UNNES

Universitas Negeri Semarang(Unnes) adalah universitas konservasi. Konservasi memang telah menjadi visi kami. Lengkapnya, universitas konservasi bertaraf internasional yang sehat, unggul, dan sejahtera

TIK

hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dan proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain sehingga lebih cepat, lebih luas sebarannya, dan lebih lama penyimpanannya.

BIMBINGAN DAN KONSELING

Proses interaksi antara konselor dengan klien/konselee baik secara langsung (tatap muka) atau tidak langsung (melalui media : internet, atau telepon) dalam rangka mem-bantu klien agar dapat mengembangkan potensi dirinya atau memecahkan masalah yang dialaminya

PENDIDIKAN

pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.

KONSERVASI

suatu usaha pengelolaan yang dilakukan oleh manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam sehingga dapat menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya secara berkelanjutan untuk generasi manusia saat ini, serta tetap memelihara potensinya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi generasi generasi yang akan datang.

Senin, 22 Desember 2014

Teori Penelitian

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Teori
Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses penelitian adalah mencari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagiai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian (Sumadi Suryabrata,1990). Landasan teori ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data.
Setiap penelitian selalu menggunakan teori, seperti dinyatakan oleh Neumen 2003 “ researchers use thery differently in various types of research, but some type of theory is present in most social research “  Kerlinger 1978mengemukakan bahwa Theory is a set of interrelated contruct, definitions, and proposition that present a systematic view of phenomena by specifying relation among variabels, with purpose of explaning and predicting the phenomena. Teori adalah seperangkat konstruk, definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Wiliam Wiersma 1986 menyatakan bahwa teori adalah generalisasi atau kumpulan generalisasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sistematik.
Cooper and Schindler 2003 mengemukakan bahwa teori merupakan seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Sitirahayu Haditno 1999 menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang penting , bila ia lebih banyak dapat melukiskan, menerangkan, dan meramalkan gejala yang ada.
Mark 1963, dalam  Sitirahayu Haditno 1999, membedakan adanya tiga macam teori yang berhubungan dengan data empiris. Antara lain:
1.      Teori deduktif : memberikan keterangan yang dimulai dari perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu ke arah data akan diterangkan.
2.      Teori induktif adalah cara menerangkan dari data ke arah teori. Dalam bentuk ekstrim titik pandang yang positivistik ini dijumpai pada kaum behaviost.
3.      Teori fungsional : di sini tampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data.
Berdasarkan tiga pandangan ini dapatlah kesimpulan bahwa teori dapat dipandang sebagai berikut.
1.      Teori merunjuk pada sekelompok hukum yang tersusun secara logis.
2.      Suatu teori juga dapat merupakan suatu rangkuman tertulis mengenai suatu kelompok hukum yang diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu.
3.      Suatu teori juga dapat menunjuk pada suatu cara menerangkan yang menggeneralisasikan.
Kesimpulan bahwa, suatu teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau sistem pengertian ini diperoleh melaui, jalan yang sistematis. Suatu teori harus dapat diuji kebenarannya, bila tidak, dia bukan suatu teori.
Teori semacam ini mempunyai dasar empiris. Suatu teri dapat memandang gejala yang dihadapi dari sudut yang berbeda-beda, misaalnya dapat dengan menerangkan, tetapi dapat pula dengan menganalisa dan menginterprestassikan secara kritis (Habermas, 1968).
Teori adalah jalur logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang disusun secara sistematis. Teori mempunyai 3 fungsi yaitu
1.      Menjelaskan
2.      Meramalkan
3.      Pengendalian
Dalam bidang administrasi pendidikan Hoy dan Miskel 2001  mengemukakan teori bahwa teori merupakan seperangkat konsep, asumsi, dan generalisasi yang dapat digunakan untuk mengungkapkan dan menjelaskan perilaku dalam berbagai organisasi.
 Hoy dan Miskel 2001 mengemukakan bahwa komponen teori itu meliputi konsep dan asumsi. Konsep merupakan istilah yang abstrak dan bermakna generalisasi. Sedangkan asumsi merupakan pernyataan diterima kebenarannya tanpa pembuktian. Asumsi dalam bidang administrasi pendidikan
1.      Administrasi merupakan generalisasi tentang perilaku semua manusia dalam organisasi
2.      Administrasi merupakan proses pengarahan dan pengendalian kehidupan dalam organisasi sosial.

B.      Tingkatan dan Fokus Teori

Numan 2003 mengemukakan tingkatan teori menjadi tiga yaitu, micro, meso, dan macro. Micro level theory: small slices of time, space, or a number of people. The concept are usually not very abstract. Meso-level theory: attempts to link macro and micro levels or to operate at an intermediate level. Macro level theory: concerns the operation of larger aggregates such as social institutions, entire culture systems, and whole societies. It uses more concepts that are abstract. Numan (dalam Sugiyono, 2008) mengatakan bahwa tingkatan teori dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: micro, meso, dan macro.
  • Level teori micro maksudnya: memerlukan hanya sedikit waktu, tempat, dan sejumlah orang. Konsep, biasanya tidak terlalu abstrak.
  • Level teori meso maksudnya: mencoba menarik benang merah antara micro dan macro. Contoh: teori organisasi dan gerakan sosial, atau komunitas tertentu.
  • Level teori macro: berkenaan dengan hal-hal yang  operasional seperti lembaga sosial, sistem budaya secara keseluruhan, dan keseluruhan masyarakat. Level ini banyak menggunakan konsep dan abstract.
Dan fokus teori dibedakan menjadi tiga yaitu teori subtantif, teori formal, dan midle range tori. Substantive theory is developed for a specific area of social concern, such as deliquent gangs, strikes, diforce, or ras relation. Formal theory is developed for a broad conceptual area in general theory, such as deviance; socialization or power. Middle range theory is slightly more abstract than empirical generalization or specific hypothesis. Middle range theories can be formal or substantive. Middle range theory is principally used in sociology to guide empirical inquiry.Teori yang digunakan untuk perumusan hipotesis yang akan diuji melalui pengumpulan data adalah teori subtantif, karena teori ini lebih focus berlaku untuk objek yang akan diteliti. Numan mengatakan bahwa fokus teori dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: teori substantif, teori formal, dan teori pertengahan (antara):
·         Teori substantif adalah pengembangan dari hal-hal yang khusus, seperti: aksi pemogokan kerja, kelompok anak nakal, perceraian, atau pertentangan antar golongan.
·         Teori formal adalah konsep yang global di dalam ilmu umum, seperti penyimpangan – penyimpangan dalam bidang sosial dan kekuasaan.
·         Teori pertengahan (antara) adalah sedikit lebih abstrak. Bentuknya dapat formal. Biasanya digunakan didalam ilmu sosiologi.

C.    Kegunaan Teori dalam Penelitian

Cooper & Schindler (2003) kenjelaskan bahwa kegunaan teori adalah:
  1. Theory norrows the range of fact we need to study (Teori norrows kisaran kenyataan kita perlu mempelajari)
  2. Theory suggest which research approachesare likely to yield the greatesmearning (Teori menyarankan mana penelitian approachesare kemungkinan untuk menghasilkan greatesmearning yang)
  3. Theory suggest a system for the research to impose on data in order to classify them in the most meaningful way (Teori menunjukkan suatu sistem untuk penelitian untuk memaksakan data untuk mengklasifikasikan mereka dengan cara yang paling bermakna)
  4. Theory summarizes what is known about object of study and states the uniformmities that lie beyond immediate observation (Teori merangkum apa yang diketahui tentang objek studi dan menyatakan uniformmities yang berada di luar pengamatan langsung)
  5. Theory can be used to predict further fact that should be found (Teori dapat digunakan untuk memprediksi fakta lebih lanjut yang harus ditemukan)
     Wiliam Wiersma (1986) basically, theory helps provide a frame work by serving as the point of departure for pursuit of a research problems. The theory identifies the crucial factors. It provides a guide for systematizing and interrelating the various facets of research/ How ever, besider providing the systematic view of the factors under study, the theory also may very well identify gaps, weak points, and inconsistencies that indicate the need for additional research. Also, the development of theory may light the way for continued research on the phenomena under study. Another function of theory is provide one or more generalization that can be test and used in practical applications and further research”.
      Wiliam Wiersma (1986) pada dasarnya, teori membantu menyediakan kerangka kerja dengan menjabat sebagai titik tolak u/ mengejar suatu masalah penelitian. Teori ini meng-identifikasi faktor-faktor penting. Ini memberikan panduan bagi sistematisasi dan interrelating berbagai segi penelitian / Bagaimana pernah, besider memberikan pandangan sistematis dari faktor-faktor yang diteliti, teori juga mungkin sangat baik mengidentifikasi kesenjangan, titik-titik lemah, dan inkonsistensi yg menunjukkan perlunya penelitian tambahan. Selain itu, perkembangan teori dapat menerangi jalan untuk penelitian lanjutan pada fenomena yang diteliti. Fungsi lain dari teori adalah menyediakan satu atau lebih generalisasi yang dapat menguji dan digunakan dalam aplikasi praktis dan penelitian lebih lanjut .

Gawin (N. S. Sukmadinata, 2005) menyata-kan bahwa fungsi teori a the theory help the researcher to analyze data to make shorthand summarization or synopsis of data and relations, and suggest new things to try out” (teori ini membantu peneliti untuk menganalisis data u/ membuat summarization singkatan atau sinopsis data dan hubungan, dan menyarankan hal-hal baru untuk menco)

Ciri-ciri teori yang baik menurut Mouly adalah:
  1. A theoritical system must permit deduction which be tested emperically (Suatu sistem teori harus memungkinkan deduksi yang akan diuji emperically)
  2. A theory mus be compatible both with observation and with previously validated theory (Sebuah teori mus akan kompatibel baik dengan observasi dan dengan teori sebelumnya divalidasi)
  3. Theories must be stated in simple terms, that theory is best which explains the most in the simplest form (Teori harus dinyatakan dalam istilah yang sederhana, teori yang terbaik yang menjelaskan paling dalam bentuk yang paling sederhana)
  4. Scientofic theories must be based on empirical facts and relatioship (Teori-teori ilmiah harus didasarkan pada fakta empiris dan relatioship).


Dalam kaitan dengan kegiatan penelitian, fungsi teori adalah:
  1. Digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup variabel yang akan diteliti
  2. Pediksi dan pemandu untuk menemukan fakta – untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian, karena pada dasarnya hipotesis itu merupakan penyataan yang bersifat prediktif
  3. Digunakan untuk membahas hasil penelitian, dan selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dalam upaya pemecahan masalah 
Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam penelitian kuantitatif, teori yang digunakan harus sudah jelas, karena teori di sini akan berfungsi untuk memperjelas masalah yang akan diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan sebagai referensi untuk menyusun instrumen penelitian. Oleh karena itu landasan teori dalam proposal penelitian kuantitatif harus sudah jelas teori apa yang akan dipakai.
Teori-teori pendidikan dapat dibagi menjadi teori umum pendidikan dan teori khusus pendidikan. Teori umum pendidikan dapat dibagi menjadi filsafat-filsafat pendidikan (filsafat ilmu pendidikan dan filsafat praktek pendidikan) dan Ausland pedagogik. Teori khusus pendidikan dapat dibagi menjadi teknologi pendidikan (manajemen pendidikan, pengembangan kurikulum, model-model belajar mengajar dan evaluasi pendidikan) dan ilmu pendidikan (ilmu pendidikan makro dan mikro).
Redja Mudyaharjo 2002 dalam (Sugiyono, 2010), mengemukakan bahwa, sebuah teori pendidikan adalah sebuah sistem konsep yang terpadu, menerangkan dan prediktif tentang peristiwa-peristiwa pendidikan. Sebuah teori ada yang berperan sebagai asumsi atau titi tolak pemikiran pendidikan, dan ada pula yang berperan sebagai definisi atau keterangan yang menyatakan makna. Asumsi pokok pendidikan adalah:
  1. Pendidikan adalah aktual, artinya pendidikan bermula dari kondisi-kondisi aktual dari individu yang belajar dan lingkungan belajarnya
  2. Pendidikan adalah normatif, artinya pendidikan tertuju pada mencapai hal-hal yang baik atau norma-norma yang baik
  3. pendidikan adalah suatu proses pencapaian tujuan, artinya pendidikan berupa serangkaian kegiatan yang bermula dari kondisi-kondisi aktual dari individu yang belajar, tertuju pada pencapaian individu yang diharapkan.
Dalam kaitannya dengan kegiatan penelitian, maka fungsi teori yang pertama digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup, atau konstruk variabel yang akan diteliti. Fungsi teori yang kedua adalah untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian, karena pada dasarnya hipotesis itu merupakan pernyataan yang bersifat prediktif. Selanjutnya fungsi teori yang ketiga digunakan mencandra dan membahas hasil penelitian, sehingga selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dan upaya pemecahan masalah
D.DeskripsiTeori

Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Bila dalam suatu penelitian terdapat tiga variabel independen dan satu dependen, maka kelompok teori yang perlu dideskripsikan ada empat kelompok teori, yaitu kelompok teori yang berkenaan dengan variabel independen dan satu dependen. Oleh karena itu, semakin banyak variabel yang diteliti, maka akan semakin banyak teori yang dikemukakan

        Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (dan bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan, dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.
Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut:
  1. Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya
  2. Cari sumber-sumber bacaan yang banyak dan relevan dengan setiap variabel yang diteliti.
  3. Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti. Untuk referensi yang berbentuk laporan penelitian lihat penelitian permasalahan yang digunakan, tempat penelitian, sampel sumber data, teknik pengumpulan data, analisis dan saran yang diberikan.
  4. Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, kemudian bandingkan antara satu sumber dengan sumber lainnya dan dipilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
  5. Baca seluruh isi topik buku sesuai dengan variabel yang akan diteliti lakukan analisis renungkan, dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.
  6. Deskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari berbagai sumber ke dalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau yang digunakan sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan.
E. Kerangka Berfikir
Uma Sekaran dalam bukunya Business Research (1992) dalam Sugiyono (2014:84) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai factor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
Kerangka berfikir yang baikakan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel independen dan dependen.Kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih.Apabila penelitian hanya membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti di samping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing – masing variabel, juga argumentasi terhadap variasi besaran yang diteliti.
Penelitian yang berkenaan dengan dua variabel atau lebih, biasanya dirumuskan hipotesis yang berbentuk komparasi maupun hubungan.Oleh karena itu, dalam rangka menyusun hipotesis penelitian yang berbentuk hubungan maupun komparasi, maka perlu dikemukakan kerangka berfikir.
Sebuah teori harus menguasai teori – teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis.Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala – gejala yang menjadi obyek permasalahan.Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bisa meyakinkan sesame ilmuwan, adalah alur – alur pikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berfikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis.Jadi kerangka berfikir merupakan sintesa tentang hubungan antar variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan.Berdasarkan teori – teori yang telah dideskripsikan tersebut, selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan sintesa tentang hubungan antar variabel yang diteliti.Sintesa tentang hubungan variabel tersebut, selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis. Proses penyususnan kerangka berfikir untuk merumuskan hipotesis, yaitu :
1.      Menetapkan Variabel yang diteliti
Untuk menentukan kelompok teori apa yang perlu dikemukakan dalam menyususn kerangka berfikir untuk pengajuan hipotesis maka harus ditetepkan terlebih dahulu variabel penelitiannya. Berapa jumlah variabel yang diteliti, dan apakah nama setiap variabel, merupakan titik tolak untuk menentukan teori yang akan dikemukakan.
2.      Membaca Buku dan Hasil Penelitian (HP)
Setelah variabel ditentukan, maka langkah berikutnya adlah membaca buku – buku dan hasil penelitian yang relevan.Buku – buku yang dibaca dapat berbentuk buku tes, ensiklopedia, dan kamus.Hasil penelitian yang dapat dibaca adalah laporan penelitian, journal ilmiah, skripsi, tesis dan disertasi.
3.      Deskripsi Teori dan Hasil Penelitian (HP)
Dari buku dan hasil penelitian yang dibaca akan dapat dikemukakan teori –teori yang berkenaan dengan variabel yang diteliti. Seperti telah dikemukakan, deskripsi teori berupa tentang, definisi terhadap masing – masing variabel yang diteliti, uraian rinci tentang ruang lingkup setiap variabel satu dengan yang lain dalam konteks penelitian.
4.      Analisis Kritis terhadap Teori dan Hasil Penelitian
Pada tahap ini peneliti melakukan analisis secara kritis terhadap teori – teori dan hasil penelitian yang telah dikemukakan. Dalam analisis ini peneliti akan mengkaji apakah teori –teori dan hasil penelitian yang telah ditetapkan itu betul – betul sesuai dengan obyek penelitian atau tidak, karena sering terjadi teori teori yang berasal dari luar tidak sesuai untuk penelitian di dalam negeri.
5.      Analisis Komparatif terhadap Teori dan Hasil Penelitian
Analisis komparatif dilakukan dengan cara membandingkan antara teori satu dengan teori yang lain, dan hasil penelitian satu dengan penelitian yang lain. Melalui analisis komparatif ini peneliti dapat memadukan antara teori satu dengan teori yang lain, atau mereduksi bila dipandang terlalu luas.
6.      Sintesa Kesimpulan
Melalui analisis kritis dan komparatif terhadap teori – teori dan hasil penelitian yang relevan dengan semua variabel yang diteliti, selanjutnya peneliti dapat melakukan sintesa atau kesimpulan sementara.Perpaduan sintesa antara variabel yang selanjutnya dapat digunakan untuk merumuskan hipotesis.
7.      Kerangka Berfikir
Setelah sintesa atau kesimpulan sementara dapat dirumuskan maka selanjutnya disusun kerangka berfikir.Kerangka berfikir yang dihasilkan dapat berupa kerangka berfikir yang asosiatif atau hubungan maupun komparatif atau perbandingan.
8.      Hipotesis
Berdasarkan kerangka berfikir tersebut selanjutnya disusun hipotesis. Bila kerangka berfikir berbunyi “jika guru kompeten, maka hasil belajar akan tinggi” , maka hipotesisnya berbunyi “ada hubungan yang positif dan signifikan antara kompetensi guru dengan hasil belajar”. Selanjutnya Uma Sekaran (1992) dalam Sugiyono (2014:95) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir yang baik, memuat hal – hal sebagai berikut :
1)      Variabel – variabel yang akan diteliti harus dijelaskan.
2)      Diskusi dalam kerangka berfikir harus dapat menunjukan dan menjelaskan pertautan atau hubungan antar variabel yang diteliti, dan ada teori yang mendasari
3)      Diskusi juga harus menunjukan dan menjelaskan apakah hubungan antar variabel itu positif atau negative, berbentuk simetris, kausal atau interaktif (timbal balik)
4)      Kerangka berfikir tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam bentuk diagram (paradigm penelitian), sehingga pihak lain dapat memahami kerangka piker yang dikemukakan dalam penelitian.


F.  Hipotesis
Hipotesis merpakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta – fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik dengan data.
Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif.Pada penelitian kualitatif, tidak dirumuskan hipotesis, tetapi justru duharapkan dapat ditemukan hipotesis. Selanjutnya hipotesis tersebut akan diuji oleh peneliti dengan menggunakan pendekatan kuantiatif.
Dalam hal ini perlu dibedakan pengertian hipotesis penelitian dan hipotesis statistic.Pengertian hipotesis penelitian seperti telah dikemukakan di atas. Selanjutnya statistic itu ada, bila [enelitian bekerja dengan sampel. Jika penelitian tidak menggunakan sampel, maka tidak ada hipotesis statistic.
Dalam suatu penelitian, dapat terjadi ada hipotesis penelitian tetapi tidak ada hipotesis statistic. Penelitian yang dilakukan pada seluruh populasi mungkin akan terdapat hipotesis penelitian tetapi tidak ada hipotesis statistic. Ingat bahwa hipotesis itu berupa jawaban sementara terhadap rumusan masalah dan hipotesis yang akan diuji dinamakan hipotesis kerja. Sebagai lawannya adlah hipotesis nol (nihil).Hipotesis kerja disusun berdasarkan atas teori yang dipandang handal, sedangkan hipotesis nol dirumuskan karena teori yang digunakan masih diragukan kehandalannya.
Contoh hipotesis penelitiannya :
1.      Kemmapuan bahasa asing murid – murid SLTA itu rendah (hipotesis deskriptif untuk populasi, hipotesis ini sering tidak dirumuskan dalam penelitian sosial)
2.      Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar antara Sekolah Negeri dan Swasta. (hipotesis komparatif, untuk populasi)
3.      Ada hubungan positif antara penghasilan orangtua dengan ketersediaan fasilitas belajar anak. (hipotesis asosiatif, untuk populasi.)
Hipotesis statistic diperlukan untuk menguji apakah hipotesis penelitian yang hanya diuji dengan data sampel itu dapat diberlakukan untuk populasi atau tidak. Dalam pembuktian ini akan muncul istilah signifikasi, atau taraf kesalahan atau kepercayaan dari pengujian,.Signifikan artinya hipotesis penelitian yang telah terbukti pada sampel itu (baik deskriptif, komparatif maupun asosiatif) dapat diberlakukan ke populasi.
Terdapat dua macam hipotesis penelitian yaitu hipotesis kerja dan hipotesi nol. Hipotesis kerja dinyatakan dalam kalimat positif dan hipotesis nol dinyatakan dalam kalimat negative. Dalam statistic juga terdapat dua macam hipotesis, yaitu hipotesis kerja dan hipotesis alternative (hipotesis alternative tidak sama dengan hipotesis kerja).
Dalam hipotesis statistic, yang diuji adalah hipotesis nol, hipotesis yang menyatakan tidak ada perbedaan antara data sampel dan data populasi.Yang diuji hipotesis nol karena peneliti tidak berharap ada perbedaan antara sampel dan populasi atau statistic dan parameter.Parameter adalah ukuran – ukuran berkenaan dengan populasi, dan statistic di sini diartikan sebagai ukuran – ukuran yang berkenaan dengan sampel.
1.      Bentuk – bentuk Hipotesis
Dilihat dari tingkat eksplanasinya, maka bentuk rumusan masalah ada tiga yaitu rumusan masalah deskriptif (variabel mandiri), komparatif (perbandingan), dan asosiatif (hubungan).Maka hipotesis penelitian juga ada tiga yaitu hipotesis komparatif, deskriptif dan asosiatif.
a.      Hipotesis Deskriptif
Hipotsis deskriptif merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu yang berkenaan dengan variabel mandiri.
Contoh :
1)      Rumusan Masalah
a)      Berapa lama daya tahan berdiri karyawan took lulusan SMK ?
b)      Seberapa semangat belajar mahasiswa PTN ?
2)      Hipotesis Deskriptif
Daya tahan berdiri karyawan took lulusan SMK sama dengan 6jam/hari (Ho). Ini merupakan hipotesis nol, karena daya tahan berdiri karyawan lulusan SMK yang ada pada sampel tidak berbeda secara signifikan dengan daya tahan yang ada pada populasi. (angka 6jam/hari merupakan angka hasil pengamatan sementara). Hipotesis alternatfnya adalah: Daya tahan karyawan toko lulusan SMK ≠600 jam. “Tidak sama dengan” ini bisa berarti lebih besar atau lebih kecil dari 600jam.
3)      Hipotesis Statistik (hanya ada berdasarkan data sampel)
Ho    : µ = 6jam/hari
Ha    : µ ≠ 6jam/hari
µ       : Adalah nilai rata – rata populasi yang dihipotesiskan atau ditaksir melalui sampel
b.      Hipotesis Komparatif
Hipotesis komparatif merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah komparatif. Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya berbeda, atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda.
1)      Rumusan Masalah Komparatif
Bagaimana prestasi belajar Mahasiswa PT A bila dibandingkan dengan PT B ?
2)      Hipotesis Komparatif
a)      Ho : Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar mahasiswa PT A dengan PT B, atau terdapat perbedaan persamaan prestasi belajar antara mahasiswa PT A dan B, atau
b)      Ho : Prestasi belajar mahasiswa PT A lebih besar atau sama dengan (≥) PT B (“lebih besar atau sama dengan” = paling besar)
c)      Ho : Prestasi belajar mahasiswa PT A lebih kecil atau sama dengan (≤) PT B (“lebih kecil atau sama dengan” = paling besar)
Hipotesis Alternatif :
a)      Ha : Prestasi belajar mahasiswa PT A lebih besar (atau lebih kecil) dari PT B
b)      Ha : Prestasi belajar mahasiswa PT A lebih kecil daripada PT B
c)      Ha : Prestasi belajar mahasiswa PT A lebih besar daripada PT Y
3)      Hipotesis Statistik dapat dirumuskan sebagai berikut :
a)      Ho : µ1 = µ2                µ1= rata22 (populasi) produktivitas karyawan PT.A
Ha :µ1≠µ2               
b)      Ho : µ1 ≥ µ2
Ha :µ1< µ2                   µ2= raa22 (populasi) produktivitas karyawan PT.Y
c)      Ho : µ1≤ µ2
Ha : µ1> µ2
c.       Hipotesis Asosiatif
Hipotesis asosiatif adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif, yaitu yang mennayakan hubungan antara dua variabel atau lebih.
1)      Rumusan Masalah asosiatif
Adakah hubungan yang + dan signifikan antara kepemimpinan kepsek dengan iklim kerja sekolah ?
2)      Hipotesis Penelitian
Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kepemimpinan kepsek dengan iklim kerja sekolah
3)      Hipotesisi Statistik
Ho : ρ = 0,           ----- 0 berarti tidak ada hubungan
Ha :ρ ≠ 0,           ----- “tidak sama dengan nol” berarti lebih besar atau kurang dari nol berari ada hubungan
                           ρ = nilai korelasi dalam formulasi yang dihipotesiskan
2.      Paradigma Penelitian, Rumusan Masalah dan Hipotesis
Dengan paradigma penelitian, peneliti dapat menggunakan sebagai panduan untuk merumuskan masalah, dan hipotesis penelitiannya, yang selanjutnya dapat digunakan untuk penduan dalam pengumpulan data dan analisis.
3.      Karakteristik Hipotesis yang Baik
a.       Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada berbagai sampel, dan merupakaan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih . (Pada umumnya hipotesis deskriptif tidak dirumuskan)
b.      Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran
c.       Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode – metode ilmiah.



PENUTUP

Kesimpulan

Teori adalah seperangkat konstruk, definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Tingkatan teori dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: micro, meso, dan macro. Level teori micro maksudnya: memerlukan hanya sedikit waktu, tempat, dan sejumlah orang. Konsep, biasanya tidak terlalu abstrak.Level teori meso maksudnya: mencoba menarik benang merah antara micro dan macro. Contoh: teori organisasi dan gerakan sosial, atau komunitas tertentu. Level teori macro: berkenaan dengan hal-hal yang  operasional seperti lembaga sosial, sistem budaya secara keseluruhan, dan keseluruhan masyarakat. Level ini banyak menggunakan konsep dan abstract. Dan fokus teori dibedakan menjadi tiga yaitu teori subtantif, teori formal, dan midle range tori.
Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti.

Kerangka berfikir yang baikakan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel independen dan dependen