Sabtu, 20 Desember 2014

MPP

BAB II
PEMBAHASAN

2.1Pengertian Metodologi Penelitian Pendidikan
             Penelitian diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistemastis dan logis menggunakan metode ilmiah untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu (Sukmadinata, 2011:5). Menurut Sugiyono (2010) bahwa terdapat empat kunci yang perlu diperhatikan dalam kegiatan penelitian, yaitu :
a)      Cara Ilmiah, yaitu kegiatan penelitian yang didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, antara lain :
§  Rasional, memiliki arti kegiatan penelitian dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal yang terjangkau oleh penalaran manusia.
§  Empiris, yaitu cara-cara yang dilakukan dalam penelitian dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan.
§  Sistematis, yang artinya proses yang digunakan dalam penelitian menggunakan langkah-langkah yang bersifat logis.
b)      Data
Data dalam penelitian haruslah data yang diamati (empiris) dimana data ini harus valid. Valid adalah derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada objek dengan data yang dikumpulkan oleh peneliti.
c)       Tujuan Penelitian
Ada tiga macam tujuan penelitian yaitu : (1) penemuan yang berarti data yang diperoleh dari penelitian adalah data yang benar-benar baru dan sebelumnya belum pernah diketahui, (2) pembuktian yaitu data yang diperoleh digunakan untuk membuktikan adanya keragu-raguan terhadap informasi atau pengetahuan tertentu, (3) pengembangan berarti memperdalam dan memperluas pengetahuan yang telah ada.
d)     Kegunaan
Secara umum penelitian digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah.
2.2Jenis-jenis Metode Penelitian
             Sugiyono (2010) menyatakan bahwa berdasarkan tujuannya metode penelitian diklasifikasikan menjadi penelitian dasar (basic research), penelitian terapan (applied research), dan penelitian pengembangan (research and development). Sedangkan berdasarkan tingkat kealamiahan tempat penelitian tempat penelitian, dibedakan menjadi penelitian eksperimen, penelitian survey, dan penelitian naturalistik.
Sukmadinata (2011:17) membagi penelitian menjadi tiga, yakni: penelitian dasar, penelitian terapan, dan penelitian evaluatif. Adapun perbedaan antara tiga penelitian tersebut dapat dilihat pada tabel  di bawah ini.
Penelitian Dasar
Penelitian Terapan
Penelitian Evaluatif
Bidang Penelitian
Penelitian bidang fisik, perilaku dan sosial
Bidang aplikasi, kedokteran, rekayasa, pendidikan
Pelaksanaan berbagai kegiatan, program pada berbagai tempat dan lembaga
Tujuan
Menguji teori dalil, prinsip dasar, menentukan hubungan empiris antar fenomena dan mengadakan generasi analisis
Menguji kegunaan teori dalam bidang tertentu, menentukan hubungan empiris dan generalisai analitis dalam bidang tertentu
Mengukur manfaat, sumbangan dan kelayakan program atau kegiatan tertentu
Tingkat Generalisasi
Abstrak, Umum
Umum tetapi dalam bidang tertentu
Konkrit, spesifik dalam bidang tertentu. Diterapkan dalam praktik, aspek tertentu.
Penggunaan Hasil
Menambah pengetahuan ilmiah dan prinsip-prinsip dasar dan hukum tertentu, Meningkatkan metodelogi dan cara-cara pencarian
Menambah pengetahuan yang didasarkan penelitian dalam bidang tertentu, Meningkatkan penelitian dan metodelogi dalam bidang tertentu.
Menambah pengetahuan yang didasarkan penelitian tentang praktik tertentu, Meningkatkan penelitian dan metodologi tentang praktik tertentu, Membantu dalam penentuankeputusan dalam bidang tertentu,





2.3Pengertian Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
a)      Metode Penelitian Kuantitatif
            Metode peneltian kuantitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positifisme. Digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random dan pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian serta analisis data bersifat kuantitaif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
b)      MetodePenelitianKualitatif
            Metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan filsafat pospositifisme. Digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. Peneliti sebagai instrumen kunci yang pengambilan sumber data dilakukan secara purposive dan snowball. Teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan). Analisis data bersifat induktif atau kualitatif dan penelitian kualitatif lebih menekan makna dari pada generalisasi.

2.4 Perbedaan Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif
Guba dan Lincoln dalam Moleong, Lexy (2000:15) menyajikan uraian yang cukup panjang dan mempertentangkan perbedaan paradigma kedua penelitian ini. Untuk penelitian kuantitatif digunakan istilah scientific paradigm (paradigma ilmiah, penulis), sedangkan penelitian kualitatif dinamakan naturalistic inquiry atau inkuiri ilmiah.
Tabel 1. Perbedaan Paradigma Ilmiah dan Alamiah
Poster tentang

PARADIGMA
Ilmiah
Alamiah
Teknik yang digunakan
Kuantitatif
Kualitatif
KriteriaKualitas
“Rigor”
Relevansi
Sumberteori
A priori
Dasar – dasar(grounded)
Persoalankausalitas
Dapatkah X menyebabkanY ?
Apakah X menyebabkabkan Y dalamlataralamiah ?
Tipepengetahuan yang digunakan
Proposisional
Proposisional yang diketahuibersama
Pendirian
Reduksionis
Ekspansionis
Maksud
Verifikasi
Ekspansionis
KARAKTERISTIK METODOLOGIS
Instrument
Kertas-pensilataualatfisiklainnya
Orang sebagaipeneliti
Waktupenetapanpengumpulan data dananalisis
Sebelumpenelitian
Selamadansesudahpengumpulan data
Desain
Pasti (preordinate)
Muncul – berubah
Gaya
Intervensi
Seleksi
Latar
Laboratorium
Alam
Perlakuan
Stabil
Bervariasi
Satuankajian
Variabel
Pola – pola
Unsurkontekstual
Kontrol
Turutcampuratasundangan

Perbedaannya pada mulanya diikhtisarkan dalam Tabel 1, kemudian diuraikan menurut pokok – pokok yang membedakannya.
1.      Teknik yang Digunakan
Pada dasarnya, baik teknik kuantitatif maupun teknik kualitatif dapat digunakan bersama – sama. Namun, penekanannya diletakan pada teknik tertentu. Paradigm ilmiah memberi tekanan pada teknik kuantitatif, sedangkan paradigma alamiah memberi tekanan pada penggunaan teknik kualitatif.
2.      Kriteria kualitas
Dalam menentukan penelitian yang baik, paradigm ilmiah sangat percaya pada kriteria rigor , yaitu kesahihan eksternal dan internal, keandalan, dan objektivitas. Sebaliknya, paradigm alamiah menggunakan kriteria relevansi. Relevansi di sini adalah signifikansi I dari pribadi terhadap lingkungan senyatanya. Usaha menemukan kepastian dan keaslian merupakan hal yang penting dalam penelitian alamiah.
3.      Sumber Teori
Sebagian besar pengetahuan tentang perilaku sosial diarahkan pada verifikasi hipotesis yang diturunkan dari teori a priori. Kebanyakan teori yang disusun pada hakikatnya adalah deduktif dan logis dalam pengetahuan perilaku sosial. Proses penyusunan teori berputar – putar pada proses deduksi yang bisa diverifikasi dari dunia nyata atas dasar asumsi a priori.
4.      Pertanyaan yang Kausalitas
Penelitian biasanya dihadapkan pada penentuan hubungan sebab akibat. Jawaban terhadap pertanyaan hubungan sebab-akibat penting untuk keperluan meramalkan, control di satu oihak, dan verstehen di lain pihak. Paradigma ilmiah biasanya bertanya: dapatkah X menyebabkan Y ? Untuk itu maka mereka mendemonstrasikan di laboratorium bahwa Y sesungguhnya dapat disebabkan oleh X. Di pihak lai paradigma alamiah kurang tertarik dengan apa yang diusahakan terjadi dalam situasi yang dirancang terlebih dahulu, namun lebih tertarik pada apa yang terjadi pada latar alamiah.
5.      Tipe Pengetahuan yang Digunakan
Paradigma ilmiah membatasi diri pada pengetahuan proposisioanl. Pengetahuan demikian merupakan esensi metode untuk menyatakan proposisi scara eksplesit dalam bentuk hipotesis yang diuji untuk menentukan validitasnya. Sebaliknya, paradigma alamiah mengizinkan dan mendorong pengetahuan yang diketahui bersama guna dimunculkan untuk keperluan membantu pembentukan teori dari dasar maupun untuk memperbaiki komunikasi kembali kepada sumber informasi dengan cara peristilahanmereka.
6.      Pendirian
Paradigm ilmiah berpendirian reduksionis. Dalam hal ini mereka menyempitkan penelitian pada focus yang relative kecil dengan jalan membebankan kendala-kendala, baik pada kondisi anteseden pada inkuiri (untuk keperluan mengontrol) maupun pada keluaran – keluaran. Jadi, pencari tahu ilmiah mulai dengan menyusun pertanyaan atau hipotesis, kemudian hanya mencari informasi yang akan memberikan jawaban pada pertanyaan atau menguji hipotesis – hipotesis itu. Pencari tahu alamiah mempunyai pendirian ekspansionis. Mereka mencari perspektif yang akan mengarahkan pada deskripsi dan pengertian fenomena sebagai keseluruhan atau akhirnya dengan jalan menemukan sesuatu yang mencerminkan kerumitan gejala – gejala itu. Mereka memasuki lapangan, membangun dan melihat pembawaannya yang tampak dari arah mana pun titik masuknya. Jadi pencari tahu ilmiah mengambil sikap terstruktur, terarah dan tunggal, sedangkan pencari tahu alamiah berpendirian terbuka, menjajagi, dan kompleks.
7.      Maksud
Paradigm ilmiah mempunyai maksud dalam usahanya menemukan pengetahuan melalui verifikasi hipotesis yang dispesifikasikan secara a priori. Pencari tahu alamiah, di pihak lain, menitikberatkan upayanya pada usaha menemukan unsur – unsur atau pengetahuan yang belum ada dalam teori yang berlaku.
8.      Instrument
Untuk mengumpulkan data, paradigm ilmiah memanfaatkan tes tertulis atau kuesioner atau menggunakan alat fisik lainnya seperti perti poligraf, dan sebagainya. Pencari tahu alamiah dalam pengumpulan data lebih banyak bergantung pada dirinya sebagai alat pengumpulan data.
9.      Waktu untuk Mengumpulkan Data dan Aturan Analisis
Pencari tahu ilmiah dapat menetapkan semua aturan pengumpulan dan analisis data sebelumnya. Mereka sudah mengetahui hipotesis yang akan diuji dan dapat mngembangkan instrument yang cocok dengan variabel. Instrument ditetapkan sebelumnya tentang ukuran terhadap ciri yang diketahui sehingga memungkinkan menetapkan waktu melakukan analisis. Paradigm alamiah tidak diperkenankan memformulasikan secara a priori. Datanya dikumpulkan serta dikategorisasikan dalam bentuk kasar dan diunitkan oleh peneliti / analisis. Di samping itu, pencari tahu alamiah kurang dibimbing oleh aturan dibandingkan dengan paradigma alamiah.
10.  Desain
Bagi paradigm ilmiah, desain harus disusun secara pasti sebelum fakta dikumpulkan. Sekali desaian dugunakan,maka tidak boleh mengubahnya dalam bentuk apapun. Bagi paradigma alamiah, desain dapat disusun sebelumnya secara tidak lengkap. Apabila sudah mulai digunakan, maka desaian itu malah mulai dilengkapi dan disempurnakan. Desain itu dapat senantiasa diubah dan disesuaikan dengan apa yang diperoleh dan disesuaikan pula dengan pengetahuan baru yang ditemukan.
11.  Gaya
Paradigma ilmiah menggunakan gaya dengan menerapkan intervensi. Variabel bebas dan terikat diisolasikan dari konteksnya, diatur sedemikian rupa sehingga hanya variabel ini yang muncul untuk diukur, dan kemudian dikonfirmasikan dengan hipotesisnya. Sebaliknya paradigm alamiah bergantung pada seleksi. Dari berbagai peristiwa yang terjadi secara alamiah akhirnya dipilih sesuai gejala tanpa mengadakan intervensi. Jadi pencari tahu alamiah tidak mengelola situasi, tetapi memanfaatkannya.
12.  Latar
Pencari tahu ilmiah bersandar pada latar laboratorium untuk keperluan mengadakan control, mengelola intervensi, dan sebagainya. Sebaliknya pencari tahu alamiah cenderung mengadakan penelitian dalam latar almiah.
13.  Perlakuan
Bagi paradigm ilmiah, konsep perlakuan sangat penting. Pada setiap eksperimen, perlakuan itu harus stabil dan tidak bervariasi. Untuk paradigm alamiah, konsep perlakuan tersebut asing karena perlakuan menyertakan beberapa cara manipulasi atau intervensi. Jika pun hal itu terjadi dengan mempertimbangkan terjadinya gejala secara alamiah, maka perlakuan itu merupakan penyebab yang dikehendaki untuk beberapa pengaruh yang diamati.
14.  Satuan Kajian
Satuan kajian bagi paradigm ilmiah adalah variabel dan semua hubungan yang dinyatakan di anatara variabel atau system variabel. Sebaliknya, paradigm alamiah berpendirian agar satuan kajian lebih sederhana. Selain itu, mereka lebih menekankan kemurnian system pola yang diamati secara alamiah.
15.  Unsur – unsur Konstekstual
Peneliti ilmiah senantiasa berusaha mengontrol seluruh unsur yang menganggu yang dapat mengaburkan unsur – unsur itu dari fenomena yang menjadi pusat perhatian atau yang mengacu pada pengaruh terhadap fenomena itu. Peneliti alamiah bukan hanya tidak tertarik pada control, melainkan malah mengundang adanya ikut campur sehingga mereka secara lebih baik dapat mengerti peristiwa dalam dunia nyata dan merasakan pola – pola yang ada di dalamnya.

2.5Kompetensi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
1.         Kompetensi Peneliti Kuantitatif
a.       Memilik wawasan yang luas dan mendalam tentang bidang pendidikan yang akan diteliti.
b.      Mampu melakukan analisis masalah secara akurat, sehingga dapat ditemukan masalah penelitian pendidikan yang betul – betul masalah.
c.       Mampu menggunakan teori pendidikan yang tepat sehingga dapat digunakan untuk memperjelas masalah yang diteliti, dan merumuskan hipotesis penelitian.
d.      Memahami berbagai jenis metode penelitian kuantitatif, seperti metode survey, eksperimen, action research, expost facto, evaluasi dan R & D.
e.       Memahami teknik – teknik sampling, seperti probability sampling dan nonprobability sampling, dan mampu menghitung dan memilih jumlah sampel yang representative dengan sampling eror tertentu.
f.       Mampu menyususn instrument baik test maupun nontest untuk mengukur berbagai variabel yang diteliti, mampu menguji validitas dan reliabilitas instrument
g.      Mampu mengumpulkan data dengan kuesioner, maupun dengan wawancara observasi, dan dokumentasi
h.      Bila pengumpulan data dilakukan oleh tim, maka harus mampu mengorganisasiakn tim peneliti dengan baik
i.        Mampu menyajikan data, menganalisis data secara kuantitatif untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis penelitian yang telah dirumuskan
j.        Mampu memberikan interprestasi terhadap data hasil penelitian maupun hasil pengujian hipotesis
k.      Mampu membuat laporan secara sistematis, dan menyampaikan hasil penelitian ke pihak – pihak yang terkait
l.        Mampu membuat abstraksi hasil penelitian, dan membuat artikel untuk dimuat ke dalam jurnal ilmiah
m.    Mampu mengkomunikasikan hasil penelitian kepada masyarakat luas
2.         Kompetensi Peneliti Kualitatif
a.       Memiliki wawasan yang luas dan mendalam tentang bidang pendidikan yang akan diteliti
b.      Mampu menciptakan rapport kepada setiap orang yang ada pada situasi sosial yang akan diteliti. Meciptakan rapport  berarti mampu membangun hubungan yang akrab dengan setiap orang yang ada pada konteks sosial
c.       Memiliki kepekaan untuk melihat gejala yang ada pada obyek penelitian (situasi sosial)
d.      Mampu menggali sumber dengan observasi partisipan, dan wawancara mendalam secara trianggulasi, serta sumber – sumber lain
e.       Mampu menganalisis data kualitatif secara induktif berkesinambungan mulai dari analisis deskriptif, domain, komponensial dan tema kultural/budaya
f.       Mampu menguji kredabilitas, dependabilitas, konfrimabilitas dan transferabilitas hasil penelitian
g.      Mampu menghasilkan temuan pengetahuan, mengkontruksi fenomena, hipotesis atau ilmu baru
h.      Mampu membuat laporan secara sistematis, jelas, lengkap dan rinci
i.        Mampu membuat abstaraksi hasil penelitian, dan membuat artikel untuk dimuat ke dalam jurnal ilmiah
j.        Mampu mengkomunikasikan hasil penelitian kepada masyarakat luas

2.6 Ruang Lingkup Penelitian Pendidikan
2.6.1 Pengertian dan Pendidikan
Dalam UU No 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara.
2.6.2     Ruang Penelitian Pendidikan
Ruang lingkup penelitian pendidikan di Indonesia meliputi penelitian pada tingkat kebijakan, tingkat managerial dan institusional.
1.      Lingkup Penelitian pada Tingkat Kebijakan Pendidikan
a.       Perumusan kenijakan tentang pendidikan yang dilakukan oleh MPR Kebijakan Presiden dan DPR tentang Pendidikan
b.      Kebijakan Mendiknas tentang Pendidikan
c.       Kebijakan Dirjen, Gubernur, Bupati, Walikota, Diknas tentang pendidikan
d.      Implementasi kebijakan pendidikan
e.       Output dan Outcome Kebijakan Pendidikan

2.      Lingkup Penelitian Pada Tingkat Manajerial (manajemen)
a.                   Perencaan pendidikan pada tingkat nasional
b.                   Organisasi Diknas Dinas Propinsi/ Kabupaten/ Kota dan institusi pendidikan
c.                   Kepemimpinan Pendidikan
d.                   Ekonomi Pendidikan
e.                   Bangunan Pendidikan , sarana, dan prasana pendidikan
f.                    Hubungan kerjasama anata lembaga pendidikan
g.                   Koordinasi pendidikan dari pusat ke daerah
h.                   SDM tenaga kependidikan
i.                    Evaluasi pendidikan
j.                    Kearsipan , perpustakaan dan museum pendidikan

3.      Lingkup Penelitian pada Tingkat Operasional
a.                   Aspirasi masyarakat dalam memilih pendidikan
b.                  Pemasaran lembaga pendidikan
c.                   System seleksi murid baru
d.                  Kurikulum, silabe
e.                   Teknologi pembelajaran
f.                   Media pendidikan, buku ajar dll
g.                  Penampilan mengajar guru
h.                  Manajemen klas
i.                    System evaluasi belajar
j.                    System ujian akhir
k.                  Kuantitas dan kualitas lulusan
l.                    Manajemen klas
m.                Unit produksi
n.                  Perkembangan karir lulusan
o.                  Pembiayaan pendidikan
p.                  Profil pekerjaan dan tenaga kerja DUDI
q.                  Kebutuhan masyarakat akan lulusan pendidikan
























BAB III
PENUTUP


3.1         Kesimpulan
Penelitian diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistemastis dan logis menggunakan metode ilmiah untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Sugiyono (2010) menyatakan bahwa berdasarkan tujuannya metode penelitian diklasifikasikan menjadi penelitian dasar (basic research), penelitian terapan (applied research), dan penelitian pengembangan (research and development). Sedangkan berdasarkan tingkat kealamiahan tempat penelitian tempat penelitian, dibedakan menjadi penelitian eksperimen, penelitian survey, dan penelitian naturalistik.
Metode peneltian kuantitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positifisme. Digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan filsafat pospositifisme. Digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah.
Perbedaan penelitian kuantitatif dan kualitatif meliputi perbedaan teknik yang digunakan, kriteria kualitas, sumber teori, pertanyaan tentang kausalitas, tipe pengetahuan yang digunakan, pendirian, maksud, instrument, waktu untuk mengumpulkan data dan aturan analisis,desain, gaya, latar, perlakuan, satuan kajian, dan unsur – unsur kontekstual. Ruang lingkup penelitian pendidikan di Indonesia meliputi penelitian pada tingkat kebijakan, tingkat managerial dan institusional.





DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods) . Bandung : Alfabete.

Moleong , 2009, Metodologi Penelitian Kualitatif, BAndung: PT Remaja RosdaKarya.

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan sopan