A. Asumsi
Analisis Perubahan Tingkah Laku
Skinner
bekerja dengan tiga asumsi dasar, dimana asumsi pertama dan kedua pada dasarnya
menjadi psikologi pada umumnya, bahkan menjadi asumsi semua pendekatan ilmiah:
1.
Tingkah laku itu mengikuti hukum tertentu (Behavior
is lawful). Ilmu adalah usaha untuk menemukan keteraturan, menunjukkan
bahwa peristiwa tertentu berhubungan secara teratur dengan peristiwa lain.
(Alwisol,2005:400).Tingkah laku merupakan hasil pengaruh timbal balik dari
variable-variabel tertentu yang dapat diidentifikasikan, yang sepenuhnya
menentukan tingkah laku. Tingkah laku individu seluruhnya merupakan hasil dari
dunia objektif. (A.Supratiknya,1993:317-318).Asumsi bahwa seluruh tingkah laku
berjalan menurut hukum jelas mengandung implikasi tentang kemungkinan
mengontrol tingkah laku. Skinner tidak banyak tertarik pada aspek-aspek tingkah
laku yang sangat sukar berubah, misalnya aspek-aspek tingkah laku yang terutama
dikuasai oleh warisan hereditas. (A.Supratiknya,1993:320)
2.
Tingkah laku dapat diramalkan (Behavior can be
predicted). Ilmu bukan hanya menjelaskan tetapi juga meramalkan. Bukan
hanya mengenai peristiwa masa lalu tetapi juga masa yang akan datang. Teori
yang berdaya guna adalah yang memungkinkan dapat dilakukannya prediksi mengenai
tingkah laku yang akan datang dan menguji prediksi itu. (Alwisol,2005: 400)
3.
Tingkah laku dapat dikontrol (Behavior can be
controlled). Ilmu dapat melakukan antisipasi dan menentukan/membentuk
tingkah laku seseorang. Skinner bukan hanya ingin tau bagaimana terjadinya
tingkah laku, tetapi Skinner sangat berkeinginan memanipulasinya..
(Alwisol,2005:400-401)
Asumsi dasar dalam analisis tingkah laku yakni bahwa semua tingkah laku dipelajari. Hal ini berarti
bahwa baik tingkah laku bermasalah maupun tingkah laku normal ditunjukkan oleh
murid karena tingkah laku itu telah dipelajari oleh murid tersebut. Bila kita
memiliki murid yang patuh pada peraturan, bermain dengan baik bersama dengan
temannya, dan tahu bagaimana menggunakahn bahan-bahan pelajaran dengan baik, kita
biasanya mengatakan bahwa tingkah laku itu merupakan hasil didikan orang tua
yang hati-hati dan bertanggung jawab, yang patut menerima penghargaan
karena telah mengasuh anak-anaknya dengan baik. atau juga kita akan mengatakan
bahwa guru di kelas sebelumnya telah bekerja dan mengajar dengan baik. bila
para murid di sekolah menunjukkan tingkah laku normal dan baik, secara otomatis
kita menasumsikan bahwa orang-orang dewasa yang bertanggungjawab telah
menghasilkan tingkah laku itu.
Persoalannya
adalah, bagaimana dengan anak-anak yang suka membolos, yang sering berkelahi,
atau duduk menyendiri pada saat istirahat? Bagaimana dengan anak-anak yang
tidak dapat menangkap pelajaran atau mengalami kesulitan dalam menggunakan
waktu belajarnya? Bila kita menghadapi anak-anak bermasalah seperti ini
biasanya kita akan mengatakan bahwa anak-anak ini mengalami gangguan emosional,
mengalami gangguan kepribadian atau gangguan neuorologis. Biasanya kita akan
menolak bahwa tingkah laku bermasalah tersebut juga merupakan suatu hasil
belajar
B. Lingkungan
sebagai penentu tingkah laku
Seringkali kita mendengar orang
berbicara tentang beberapa macam perbedaan dari lingkungan. Beberapa istilah
yang berhubungan dengan lingkungan itu antara lain adalah:
a. Lingkungan
alami (natural environment). Kerap banyak orang berpikir tentang sesuatu yang
besar di luar rumah atau tempat terbuka yang luas. Tetapi natural environment
bisa juga berate lain. Seorang behaviorisme akan mengatakan lingkungan itu
adalah lingkungan social. Ketika kita berpikir tentang lingkungan social
berarti kita sedang berpikir tentang dunia nyata (real world) di mana kita
menghabiskan waktu kita. bagi anak-anak, lingkungan alami ditendensikan sebagai
ruang kelas. Di dalam kelas ada banyak factor yang bekerja bersama yang
mempengaruhi tingkah laku anak.
b. Prosthetic
environment. Prosthetic environment adalah lingkungan yang membantu
individu untuk berkelakuan lebih menyukai teman sebaya baik laki-laki maupun
perempuan. Teman sebaya yang biasanya kita sebut sebagai teman bermain dapat
membantu menyusun pembentukan tingkah laku dan juga cara mereka beradaptasi
secara wajar.
c. Therapeutic
environment. Therapeutic environment adalah lingkungan yang dimaksudkan untuk
membantu anak (murid/siswa) untuk pada akhirnya menjadi lebih bebas
(independent) dari lingkungannya dan dapat berperilaku lebih suka tipikal teman
sebayanya ketika berada dalam natural environment. Seringkali anak dengan
problem tingkah laku yang serius memerlukan sebuah tempat yang special atau
ruang kelas yang special di mana anak tersebut dapat mengungkapkan isi
hatinya dan menjadi baik.
Lingkungan
merupakan Stimulus yang Dalam hubungan dengan pemahaman tentang lingkungan ini
kita perlu mengerti satu aspek spesifik dari lingkungan yang disebut dengan
stimulus. Stimulus adalah istilah umum yang digunakan untuk mendeskripsikan
aspek spesifik dari lingkungan yang dapat dibedakan dari satu dan lainnya.
Dalam studi istilah stimulus biasanya digunakan dalam referensi pada
variable-variabel lingkungan yang oleh individu yang melakukan eksperimen
dikontrol atau dimanipulasi dalam beberapa cara yang dapat menentukan
pengaruh mereka pada tingkah laku yang tengah diselidiki. Stimulus dapat berupa
kondisi, peristiwa, atau perubahan dalam dunia fisik. Stimuli terjadi baik di
dalam maupun di luar tubuh, meskipun stimuli sebagian besar sering dikaji oleh
analisis terapan tingkah laku di luar tubuh. Stimuli dapat berupa orang,
tempat, dan sesuatu seperti cahaya, suara, rasa dan tekstur. Respon dan stimuli
adalah konsep-konsep fundamental dalam menganalisis tingkah laku.
C. Pengubahan
tingkah laku melalui lingkungan
Tingkah
laku dapat diubah dengan mengubah lingkungan ,Skinner dalam tesisnya mengatakan
bahwa “When an organism acts upon the environment in which it lives, it
changes that environment in ways that often affect the organism itself. Some of
these changes are what the layman calls rewards, or what are generally referred
to technically as reinforcers: when they follow behavior in this way they
increase the likelihood that the organism will behave in the same way again”
(Ferster &Skinner, 1957, p. 1). Dari sini kita dapat mengatakan bahwa
lingkungan (environment) sangat mempengaruhi perubahan tingkah laku individu
(organism). Perubahan tingkah laku itu bisa terbentuk karena reward (ganjaran,
hadiah) atau bisa juga karena reinforcerment ( penguatan). Jika demikian maka
tingkah laku itu sesungguhnya dapat diubah dengan mengubah lingkungan (dengan
rewards dan reinforcement). Dengan kata lain bahwa tiap lingkungan dapat diatur
kembali untuk mengajarkan bagaimana menunjukkan tingkah laku yang baru dan
lebih adaptif bagi individu (organism)






0 komentar:
Posting Komentar
silahkan berkomentar dengan sopan