Kamis, 03 Desember 2015

Asumsi APTL

A.    Asumsi Analisis Perubahan Tingkah Laku
Skinner bekerja dengan tiga asumsi dasar, dimana asumsi pertama dan kedua pada dasarnya menjadi psikologi pada umumnya, bahkan menjadi asumsi semua pendekatan ilmiah:
1.      Tingkah laku itu mengikuti hukum tertentu (Behavior is lawful). Ilmu adalah usaha untuk menemukan keteraturan, menunjukkan bahwa peristiwa tertentu berhubungan secara teratur dengan peristiwa lain. (Alwisol,2005:400).Tingkah laku merupakan hasil pengaruh timbal balik dari variable-variabel tertentu yang dapat diidentifikasikan, yang sepenuhnya menentukan tingkah laku. Tingkah laku individu seluruhnya merupakan hasil dari dunia objektif. (A.Supratiknya,1993:317-318).Asumsi bahwa seluruh tingkah laku berjalan menurut hukum jelas mengandung implikasi tentang kemungkinan mengontrol tingkah laku. Skinner tidak banyak tertarik pada aspek-aspek tingkah laku yang sangat sukar berubah, misalnya aspek-aspek tingkah laku yang terutama dikuasai oleh warisan hereditas. (A.Supratiknya,1993:320)
2.      Tingkah laku dapat diramalkan (Behavior can be predicted). Ilmu bukan hanya menjelaskan tetapi juga meramalkan. Bukan hanya mengenai peristiwa masa lalu tetapi juga masa yang akan datang. Teori yang berdaya guna adalah yang memungkinkan dapat dilakukannya prediksi mengenai tingkah laku yang akan datang dan menguji prediksi itu. (Alwisol,2005: 400)
3.      Tingkah laku dapat dikontrol (Behavior can be controlled). Ilmu dapat melakukan antisipasi dan menentukan/membentuk tingkah laku seseorang. Skinner bukan hanya ingin tau bagaimana terjadinya tingkah laku, tetapi Skinner sangat berkeinginan memanipulasinya.. (Alwisol,2005:400-401)
Asumsi dasar dalam analisis tingkah laku yakni bahwa semua tingkah laku dipelajari. Hal ini berarti bahwa baik tingkah laku bermasalah maupun tingkah laku normal ditunjukkan oleh murid karena tingkah laku itu telah dipelajari oleh murid tersebut. Bila kita memiliki murid yang patuh pada peraturan, bermain dengan baik bersama dengan temannya, dan tahu bagaimana menggunakahn bahan-bahan pelajaran dengan baik, kita biasanya mengatakan bahwa tingkah laku itu merupakan hasil didikan orang tua yang hati-hati dan bertanggung jawab, yang patut menerima penghargaan karena telah mengasuh anak-anaknya dengan baik. atau juga kita akan mengatakan bahwa guru di kelas sebelumnya telah bekerja dan mengajar dengan baik. bila para murid di sekolah menunjukkan tingkah laku normal dan baik, secara otomatis kita menasumsikan bahwa orang-orang dewasa yang bertanggungjawab telah menghasilkan tingkah laku itu.
Persoalannya adalah, bagaimana dengan anak-anak yang suka membolos, yang sering berkelahi, atau duduk menyendiri pada saat istirahat? Bagaimana dengan anak-anak yang tidak dapat menangkap pelajaran atau mengalami kesulitan dalam menggunakan waktu belajarnya? Bila kita menghadapi anak-anak bermasalah seperti ini biasanya kita akan mengatakan bahwa anak-anak ini mengalami gangguan emosional, mengalami gangguan kepribadian atau gangguan neuorologis. Biasanya kita akan menolak bahwa tingkah laku bermasalah tersebut juga merupakan suatu hasil belajar

B.     Lingkungan sebagai penentu tingkah laku
Seringkali kita mendengar orang berbicara tentang beberapa macam perbedaan dari lingkungan. Beberapa istilah yang berhubungan dengan lingkungan itu antara lain adalah:
a.        Lingkungan alami (natural environment). Kerap banyak orang berpikir tentang sesuatu yang besar di luar rumah atau tempat terbuka yang luas. Tetapi natural environment bisa juga berate lain. Seorang behaviorisme akan mengatakan lingkungan itu adalah lingkungan social. Ketika kita berpikir tentang lingkungan social berarti kita sedang berpikir tentang dunia nyata (real world) di mana kita menghabiskan waktu kita. bagi anak-anak, lingkungan alami ditendensikan sebagai ruang kelas. Di dalam kelas ada banyak factor yang bekerja bersama yang mempengaruhi tingkah laku anak.
b.       Prosthetic environment. Prosthetic environment adalah lingkungan yang membantu individu untuk berkelakuan lebih menyukai teman sebaya baik laki-laki maupun perempuan. Teman sebaya yang biasanya kita sebut sebagai teman bermain dapat membantu menyusun pembentukan tingkah laku dan juga cara mereka beradaptasi secara wajar.
c.       Therapeutic environment. Therapeutic environment adalah lingkungan yang dimaksudkan untuk membantu anak (murid/siswa) untuk pada akhirnya menjadi lebih bebas (independent) dari lingkungannya dan dapat berperilaku lebih suka tipikal teman sebayanya ketika berada dalam natural environment. Seringkali anak dengan problem tingkah laku yang serius memerlukan sebuah tempat yang special atau ruang kelas yang special di mana anak tersebut dapat mengungkapkan isi hatinya dan menjadi baik.
Lingkungan merupakan Stimulus yang Dalam hubungan dengan pemahaman tentang lingkungan ini kita perlu mengerti satu aspek spesifik dari lingkungan yang disebut dengan stimulus. Stimulus adalah istilah umum yang digunakan untuk mendeskripsikan aspek spesifik dari lingkungan yang dapat dibedakan dari satu dan lainnya. Dalam studi istilah stimulus biasanya digunakan dalam referensi pada variable-variabel lingkungan yang oleh individu yang melakukan eksperimen dikontrol atau dimanipulasi dalam beberapa cara yang dapat menentukan pengaruh mereka pada tingkah laku yang tengah diselidiki. Stimulus dapat berupa kondisi, peristiwa, atau perubahan dalam dunia fisik. Stimuli terjadi baik di dalam maupun di luar tubuh, meskipun stimuli sebagian besar sering dikaji oleh analisis terapan tingkah laku di luar tubuh. Stimuli dapat berupa orang, tempat, dan sesuatu seperti cahaya, suara, rasa dan tekstur. Respon dan stimuli adalah konsep-konsep fundamental dalam menganalisis tingkah laku.

C.     Pengubahan tingkah laku melalui lingkungan
Tingkah laku dapat diubah dengan mengubah lingkungan ,Skinner dalam tesisnya mengatakan bahwa “When an organism acts upon the environment in which it lives, it changes that environment in ways that often affect the organism itself. Some of these changes are what the layman calls rewards, or what are generally referred to technically as reinforcers: when they follow behavior in this way they increase the likelihood that the organism will behave in the same way again” (Ferster &Skinner, 1957, p. 1). Dari sini kita dapat mengatakan bahwa lingkungan (environment) sangat mempengaruhi perubahan tingkah laku individu (organism). Perubahan tingkah laku itu bisa terbentuk karena reward (ganjaran, hadiah) atau bisa juga karena reinforcerment ( penguatan). Jika demikian maka tingkah laku itu sesungguhnya dapat diubah dengan mengubah lingkungan (dengan rewards dan reinforcement). Dengan kata lain bahwa tiap lingkungan dapat diatur kembali untuk mengajarkan bagaimana menunjukkan tingkah laku yang baru dan lebih adaptif bagi individu (organism)


0 komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan sopan