian Metodologi
Penelitian Pendidikan
Penelitian
diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan
secara sistemastis dan logis menggunakan metode ilmiah untuk mencapai
tujuan-tujuan tertentu (Sukmadinata, 2011:5). Menurut Sugiyono (2010) bahwa
terdapat empat kunci yang perlu diperhatikan dalam kegiatan penelitian, yaitu :
a) Cara
Ilmiah, yaitu kegiatan penelitian yang didasarkan pada ciri-ciri keilmuan,
antara lain :
§ Rasional,
memiliki arti kegiatan penelitian dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal
yang terjangkau oleh penalaran manusia.
§ Empiris,
yaitu cara-cara yang dilakukan dalam penelitian dapat diamati oleh indera
manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang
digunakan.
§ Sistematis,
yang artinya proses yang digunakan dalam penelitian menggunakan langkah-langkah
yang bersifat logis.
b) Data
Data dalam penelitian haruslah data yang
diamati (empiris) dimana data ini harus valid. Valid adalah derajat ketepatan
antara data yang sesungguhnya terjadi pada objek dengan data yang dikumpulkan
oleh peneliti.
c) Tujuan Penelitian
Ada tiga macam tujuan penelitian yaitu :
(1) penemuan yang berarti data yang diperoleh dari penelitian adalah data yang
benar-benar baru dan sebelumnya belum pernah diketahui, (2) pembuktian yaitu
data yang diperoleh digunakan untuk membuktikan adanya keragu-raguan terhadap
informasi atau pengetahuan tertentu, (3) pengembangan berarti memperdalam dan
memperluas pengetahuan yang telah ada.
d) Kegunaan
Secara umum penelitian digunakan untuk
memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah.
2.2Jenis-jenis Metode
Penelitian
Sugiyono
(2010) menyatakan bahwa berdasarkan tujuannya metode penelitian
diklasifikasikan menjadi penelitian dasar (basic research), penelitian
terapan (applied research), dan penelitian pengembangan (research and
development). Sedangkan berdasarkan tingkat kealamiahan tempat penelitian
tempat penelitian, dibedakan menjadi penelitian eksperimen, penelitian survey,
dan penelitian naturalistik.
Sukmadinata (2011:17) membagi penelitian menjadi
tiga, yakni: penelitian dasar, penelitian terapan, dan penelitian evaluatif.
Adapun perbedaan antara tiga penelitian tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
|
Penelitian Dasar
|
Penelitian Terapan
|
Penelitian Evaluatif
|
|
|
Bidang Penelitian
|
Penelitian bidang fisik,
perilaku dan sosial
|
Bidang aplikasi,
kedokteran, rekayasa, pendidikan
|
Pelaksanaan berbagai
kegiatan, program pada berbagai tempat dan lembaga
|
|
Tujuan
|
Menguji teori dalil,
prinsip dasar, menentukan hubungan empiris antar fenomena dan mengadakan
generasi analisis
|
Menguji kegunaan teori
dalam bidang tertentu, menentukan hubungan empiris dan generalisai analitis
dalam bidang tertentu
|
Mengukur manfaat, sumbangan
dan kelayakan program atau kegiatan tertentu
|
|
Tingkat Generalisasi
|
Abstrak, Umum
|
Umum tetapi dalam bidang
tertentu
|
Konkrit, spesifik dalam
bidang tertentu. Diterapkan dalam praktik, aspek tertentu.
|
|
Penggunaan Hasil
|
Menambah pengetahuan
ilmiah dan prinsip-prinsip dasar dan hukum tertentu, Meningkatkan metodelogi
dan cara-cara pencarian
|
Menambah pengetahuan yang
didasarkan penelitian dalam bidang tertentu, Meningkatkan penelitian dan
metodelogi dalam bidang tertentu.
|
Menambah pengetahuan yang
didasarkan penelitian tentang praktik tertentu, Meningkatkan penelitian dan
metodologi tentang praktik tertentu, Membantu dalam penentuankeputusan dalam
bidang tertentu,
|
2.3Pengertian Metode
Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
a) Metode
Penelitian Kuantitatif
Metode
peneltian kuantitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada
filsafat positifisme. Digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel
tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random dan
pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian serta analisis data bersifat
kuantitaif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah
ditetapkan.
b) MetodePenelitianKualitatif
Metode
penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan filsafat
pospositifisme. Digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah.
Peneliti sebagai instrumen kunci yang pengambilan sumber data dilakukan secara purposive dan snowball. Teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan).
Analisis data bersifat induktif atau kualitatif dan penelitian kualitatif lebih
menekan makna dari pada generalisasi.
2.4
Perbedaan Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif
Guba
dan Lincoln dalam Moleong, Lexy (2000:15) menyajikan uraian yang cukup panjang
dan mempertentangkan perbedaan paradigma kedua penelitian ini. Untuk penelitian
kuantitatif digunakan istilah scientific
paradigm (paradigma ilmiah, penulis), sedangkan penelitian kualitatif
dinamakan naturalistic inquiry atau
inkuiri ilmiah.
Tabel
1. Perbedaan Paradigma Ilmiah dan Alamiah
|
Poster
tentang
|
PARADIGMA
|
|
|
Ilmiah
|
Alamiah
|
|
|
Teknik yang digunakan
|
Kuantitatif
|
Kualitatif
|
|
KriteriaKualitas
|
“Rigor”
|
Relevansi
|
|
Sumberteori
|
A priori
|
Dasar – dasar(grounded)
|
|
Persoalankausalitas
|
Dapatkah X menyebabkanY ?
|
Apakah X menyebabkabkan Y
dalamlataralamiah ?
|
|
Tipepengetahuan yang digunakan
|
Proposisional
|
Proposisional yang diketahuibersama
|
|
Pendirian
|
Reduksionis
|
Ekspansionis
|
|
Maksud
|
Verifikasi
|
Ekspansionis
|
|
KARAKTERISTIK
METODOLOGIS
|
||
|
Instrument
|
Kertas-pensilataualatfisiklainnya
|
Orang sebagaipeneliti
|
|
Waktupenetapanpengumpulan data
dananalisis
|
Sebelumpenelitian
|
Selamadansesudahpengumpulan data
|
|
Desain
|
Pasti (preordinate)
|
Muncul – berubah
|
|
Gaya
|
Intervensi
|
Seleksi
|
|
Latar
|
Laboratorium
|
Alam
|
|
Perlakuan
|
Stabil
|
Bervariasi
|
|
Satuankajian
|
Variabel
|
Pola – pola
|
|
Unsurkontekstual
|
Kontrol
|
Turutcampuratasundangan
|
Perbedaannya
pada mulanya diikhtisarkan dalam Tabel 1, kemudian diuraikan menurut pokok –
pokok yang membedakannya.
1. Teknik
yang Digunakan
Pada dasarnya, baik teknik kuantitatif
maupun teknik kualitatif dapat digunakan bersama – sama. Namun, penekanannya
diletakan pada teknik tertentu. Paradigm ilmiah memberi tekanan pada teknik
kuantitatif, sedangkan paradigma alamiah memberi tekanan pada penggunaan teknik
kualitatif.
2. Kriteria
kualitas
Dalam menentukan penelitian yang baik,
paradigm ilmiah sangat percaya pada kriteria rigor , yaitu kesahihan eksternal dan internal, keandalan, dan
objektivitas. Sebaliknya, paradigm alamiah menggunakan kriteria relevansi.
Relevansi di sini adalah signifikansi I dari pribadi terhadap lingkungan
senyatanya. Usaha menemukan kepastian dan keaslian merupakan hal yang penting
dalam penelitian alamiah.
3. Sumber
Teori
Sebagian
besar pengetahuan tentang perilaku sosial diarahkan pada verifikasi hipotesis
yang diturunkan dari teori a priori. Kebanyakan
teori yang disusun pada hakikatnya adalah deduktif dan logis dalam pengetahuan
perilaku sosial. Proses penyusunan teori berputar – putar pada proses deduksi
yang bisa diverifikasi dari dunia nyata atas dasar asumsi a priori.
4. Pertanyaan
yang Kausalitas
Penelitian biasanya dihadapkan pada
penentuan hubungan sebab akibat. Jawaban terhadap pertanyaan hubungan
sebab-akibat penting untuk keperluan meramalkan, control di satu oihak, dan verstehen di lain pihak. Paradigma
ilmiah biasanya bertanya: dapatkah X menyebabkan Y ? Untuk itu maka mereka
mendemonstrasikan di laboratorium bahwa Y sesungguhnya dapat disebabkan oleh X.
Di pihak lai paradigma alamiah kurang tertarik dengan apa yang diusahakan
terjadi dalam situasi yang dirancang terlebih dahulu, namun lebih tertarik pada
apa yang terjadi pada latar alamiah.
5. Tipe
Pengetahuan yang Digunakan
Paradigma
ilmiah membatasi diri pada pengetahuan proposisioanl. Pengetahuan demikian merupakan
esensi metode untuk menyatakan proposisi scara eksplesit dalam bentuk hipotesis
yang diuji untuk menentukan validitasnya. Sebaliknya, paradigma alamiah
mengizinkan dan mendorong pengetahuan yang diketahui bersama guna dimunculkan
untuk keperluan membantu pembentukan teori dari dasar maupun untuk memperbaiki
komunikasi kembali kepada sumber informasi dengan cara peristilahanmereka.
6. Pendirian
Paradigm
ilmiah berpendirian reduksionis.
Dalam hal ini mereka menyempitkan penelitian pada focus yang relative kecil
dengan jalan membebankan kendala-kendala, baik pada kondisi anteseden pada
inkuiri (untuk keperluan mengontrol) maupun pada keluaran – keluaran. Jadi,
pencari tahu ilmiah mulai dengan menyusun pertanyaan atau hipotesis, kemudian
hanya mencari informasi yang akan memberikan jawaban pada pertanyaan atau
menguji hipotesis – hipotesis itu. Pencari tahu alamiah mempunyai pendirian ekspansionis. Mereka mencari perspektif
yang akan mengarahkan pada deskripsi dan pengertian fenomena sebagai
keseluruhan atau akhirnya dengan jalan menemukan sesuatu yang mencerminkan
kerumitan gejala – gejala itu. Mereka memasuki lapangan, membangun dan melihat
pembawaannya yang tampak dari arah mana pun titik masuknya. Jadi pencari tahu
ilmiah mengambil sikap terstruktur, terarah dan tunggal, sedangkan pencari tahu
alamiah berpendirian terbuka, menjajagi, dan kompleks.
7. Maksud
Paradigm
ilmiah mempunyai maksud dalam usahanya menemukan pengetahuan melalui verifikasi
hipotesis yang dispesifikasikan secara a priori. Pencari tahu alamiah, di pihak
lain, menitikberatkan upayanya pada usaha menemukan unsur – unsur atau
pengetahuan yang belum ada dalam teori yang berlaku.
8. Instrument
Untuk
mengumpulkan data, paradigm ilmiah memanfaatkan tes tertulis atau kuesioner
atau menggunakan alat fisik lainnya seperti perti poligraf, dan sebagainya.
Pencari tahu alamiah dalam pengumpulan data lebih banyak bergantung pada
dirinya sebagai alat pengumpulan data.
9. Waktu
untuk Mengumpulkan Data dan Aturan Analisis
Pencari
tahu ilmiah dapat menetapkan semua aturan pengumpulan dan analisis data
sebelumnya. Mereka sudah mengetahui hipotesis yang akan diuji dan dapat
mngembangkan instrument yang cocok dengan variabel. Instrument ditetapkan sebelumnya
tentang ukuran terhadap ciri yang diketahui sehingga memungkinkan menetapkan
waktu melakukan analisis. Paradigm alamiah tidak diperkenankan memformulasikan
secara a priori. Datanya dikumpulkan serta dikategorisasikan dalam bentuk kasar
dan diunitkan oleh peneliti / analisis. Di samping itu, pencari tahu alamiah
kurang dibimbing oleh aturan dibandingkan dengan paradigma alamiah.
10. Desain
Bagi
paradigm ilmiah, desain harus disusun secara pasti sebelum fakta dikumpulkan.
Sekali desaian dugunakan,maka tidak boleh mengubahnya dalam bentuk apapun. Bagi
paradigma alamiah, desain dapat disusun sebelumnya secara tidak lengkap.
Apabila sudah mulai digunakan, maka desaian itu malah mulai dilengkapi dan
disempurnakan. Desain itu dapat senantiasa diubah dan disesuaikan dengan apa
yang diperoleh dan disesuaikan pula dengan pengetahuan baru yang ditemukan.
11. Gaya
Paradigma
ilmiah menggunakan gaya dengan menerapkan intervensi. Variabel bebas dan
terikat diisolasikan dari konteksnya, diatur sedemikian rupa sehingga hanya
variabel ini yang muncul untuk diukur, dan kemudian dikonfirmasikan dengan
hipotesisnya. Sebaliknya paradigm alamiah bergantung pada seleksi. Dari
berbagai peristiwa yang terjadi secara alamiah akhirnya dipilih sesuai gejala
tanpa mengadakan intervensi. Jadi pencari tahu alamiah tidak mengelola situasi,
tetapi memanfaatkannya.
12. Latar
Pencari
tahu ilmiah bersandar pada latar laboratorium untuk keperluan mengadakan
control, mengelola intervensi, dan sebagainya. Sebaliknya pencari tahu alamiah
cenderung mengadakan penelitian dalam latar almiah.
13. Perlakuan
Bagi
paradigm ilmiah, konsep perlakuan sangat penting. Pada setiap eksperimen,
perlakuan itu harus stabil dan tidak bervariasi. Untuk paradigm alamiah, konsep
perlakuan tersebut asing karena perlakuan menyertakan beberapa cara manipulasi
atau intervensi. Jika pun hal itu terjadi dengan mempertimbangkan terjadinya
gejala secara alamiah, maka perlakuan itu merupakan penyebab yang dikehendaki
untuk beberapa pengaruh yang diamati.
14. Satuan
Kajian
Satuan
kajian bagi paradigm ilmiah adalah variabel dan semua hubungan yang dinyatakan
di anatara variabel atau system variabel. Sebaliknya, paradigm alamiah
berpendirian agar satuan kajian lebih sederhana. Selain itu, mereka lebih
menekankan kemurnian system pola yang diamati secara alamiah.
15. Unsur
– unsur Konstekstual
Peneliti
ilmiah senantiasa berusaha mengontrol seluruh unsur yang menganggu yang dapat
mengaburkan unsur – unsur itu dari fenomena yang menjadi pusat perhatian atau
yang mengacu pada pengaruh terhadap fenomena itu. Peneliti alamiah bukan hanya
tidak tertarik pada control, melainkan malah mengundang adanya ikut campur
sehingga mereka secara lebih baik dapat mengerti peristiwa dalam dunia nyata
dan merasakan pola – pola yang ada di dalamnya.
2.5Kompetensi Penelitian
Kuantitatif dan Kualitatif
1.
Kompetensi
Peneliti Kuantitatif
a. Memilik
wawasan yang luas dan mendalam tentang bidang pendidikan yang akan diteliti.
b. Mampu
melakukan analisis masalah secara akurat, sehingga dapat ditemukan masalah
penelitian pendidikan yang betul – betul masalah.
c. Mampu
menggunakan teori pendidikan yang tepat sehingga dapat digunakan untuk
memperjelas masalah yang diteliti, dan merumuskan hipotesis penelitian.
d. Memahami
berbagai jenis metode penelitian kuantitatif, seperti metode survey, eksperimen,
action research, expost facto, evaluasi
dan R & D.
e. Memahami
teknik – teknik sampling, seperti probability sampling dan nonprobability
sampling, dan mampu menghitung dan memilih jumlah sampel yang representative
dengan sampling eror tertentu.
f. Mampu
menyususn instrument baik test maupun nontest untuk mengukur berbagai variabel
yang diteliti, mampu menguji validitas dan reliabilitas instrument
g. Mampu
mengumpulkan data dengan kuesioner, maupun dengan wawancara observasi, dan
dokumentasi
h. Bila
pengumpulan data dilakukan oleh tim, maka harus mampu mengorganisasiakn tim
peneliti dengan baik
i.
Mampu menyajikan data,
menganalisis data secara kuantitatif untuk menjawab rumusan masalah dan menguji
hipotesis penelitian yang telah dirumuskan
j.
Mampu memberikan interprestasi
terhadap data hasil penelitian maupun hasil pengujian hipotesis
k. Mampu
membuat laporan secara sistematis, dan menyampaikan hasil penelitian ke pihak –
pihak yang terkait
l.
Mampu membuat abstraksi
hasil penelitian, dan membuat artikel untuk dimuat ke dalam jurnal ilmiah
m. Mampu
mengkomunikasikan hasil penelitian kepada masyarakat luas
2.
Kompetensi
Peneliti Kualitatif
a. Memiliki
wawasan yang luas dan mendalam tentang bidang pendidikan yang akan diteliti
b. Mampu
menciptakan rapport kepada setiap
orang yang ada pada situasi sosial yang akan diteliti. Meciptakan rapport berarti mampu membangun hubungan yang akrab
dengan setiap orang yang ada pada konteks sosial
c. Memiliki
kepekaan untuk melihat gejala yang ada pada obyek penelitian (situasi sosial)
d. Mampu
menggali sumber dengan observasi partisipan, dan wawancara mendalam secara
trianggulasi, serta sumber – sumber lain
e. Mampu
menganalisis data kualitatif secara induktif berkesinambungan mulai dari
analisis deskriptif, domain, komponensial dan tema kultural/budaya
f. Mampu
menguji kredabilitas, dependabilitas, konfrimabilitas dan transferabilitas
hasil penelitian
g. Mampu
menghasilkan temuan pengetahuan, mengkontruksi fenomena, hipotesis atau ilmu
baru
h. Mampu
membuat laporan secara sistematis, jelas, lengkap dan rinci
i.
Mampu membuat
abstaraksi hasil penelitian, dan membuat artikel untuk dimuat ke dalam jurnal
ilmiah
j.
Mampu mengkomunikasikan
hasil penelitian kepada masyarakat luas
2.6 Ruang Lingkup
Penelitian Pendidikan
2.6.1 Pengertian dan
Pendidikan
Dalam
UU No 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan diartikan
sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat
bangsa dan Negara.
2.6.2 Ruang
Penelitian Pendidikan
Ruang lingkup penelitian pendidikan di
Indonesia meliputi penelitian pada tingkat kebijakan, tingkat managerial dan
institusional.
1. Lingkup
Penelitian pada Tingkat Kebijakan Pendidikan
a. Perumusan
kenijakan tentang pendidikan yang dilakukan oleh MPR Kebijakan Presiden dan DPR
tentang Pendidikan
b. Kebijakan
Mendiknas tentang Pendidikan
c. Kebijakan
Dirjen, Gubernur, Bupati, Walikota, Diknas tentang pendidikan
d. Implementasi
kebijakan pendidikan
e. Output
dan Outcome Kebijakan Pendidikan
2. Lingkup
Penelitian Pada Tingkat Manajerial (manajemen)
a.
Perencaan pendidikan
pada tingkat nasional
b.
Organisasi Diknas Dinas Propinsi/ Kabupaten/
Kota dan institusi pendidikan
c.
Kepemimpinan Pendidikan
d.
Ekonomi Pendidikan
e.
Bangunan Pendidikan ,
sarana, dan prasana pendidikan
f.
Hubungan kerjasama anata lembaga pendidikan
g.
Koordinasi pendidikan dari pusat ke daerah
h.
SDM tenaga kependidikan
i.
Evaluasi pendidikan
j.
Kearsipan ,
perpustakaan dan museum pendidikan
3. Lingkup
Penelitian pada Tingkat Operasional
a.
Aspirasi masyarakat
dalam memilih pendidikan
b.
Pemasaran lembaga
pendidikan
c.
System seleksi murid
baru
d.
Kurikulum, silabe
e.
Teknologi pembelajaran
f.
Media pendidikan, buku
ajar dll
g.
Penampilan mengajar
guru
h.
Manajemen klas
i.
System evaluasi belajar
j.
System ujian akhir
k.
Kuantitas dan kualitas
lulusan
l.
Manajemen klas
m.
Unit produksi
n.
Perkembangan karir
lulusan
o.
Pembiayaan pendidikan
p.
Profil pekerjaan dan
tenaga kerja DUDI
q.
Kebutuhan masyarakat
akan lulusan pendidikan
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Penelitian diartikan sebagai suatu
proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistemastis dan
logis menggunakan metode ilmiah untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Sugiyono
(2010) menyatakan bahwa berdasarkan tujuannya metode penelitian
diklasifikasikan menjadi penelitian dasar (basic research), penelitian
terapan (applied research), dan penelitian pengembangan (research and
development). Sedangkan berdasarkan tingkat kealamiahan tempat penelitian
tempat penelitian, dibedakan menjadi penelitian eksperimen, penelitian survey,
dan penelitian naturalistik.
Metode peneltian kuantitatif merupakan
metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positifisme. Digunakan untuk
meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Metode penelitian kualitatif
merupakan metode penelitian yang berlandaskan filsafat pospositifisme.
Digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah.
Perbedaan penelitian kuantitatif dan
kualitatif meliputi perbedaan teknik yang digunakan, kriteria kualitas, sumber
teori, pertanyaan tentang kausalitas, tipe pengetahuan yang digunakan, pendirian,
maksud, instrument, waktu untuk mengumpulkan data dan aturan analisis,desain,
gaya, latar, perlakuan, satuan kajian, dan unsur – unsur kontekstual. Ruang
lingkup penelitian pendidikan di Indonesia meliputi penelitian pada tingkat
kebijakan, tingkat managerial dan institusional.
DAFTAR
PUSTAKA
Sugiyono.
2011. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed
Methods) . Bandung : Alfabete.
Moleong , 2009, Metodologi
Penelitian Kualitatif, BAndung: PT Remaja RosdaKarya.






0 komentar:
Posting Komentar
silahkan berkomentar dengan sopan