PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Teori
Setelah
masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses penelitian
adalah mencari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi hasil
penelitian yang dapat dijadikan sebagiai landasan teoritis untuk pelaksanaan
penelitian (Sumadi Suryabrata,1990). Landasan teori ini perlu ditegakkan agar
penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan
coba-coba bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data.
Setiap
penelitian selalu menggunakan teori, seperti dinyatakan oleh Neumen 2003 “ researchers use thery differently in various
types of research, but some type of theory is present in most social research
“ Kerlinger 1978mengemukakan bahwa
Theory is a set of interrelated contruct, definitions, and proposition that
present a systematic view of phenomena by specifying relation among variabels,
with purpose of explaning and predicting the phenomena. Teori adalah
seperangkat konstruk, definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat
fenomena secara sistematik melalui spesifikasi hubungan antar variabel,
sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Wiliam
Wiersma 1986 menyatakan bahwa teori adalah generalisasi atau kumpulan
generalisasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara
sistematik.
Cooper
and Schindler 2003 mengemukakan bahwa teori merupakan seperangkat konsep,
definisi dan proposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan
untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Sitirahayu
Haditno 1999 menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang penting ,
bila ia lebih banyak dapat melukiskan, menerangkan, dan meramalkan gejala yang
ada.
Mark
1963, dalam Sitirahayu Haditno 1999,
membedakan adanya tiga macam teori yang berhubungan dengan data empiris. Antara
lain:
1. Teori
deduktif : memberikan keterangan yang dimulai dari perkiraan atau pikiran
spekulatif tertentu ke arah data akan diterangkan.
2. Teori
induktif adalah cara menerangkan dari data ke arah teori. Dalam bentuk ekstrim
titik pandang yang positivistik ini dijumpai pada kaum behaviost.
3. Teori
fungsional : di sini tampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan
teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori
kembali mempengaruhi data.
Berdasarkan
tiga pandangan ini dapatlah kesimpulan bahwa teori dapat dipandang sebagai
berikut.
1. Teori
merunjuk pada sekelompok hukum yang tersusun secara logis.
2. Suatu
teori juga dapat merupakan suatu rangkuman tertulis mengenai suatu kelompok
hukum yang diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu.
3. Suatu
teori juga dapat menunjuk pada suatu cara menerangkan yang menggeneralisasikan.
Kesimpulan
bahwa, suatu teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau
sistem pengertian ini diperoleh melaui, jalan yang sistematis. Suatu teori
harus dapat diuji kebenarannya, bila tidak, dia bukan suatu teori.
Teori
semacam ini mempunyai dasar empiris. Suatu teri dapat memandang gejala yang
dihadapi dari sudut yang berbeda-beda, misaalnya dapat dengan menerangkan,
tetapi dapat pula dengan menganalisa dan menginterprestassikan secara kritis
(Habermas, 1968).
Teori
adalah jalur logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, definisi
dan proposisi yang disusun secara sistematis. Teori mempunyai 3 fungsi yaitu
1. Menjelaskan
2. Meramalkan
3. Pengendalian
Dalam
bidang administrasi pendidikan Hoy dan Miskel 2001 mengemukakan teori bahwa teori merupakan
seperangkat konsep, asumsi, dan generalisasi yang dapat digunakan untuk
mengungkapkan dan menjelaskan perilaku dalam berbagai organisasi.
Hoy dan Miskel 2001 mengemukakan bahwa
komponen teori itu meliputi konsep dan asumsi. Konsep merupakan istilah yang
abstrak dan bermakna generalisasi. Sedangkan asumsi merupakan pernyataan
diterima kebenarannya tanpa pembuktian. Asumsi dalam bidang administrasi
pendidikan
1. Administrasi
merupakan generalisasi tentang perilaku semua manusia dalam organisasi
2. Administrasi
merupakan proses pengarahan dan pengendalian kehidupan dalam organisasi sosial.
B.
Tingkatan
dan Fokus Teori
Numan
2003 mengemukakan tingkatan teori menjadi tiga yaitu, micro, meso, dan macro. Micro level theory: small slices of time,
space, or a number of people. The concept are usually not very abstract.
Meso-level theory: attempts to link macro and micro levels or to operate at an
intermediate level. Macro level theory: concerns the operation of larger
aggregates such as social institutions, entire culture systems, and whole
societies. It uses more concepts that are abstract. Numan (dalam Sugiyono, 2008) mengatakan bahwa tingkatan teori dapat
dibedakan menjadi tiga, yaitu: micro,
meso, dan macro.
- Level teori micro maksudnya: memerlukan hanya
sedikit waktu, tempat, dan sejumlah orang. Konsep, biasanya tidak terlalu
abstrak.
- Level teori meso maksudnya: mencoba menarik
benang merah antara micro dan macro. Contoh: teori organisasi dan gerakan
sosial, atau komunitas tertentu.
- Level teori macro: berkenaan
dengan hal-hal yang operasional
seperti lembaga sosial, sistem budaya secara keseluruhan, dan keseluruhan
masyarakat. Level ini banyak menggunakan konsep dan abstract.
Dan
fokus teori dibedakan menjadi tiga yaitu teori subtantif, teori formal, dan midle range tori. Substantive theory is
developed for a specific area of social concern, such as deliquent gangs,
strikes, diforce, or ras relation. Formal theory is developed for a broad
conceptual area in general theory, such as deviance; socialization or power.
Middle range theory is slightly more abstract than empirical generalization or
specific hypothesis. Middle range theories can be formal or substantive. Middle
range theory is principally used in sociology to guide empirical inquiry.Teori
yang digunakan untuk perumusan hipotesis yang akan diuji melalui pengumpulan
data adalah teori subtantif, karena teori ini lebih focus berlaku untuk objek
yang akan diteliti. Numan mengatakan bahwa fokus teori dapat dibedakan menjadi
tiga, yaitu: teori substantif, teori formal, dan teori pertengahan (antara):
·
Teori
substantif adalah pengembangan dari hal-hal yang khusus, seperti: aksi
pemogokan kerja, kelompok anak nakal, perceraian, atau pertentangan antar golongan.
·
Teori formal
adalah konsep yang global di dalam ilmu umum, seperti penyimpangan –
penyimpangan dalam bidang sosial dan kekuasaan.
·
Teori
pertengahan (antara) adalah sedikit lebih abstrak. Bentuknya dapat formal.
Biasanya digunakan didalam ilmu sosiologi.
C.
Kegunaan
Teori dalam Penelitian
Cooper & Schindler (2003) kenjelaskan bahwa
kegunaan teori adalah:
- Theory norrows the range of fact we need to study
(Teori norrows kisaran kenyataan kita perlu
mempelajari)
- Theory suggest which research approachesare
likely to yield the greatesmearning (Teori menyarankan mana
penelitian approachesare kemungkinan untuk menghasilkan greatesmearning
yang)
- Theory suggest a system for the research to
impose on data in order to classify them in the most meaningful way (Teori
menunjukkan suatu sistem untuk penelitian untuk memaksakan data untuk
mengklasifikasikan mereka dengan cara yang paling bermakna)
- Theory summarizes what is known about object of
study and states the uniformmities that lie beyond immediate observation (Teori
merangkum apa yang diketahui tentang objek studi dan menyatakan
uniformmities yang berada di luar pengamatan langsung)
- Theory can be used to predict further fact that
should be found (Teori dapat digunakan untuk memprediksi fakta
lebih lanjut yang harus ditemukan)
Wiliam
Wiersma (1986) basically, theory helps provide a frame work by serving as
the point of departure for pursuit of a research problems. The theory
identifies the crucial factors. It provides a guide for systematizing and
interrelating the various facets of research/ How ever, besider providing the
systematic view of the factors under study, the theory also may very well
identify gaps, weak points, and inconsistencies that indicate the need for
additional research. Also, the development of theory may light the way for
continued research on the phenomena under study. Another function of theory is
provide one or more generalization that can be test and used in practical
applications and further research”.
Wiliam Wiersma (1986) pada dasarnya, teori membantu menyediakan kerangka kerja
dengan menjabat sebagai titik tolak u/ mengejar suatu masalah penelitian. Teori
ini meng-identifikasi faktor-faktor penting. Ini memberikan panduan bagi
sistematisasi dan interrelating berbagai segi penelitian / Bagaimana pernah,
besider memberikan pandangan sistematis dari faktor-faktor yang diteliti, teori
juga mungkin sangat baik mengidentifikasi kesenjangan, titik-titik lemah, dan
inkonsistensi yg menunjukkan perlunya penelitian tambahan. Selain itu,
perkembangan teori dapat menerangi jalan untuk penelitian lanjutan pada
fenomena yang diteliti. Fungsi lain dari teori adalah menyediakan satu atau
lebih generalisasi yang dapat menguji dan digunakan dalam aplikasi praktis dan
penelitian lebih lanjut .
Gawin (N. S. Sukmadinata, 2005)
menyata-kan bahwa fungsi teori a the theory help the researcher to analyze
data to make shorthand summarization or synopsis of data and relations, and
suggest new things to try out” (teori ini membantu peneliti untuk
menganalisis data u/ membuat summarization singkatan atau sinopsis data dan
hubungan, dan menyarankan hal-hal baru untuk menco)
Ciri-ciri teori yang baik menurut Mouly adalah:
- A theoritical system must permit deduction which
be tested emperically (Suatu sistem teori harus memungkinkan deduksi
yang akan diuji emperically)
- A theory mus be compatible both with observation
and with previously validated theory (Sebuah teori mus akan
kompatibel baik dengan observasi dan dengan teori sebelumnya divalidasi)
- Theories must be stated in simple terms, that
theory is best which explains the most in the simplest form (Teori
harus dinyatakan dalam istilah yang sederhana, teori yang terbaik yang
menjelaskan paling dalam bentuk yang paling sederhana)
- Scientofic theories must be based on empirical
facts and relatioship (Teori-teori ilmiah harus didasarkan pada fakta
empiris dan relatioship).
Dalam kaitan
dengan kegiatan penelitian, fungsi teori adalah:
- Digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang
lingkup variabel yang akan diteliti
- Pediksi dan pemandu untuk menemukan fakta – untuk
merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian, karena pada
dasarnya hipotesis itu merupakan penyataan yang bersifat prediktif
- Digunakan untuk membahas hasil penelitian, dan
selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dalam upaya pemecahan
masalah
Semua penelitian bersifat ilmiah,
oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam penelitian
kuantitatif, teori yang digunakan harus sudah jelas, karena teori di sini akan
berfungsi untuk memperjelas masalah yang akan diteliti, sebagai dasar untuk
merumuskan hipotesis, dan sebagai referensi untuk menyusun instrumen
penelitian. Oleh karena itu landasan teori dalam proposal penelitian
kuantitatif harus sudah jelas teori apa yang akan dipakai.
Teori-teori pendidikan dapat dibagi
menjadi teori umum pendidikan dan teori khusus pendidikan. Teori umum
pendidikan dapat dibagi menjadi filsafat-filsafat pendidikan (filsafat ilmu
pendidikan dan filsafat praktek pendidikan) dan Ausland pedagogik. Teori khusus
pendidikan dapat dibagi menjadi teknologi pendidikan (manajemen pendidikan,
pengembangan kurikulum, model-model belajar mengajar dan evaluasi pendidikan)
dan ilmu pendidikan (ilmu pendidikan makro dan mikro).
Redja Mudyaharjo 2002 dalam
(Sugiyono, 2010), mengemukakan bahwa, sebuah teori pendidikan adalah sebuah
sistem konsep yang terpadu, menerangkan dan prediktif tentang
peristiwa-peristiwa pendidikan. Sebuah teori ada yang berperan sebagai asumsi
atau titi tolak pemikiran pendidikan, dan ada pula yang berperan sebagai
definisi atau keterangan yang menyatakan makna. Asumsi pokok pendidikan adalah:
- Pendidikan adalah aktual, artinya pendidikan
bermula dari kondisi-kondisi aktual dari individu yang belajar dan
lingkungan belajarnya
- Pendidikan adalah normatif, artinya pendidikan
tertuju pada mencapai hal-hal yang baik atau norma-norma yang baik
- pendidikan adalah suatu proses pencapaian tujuan,
artinya pendidikan berupa serangkaian kegiatan yang bermula dari
kondisi-kondisi aktual dari individu yang belajar, tertuju pada pencapaian
individu yang diharapkan.
Dalam kaitannya dengan kegiatan
penelitian, maka fungsi teori yang pertama digunakan untuk memperjelas dan
mempertajam ruang lingkup, atau konstruk variabel yang akan diteliti. Fungsi
teori yang kedua adalah untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen
penelitian, karena pada dasarnya hipotesis itu merupakan pernyataan yang
bersifat prediktif. Selanjutnya fungsi teori yang ketiga digunakan mencandra
dan membahas hasil penelitian, sehingga selanjutnya digunakan untuk memberikan
saran dan upaya pemecahan masalah
D.DeskripsiTeori
Deskripsi
teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (bukan
sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang
relevan dengan variabel yang diteliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu
dikemukakan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis
tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Bila dalam suatu penelitian
terdapat tiga variabel independen dan satu dependen, maka kelompok teori yang
perlu dideskripsikan ada empat kelompok teori, yaitu kelompok teori yang
berkenaan dengan variabel independen dan satu dependen. Oleh karena itu,
semakin banyak variabel yang diteliti, maka akan semakin banyak teori yang dikemukakan
Deskripsi teori dalam suatu
penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (dan bukan sekedar
pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan
dengan variabel yang diteliti. Deskripsi teori paling tidak berisi tentang
penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan
uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang
lingkup, kedudukan, dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan
diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.
Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian
teori adalah sebagai berikut:
- Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah
variabelnya
- Cari sumber-sumber bacaan yang banyak dan relevan
dengan setiap variabel yang diteliti.
- Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik
yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti. Untuk referensi yang
berbentuk laporan penelitian lihat penelitian permasalahan yang digunakan,
tempat penelitian, sampel sumber data, teknik pengumpulan data, analisis
dan saran yang diberikan.
- Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti
pada setiap sumber bacaan, kemudian bandingkan antara satu sumber dengan
sumber lainnya dan dipilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang
akan dilakukan.
- Baca seluruh isi topik buku sesuai dengan
variabel yang akan diteliti lakukan analisis renungkan, dan buatlah
rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.
- Deskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari
berbagai sumber ke dalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri.
Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau yang digunakan sebagai landasan
untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan.
E.
Kerangka Berfikir
Uma
Sekaran dalam bukunya Business Research (1992)
dalam Sugiyono (2014:84) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir merupakan model
konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai factor yang
telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
Kerangka
berfikir yang baikakan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel
yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar
variabel independen dan dependen.Kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu
dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau
lebih.Apabila penelitian hanya membahas sebuah variabel atau lebih secara
mandiri, maka yang dilakukan peneliti di samping mengemukakan deskripsi
teoritis untuk masing – masing variabel, juga argumentasi terhadap variasi
besaran yang diteliti.
Penelitian
yang berkenaan dengan dua variabel atau lebih, biasanya dirumuskan hipotesis
yang berbentuk komparasi maupun hubungan.Oleh karena itu, dalam rangka menyusun
hipotesis penelitian yang berbentuk hubungan maupun komparasi, maka perlu
dikemukakan kerangka berfikir.
Sebuah
teori harus menguasai teori – teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam
menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis.Kerangka pemikiran ini
merupakan penjelasan sementara terhadap gejala – gejala yang menjadi obyek
permasalahan.Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bisa meyakinkan
sesame ilmuwan, adalah alur – alur pikiran yang logis dalam membangun suatu
kerangka berfikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis.Jadi
kerangka berfikir merupakan sintesa tentang hubungan antar variabel yang
disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan.Berdasarkan teori – teori
yang telah dideskripsikan tersebut, selanjutnya dianalisis secara kritis dan
sistematis, sehingga menghasilkan sintesa tentang hubungan antar variabel yang
diteliti.Sintesa tentang hubungan variabel tersebut, selanjutnya digunakan
untuk merumuskan hipotesis. Proses penyususnan kerangka berfikir untuk
merumuskan hipotesis, yaitu :
1. Menetapkan
Variabel yang diteliti
Untuk
menentukan kelompok teori apa yang perlu dikemukakan dalam menyususn kerangka
berfikir untuk pengajuan hipotesis maka harus ditetepkan terlebih dahulu
variabel penelitiannya. Berapa jumlah variabel yang diteliti, dan apakah nama
setiap variabel, merupakan titik tolak untuk menentukan teori yang akan
dikemukakan.
2. Membaca
Buku dan Hasil Penelitian (HP)
Setelah
variabel ditentukan, maka langkah berikutnya adlah membaca buku – buku dan
hasil penelitian yang relevan.Buku – buku yang dibaca dapat berbentuk buku tes,
ensiklopedia, dan kamus.Hasil penelitian yang dapat dibaca adalah laporan
penelitian, journal ilmiah, skripsi, tesis dan disertasi.
3. Deskripsi
Teori dan Hasil Penelitian (HP)
Dari
buku dan hasil penelitian yang dibaca akan dapat dikemukakan teori –teori yang
berkenaan dengan variabel yang diteliti. Seperti telah dikemukakan, deskripsi
teori berupa tentang, definisi terhadap masing – masing variabel yang diteliti,
uraian rinci tentang ruang lingkup setiap variabel satu dengan yang lain dalam
konteks penelitian.
4. Analisis
Kritis terhadap Teori dan Hasil Penelitian
Pada
tahap ini peneliti melakukan analisis secara kritis terhadap teori – teori dan
hasil penelitian yang telah dikemukakan. Dalam analisis ini peneliti akan
mengkaji apakah teori –teori dan hasil penelitian yang telah ditetapkan itu
betul – betul sesuai dengan obyek penelitian atau tidak, karena sering terjadi
teori teori yang berasal dari luar tidak sesuai untuk penelitian di dalam
negeri.
5. Analisis
Komparatif terhadap Teori dan Hasil Penelitian
Analisis
komparatif dilakukan dengan cara membandingkan antara teori satu dengan teori
yang lain, dan hasil penelitian satu dengan penelitian yang lain. Melalui
analisis komparatif ini peneliti dapat memadukan antara teori satu dengan teori
yang lain, atau mereduksi bila dipandang terlalu luas.
6. Sintesa
Kesimpulan
Melalui analisis kritis
dan komparatif terhadap teori – teori dan hasil penelitian yang relevan dengan
semua variabel yang diteliti, selanjutnya peneliti dapat melakukan sintesa atau
kesimpulan sementara.Perpaduan sintesa antara variabel yang selanjutnya dapat
digunakan untuk merumuskan hipotesis.
7. Kerangka
Berfikir
Setelah sintesa atau
kesimpulan sementara dapat dirumuskan maka selanjutnya disusun kerangka
berfikir.Kerangka berfikir yang dihasilkan dapat berupa kerangka berfikir yang
asosiatif atau hubungan maupun komparatif atau perbandingan.
8. Hipotesis
Berdasarkan kerangka
berfikir tersebut selanjutnya disusun hipotesis. Bila kerangka berfikir
berbunyi “jika guru kompeten, maka hasil
belajar akan tinggi” , maka hipotesisnya berbunyi “ada hubungan yang positif
dan signifikan antara kompetensi guru dengan hasil belajar”. Selanjutnya Uma
Sekaran (1992) dalam Sugiyono (2014:95) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir
yang baik, memuat hal – hal sebagai berikut :
1) Variabel
– variabel yang akan diteliti harus dijelaskan.
2) Diskusi
dalam kerangka berfikir harus dapat menunjukan dan menjelaskan pertautan atau
hubungan antar variabel yang diteliti, dan ada teori yang mendasari
3) Diskusi
juga harus menunjukan dan menjelaskan apakah hubungan antar variabel itu
positif atau negative, berbentuk simetris, kausal atau interaktif (timbal
balik)
4) Kerangka
berfikir tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam bentuk diagram (paradigm
penelitian), sehingga pihak lain dapat memahami kerangka piker yang dikemukakan
dalam penelitian.
F.
Hipotesis
Hipotesis
merpakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan
masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.Dikatakan
sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan,
belum didasarkan pada fakta – fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan
data.Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap
rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik dengan data.
Penelitian
yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang menggunakan pendekatan
kuantitatif.Pada penelitian kualitatif, tidak dirumuskan hipotesis, tetapi
justru duharapkan dapat ditemukan hipotesis. Selanjutnya hipotesis tersebut
akan diuji oleh peneliti dengan menggunakan pendekatan kuantiatif.
Dalam
hal ini perlu dibedakan pengertian hipotesis penelitian dan hipotesis
statistic.Pengertian hipotesis penelitian seperti telah dikemukakan di atas.
Selanjutnya statistic itu ada, bila [enelitian bekerja dengan sampel. Jika
penelitian tidak menggunakan sampel, maka tidak ada hipotesis statistic.
Dalam
suatu penelitian, dapat terjadi ada hipotesis penelitian tetapi tidak ada
hipotesis statistic. Penelitian yang dilakukan pada seluruh populasi mungkin
akan terdapat hipotesis penelitian tetapi tidak ada hipotesis statistic. Ingat
bahwa hipotesis itu berupa jawaban sementara terhadap rumusan masalah dan
hipotesis yang akan diuji dinamakan hipotesis kerja. Sebagai lawannya adlah
hipotesis nol (nihil).Hipotesis kerja disusun berdasarkan atas teori yang
dipandang handal, sedangkan hipotesis nol dirumuskan karena teori yang
digunakan masih diragukan kehandalannya.
Contoh
hipotesis penelitiannya :
1. Kemmapuan
bahasa asing murid – murid SLTA itu rendah (hipotesis deskriptif untuk
populasi, hipotesis ini sering tidak dirumuskan dalam penelitian sosial)
2. Tidak
terdapat perbedaan prestasi belajar antara Sekolah Negeri dan Swasta.
(hipotesis komparatif, untuk populasi)
3. Ada
hubungan positif antara penghasilan orangtua dengan ketersediaan fasilitas
belajar anak. (hipotesis asosiatif, untuk populasi.)
Hipotesis
statistic diperlukan untuk menguji apakah hipotesis penelitian yang hanya diuji
dengan data sampel itu dapat diberlakukan untuk populasi atau tidak. Dalam
pembuktian ini akan muncul istilah signifikasi, atau taraf kesalahan atau
kepercayaan dari pengujian,.Signifikan artinya hipotesis penelitian yang telah
terbukti pada sampel itu (baik deskriptif, komparatif maupun asosiatif) dapat
diberlakukan ke populasi.
Terdapat
dua macam hipotesis penelitian yaitu hipotesis kerja dan hipotesi nol.
Hipotesis kerja dinyatakan dalam kalimat positif dan hipotesis nol dinyatakan
dalam kalimat negative. Dalam statistic juga terdapat dua macam hipotesis,
yaitu hipotesis kerja dan hipotesis alternative (hipotesis alternative tidak
sama dengan hipotesis kerja).
Dalam
hipotesis statistic, yang diuji adalah hipotesis nol, hipotesis yang menyatakan
tidak ada perbedaan antara data sampel dan data populasi.Yang diuji hipotesis
nol karena peneliti tidak berharap ada perbedaan antara sampel dan populasi
atau statistic dan parameter.Parameter adalah ukuran – ukuran berkenaan dengan
populasi, dan statistic di sini diartikan sebagai ukuran – ukuran yang
berkenaan dengan sampel.
1.
Bentuk
– bentuk Hipotesis
Dilihat
dari tingkat eksplanasinya, maka bentuk rumusan masalah ada tiga yaitu rumusan
masalah deskriptif (variabel mandiri), komparatif (perbandingan), dan asosiatif
(hubungan).Maka hipotesis penelitian juga ada tiga yaitu hipotesis komparatif,
deskriptif dan asosiatif.
a. Hipotesis
Deskriptif
Hipotsis
deskriptif merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu yang
berkenaan dengan variabel mandiri.
Contoh
:
1) Rumusan
Masalah
a) Berapa
lama daya tahan berdiri karyawan took lulusan SMK ?
b) Seberapa
semangat belajar mahasiswa PTN ?
2) Hipotesis
Deskriptif
Daya
tahan berdiri karyawan took lulusan SMK sama dengan 6jam/hari (Ho). Ini
merupakan hipotesis nol, karena daya tahan berdiri karyawan lulusan SMK yang
ada pada sampel tidak berbeda secara signifikan dengan daya tahan yang ada pada
populasi. (angka 6jam/hari merupakan angka hasil pengamatan sementara).
Hipotesis alternatfnya adalah: Daya tahan karyawan toko lulusan SMK ≠600 jam.
“Tidak sama dengan” ini bisa berarti lebih besar atau lebih kecil dari 600jam.
3) Hipotesis
Statistik (hanya ada berdasarkan data sampel)
Ho : µ = 6jam/hari
Ha : µ ≠ 6jam/hari
µ : Adalah nilai rata – rata populasi yang
dihipotesiskan atau ditaksir melalui sampel
b. Hipotesis
Komparatif
Hipotesis
komparatif merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah komparatif.
Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya berbeda, atau
keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda.
1) Rumusan
Masalah Komparatif
Bagaimana prestasi
belajar Mahasiswa PT A bila dibandingkan dengan PT B ?
2) Hipotesis
Komparatif
a) Ho
: Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar mahasiswa PT A dengan PT B, atau
terdapat perbedaan persamaan prestasi belajar antara mahasiswa PT A dan B, atau
b) Ho
: Prestasi belajar mahasiswa PT A lebih besar atau sama dengan (≥) PT B (“lebih
besar atau sama dengan” = paling besar)
c) Ho
: Prestasi belajar mahasiswa PT A lebih kecil atau sama dengan (≤) PT B (“lebih
kecil atau sama dengan” = paling besar)
Hipotesis
Alternatif :
a) Ha
: Prestasi belajar mahasiswa PT A lebih besar (atau lebih kecil) dari PT B
b) Ha
: Prestasi belajar mahasiswa PT A lebih kecil daripada PT B
c) Ha
: Prestasi belajar mahasiswa PT A lebih besar daripada PT Y
3) Hipotesis
Statistik dapat dirumuskan sebagai berikut :
a) Ho
: µ1 = µ2 µ1=
rata22 (populasi) produktivitas karyawan PT.A
Ha :µ1≠µ2
b) Ho
: µ1 ≥ µ2
Ha :µ1< µ2 µ2= raa22
(populasi) produktivitas karyawan PT.Y
c) Ho
: µ1≤ µ2
Ha : µ1>
µ2
c. Hipotesis
Asosiatif
Hipotesis asosiatif
adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif, yaitu yang
mennayakan hubungan antara dua variabel atau lebih.
1) Rumusan
Masalah asosiatif
Adakah hubungan yang +
dan signifikan antara kepemimpinan kepsek dengan iklim kerja sekolah ?
2) Hipotesis
Penelitian
Terdapat hubungan yang
positif dan signifikan antara kepemimpinan kepsek dengan iklim kerja sekolah
3) Hipotesisi
Statistik
Ho : ρ = 0, ----- 0 berarti tidak ada hubungan
Ha
:ρ ≠ 0, ----- “tidak sama dengan
nol” berarti lebih besar atau kurang dari nol berari ada hubungan
ρ = nilai korelasi
dalam formulasi yang dihipotesiskan
2.
Paradigma
Penelitian, Rumusan Masalah dan Hipotesis
Dengan
paradigma penelitian, peneliti dapat menggunakan sebagai panduan untuk
merumuskan masalah, dan hipotesis penelitiannya, yang selanjutnya dapat
digunakan untuk penduan dalam pengumpulan data dan analisis.
3.
Karakteristik
Hipotesis yang Baik
a. Merupakan
dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada
berbagai sampel, dan merupakaan dugaan tentang hubungan antara dua variabel
atau lebih . (Pada umumnya hipotesis deskriptif tidak dirumuskan)
b. Dinyatakan
dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran
c. Dapat
diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode – metode ilmiah.
PENUTUP
Kesimpulan
Teori
adalah seperangkat konstruk, definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk
melihat fenomena secara sistematik melalui spesifikasi hubungan antar variabel,
sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Tingkatan teori dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: micro, meso, dan macro. Level teori micro maksudnya: memerlukan hanya sedikit waktu, tempat, dan
sejumlah orang. Konsep, biasanya tidak terlalu abstrak.Level teori meso maksudnya: mencoba menarik benang
merah antara micro dan macro. Contoh: teori organisasi dan gerakan sosial, atau
komunitas tertentu. Level teori macro: berkenaan dengan hal-hal yang operasional seperti lembaga sosial, sistem
budaya secara keseluruhan, dan keseluruhan masyarakat. Level ini banyak
menggunakan konsep dan abstract. Dan fokus teori
dibedakan menjadi tiga yaitu teori subtantif, teori formal, dan midle range tori.
Deskripsi teori
dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (bukan sekedar
pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan
dengan variabel yang diteliti.
Kerangka
berfikir yang baikakan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel
yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar
variabel independen dan dependen